Perbedaan Nyeri Ulu Hati Akibat GERD dan Penyakit Jantung, Yuk Kenali Gejalanya!
HAIJAKARTA.ID – Nyeri ulu hati kerap dianggap sepele dan sering dikaitkan dengan penyakit lambung.
Namun, dalam kondisi tertentu, keluhan ini bisa menjadi tanda gangguan serius, termasuk penyakit jantung.
Memahami Perbedaan Nyeri Ulu Hati Akibat GERD dan Penyakit Jantung menjadi penting agar penanganan tidak terlambat.
Perbedaan Nyeri Ulu Hati Akibat GERD dan Penyakit Jantung
Berikut penjelasan lengkap yang perlu diketahui masyarakat:
1. Nyeri Ulu Hati Akibat Penyakit Jantung Muncul Mendadak
Nyeri ulu hati akibat penyakit jantung umumnya datang secara tiba-tiba dan disertai rasa nyeri di dada yang dapat menjalar ke rahang, leher, hingga lengan.
Intensitas nyeri bisa meningkat dalam hitungan menit.
Rasa sakit kerap digambarkan seperti dada tertindih, terbakar, atau tertusuk, dan biasanya bertambah berat saat melakukan aktivitas fisik maupun saat mengalami stres.
Selain itu, nyeri ulu hati akibat penyakit jantung sering disertai gejala lain, seperti:
- Jantung berdebar
- Sesak napas, terutama pada perempuan
- Keringat dingin
- Tubuh terasa lemas tanpa sebab jelas
- Sensasi hampir pingsan
Tenaga medis menegaskan, jika nyeri ulu hati disertai gejala tersebut, pasien harus segera mendapatkan pertolongan darurat.
“Keluhan nyeri ulu hati yang mengarah pada gangguan jantung perlu segera ditangani di IGD untuk mencegah komplikasi yang lebih serius,” demikian anjuran medis.
2. Nyeri Ulu Hati Lebih Fluktuatif
Berbeda dengan penyakit jantung, nyeri ulu hati akibat GERD atau sakit maag bisa muncul kapan saja, baik pagi, siang, maupun malam hari.
Keluhan ini sering dirasakan sebagai sensasi panas atau terbakar di perut bagian atas, terkadang disertai nyeri dada ringan.
Gejala nyeri ulu hati akibat gangguan lambung antara lain:
- Rasa panas atau perih di ulu hati
- Mual hingga muntah
- Nyeri memburuk saat berbaring
- Keluhan mereda setelah minum obat penurun asam lambung
- Perut terasa kembung atau begah setelah makan
Kondisi ini sering dipicu oleh pola makan yang tidak teratur, stres, serta konsumsi makanan pedas, asam, berlemak, dan minuman berkafein atau bersoda.
3. Respons Terhadap Obat Menjadi Pembeda Penting
Salah satu perbedaan nyeri ulu hati akibat GERD dan penyakit jantung dapat dilihat dari respons tubuh terhadap obat.
Nyeri dada atau ulu hati akibat GERD umumnya mereda setelah mengonsumsi obat penurun asam lambung. Sebaliknya, nyeri akibat serangan jantung tidak membaik meski sudah minum obat maag.
“Nyeri dada akibat gangguan jantung tidak akan hilang hanya dengan obat asam lambung,” penjelasan medis menegaskan.
4. Perubahan Posisi Tubuh Berpengaruh pada GERD
Nyeri dada atau ulu hati akibat GERD biasanya semakin terasa setelah makan, membungkuk, berbaring, atau saat mengubah posisi tubuh yang memicu naiknya asam lambung. Kondisi ini jarang terjadi pada nyeri akibat serangan jantung.
Sebaliknya, nyeri dada akibat penyakit jantung tidak dipengaruhi oleh posisi tubuh.
Kunjungi Dokter
Karena nyeri ulu hati dapat menjadi gejala berbagai penyakit, pemeriksaan medis sangat dianjurkan jika keluhan:
- Berlangsung lebih dari satu minggu
- Mengganggu aktivitas
- Semakin berat dalam waktu singkat
Dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti tes darah, EKG, rontgen, hingga endoskopi untuk memastikan penyebab keluhan.
“Setelah diagnosis ditegakkan, pengobatan akan disesuaikan dengan penyebab nyeri ulu hati yang dialami pasien,” jelas tenaga kesehatan.

