sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Tim SAR gabungan mengerahkan 30 personel untuk mengevakuasi jenazah yang diduga korban pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Senin (19/1/2026) pagi.

Proses evakuasi dilakukan melalui jalur darat mengingat kondisi medan dan cuaca yang tidak memungkinkan penggunaan jalur udara.

Tim yang diterjunkan merupakan SAR Unit Rescue (SRU) 4, terdiri atas personel TNI, Brimob, Polisi Hutan (Polhut), serta sejumlah potensi SAR lainnya.

Tim tersebut dipimpin oleh Arman (38), warga Desa Tompobulu, yang menjadi orang pertama menemukan lokasi jenazah di dasar jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter.

Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500

Sebelum diberangkatkan ke lokasi, seluruh personel SAR mengikuti apel dan pengarahan yang dipimpin Asisten Operasi (Asrem) Kodam XIV Hasanuddin, Kolonel Inf Abi Kusnianto, didampingi Kasi Ops Basarnas Makassar, Andi Sultan.

Dalam arahannya, Kolonel Abi menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap setiap anggota tim selama menjalankan misi evakuasi.

“Setiap komandan tim agar terus memantau dan mengawasi anggotanya setiap saat selama berada di lapangan,” ujar Kolonel Inf Abi Kusnianto.

Usai memberikan arahan, Kolonel Abi memimpin doa bersama demi kelancaran dan keselamatan seluruh personel dalam proses evakuasi korban pesawat ATR 42-500 tersebut.

Kolonel Abi juga menyampaikan bahwa selain SRU 4, terdapat empat tim SAR lainnya yang dikerahkan menuju lokasi melalui jalur Kabupaten Maros. Tim-tim tersebut berasal dari unsur Basarnas, TNI-Polri, Polhut, serta masyarakat setempat.

“Empat tim ini akan difokuskan untuk menjangkau dasar jurang, karena serpihan pesawat diperkirakan jatuh hingga ke bagian paling bawah,” jelas Abi Kusnianto.

Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat proses pencarian dan memastikan seluruh bagian lokasi dapat dijangkau oleh tim penyelamat.

Sementara itu, Kasi Ops Basarnas Makassar Andi Sultan menyatakan bahwa pengerahan SRU 4 difokuskan pada proses evakuasi jenazah korban.

“Kami memfokuskan upaya pada evakuasi korban, sembari tetap melakukan pencarian di sekitar lokasi,” kata Andi Sultan.

Ia menjelaskan bahwa jenazah korban pesawat ATR 42-500 yang berjenis kelamin laki-laki akan dievakuasi sepenuhnya melalui jalur darat.

Hal ini disebabkan kondisi cuaca dan kontur lereng Gunung Bulusaraung yang tidak memungkinkan penggunaan helikopter.

“Karena cuaca dan kondisi medan tidak mendukung evakuasi udara, kami memilih menggunakan jalur masyarakat atau jalur darat,” ujarnya.

Hingga saat ini, proses evakuasi masih terus berlangsung dengan mengutamakan keselamatan personel serta ketelitian dalam menjangkau lokasi jurang yang curam.