sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Sebanyak 70 siswa SMA 2 Kudus, Jawa Tengah, dilarikan ke berbagai rumah sakit karena diduga keracunan setelah menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG). Mereka mengeluhkan gejala seperti pusing, diare, dan mulas yang membuat pihak berwenang bergerak cepat menangani kejadian ini.

Kejadian tersebut terjadi pada, Kamis (29/1/2026) akibat nya pada siswa yang mengalami gejala keracunan tersebut dilarikan ke 5 Rumah Sakit yang berbeda untuk pemeriksaan lebih lanjut.

70 Siswa SMA 2 Kudus Dilarikan ke RS Usai Makan MBG

Kejadian dugaan keracunan ini terjadi pada Kamis (29/1/2026), di mana 70 siswa mengalami keluhan pusing, mulas, dan diare setelah mengonsumsi menu MBG di sekolah.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, memastikan korban langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

“Begitu ada laporan anak-anak mengalami keluhan seperti mules, pusing, dan diare, semuanya langsung kita bawa ke rumah sakit untuk ditangani,” kata Sam’ani, pada Kamis (29/1/2026).

Diketahui, dari jumlah siswa yang dirawat, 22 dirawat di RSUD Loekmono Hadi Kudus, 12 di Rumah Sakit Satkes, 10 di RS Mardihayu, 10 di RSI, serta 11 lainnya di RS Kumala Siwi.

Kondisi Korban dan Pemeriksaan Lanjutan

Salah satu siswa korban, Ilham Yusuf, mengaku mulai merasakan gejala mulas setelah makan MBG pada Rabu (28/1/2026) sekitar pukul 10.30 WIB.

Ia menjelaskan, jika awalnya mengira hanya sakit biasa namun ternyata temannya yang lain mengalami hal yang serupa.

“Awalnya saya kira sakit biasa. Tapi hari ini, ketika masuk sekolah ternyata banyak teman yang mengalami hal yang sama,” katanya.

Ilham yang kemudian dirawat di RSUD Loekmono Hadi Kudus mengaku kondisinya membaik setelah mendapatkan infus.

“Alhamdulillah setelah diinfus, rasa mual sudah hilang,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur RSUD Loekmono Hadi Kudus, Abdul Hakam, mengungkapkan bahwa seluruh pasien masih menjalani proses observasi.

“Jika kondisi membaik, pasien diizinkan pulang dan menjalani rawat jalan,” katanya.

Selain itu, Dinas Kesehatan bersama instansi terkait terus melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pengambilan sampel makanan, feses, dan bahan lainnya guna memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut.

Biaya Perawatan Ditanggung BPJS

Terkait biaya perawatan, Sam’ani memastikan bahwa seluruh siswa yang dirawat tidak dikenakan biaya apapun karena akan ditanggung BPJS Kesehatan, dan jika yang belum mempunyai akan segera diaktifkan.

“Semua gratis. Ini masuk kejadian luar biasa. Kabupaten Kudus sudah Universal Health Coverage (UHC) 99,5 persen, sehingga seluruhnya ditanggung BPJS Kesehatan. Bagi yang belum memiliki BPJS, akan langsung diaktifkan hari ini,” ujarnya.

Upaya Pemerintah dan Aparat Tangani Dugaan Keracunan MBG

Pemerintah Kabupaten Kudus bersama TNI dan Polri secara sigap mengambil langkah antisipasi terhadap dugaan keracunan ini.

Sam’ani menegaskan penanganan cepat ini sebagai bentuk komitmen mencegah dampak lebih luas akibat kejadian luar biasa tersebut agar kejadian ini tidak terulang kembali di Kabupaten Kudus.

“Ini menjadi bahan evaluasi agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali di Kabupaten Kudus,” kata Sam’ani

Ia juga mengatakan, jika pihaknya akan mengumpulkan para koordinator dan penanggung jawab SPPG Kabupaten Kudus untuk melakukan apel hingga pembekalan.

“Nantinya, para koordinator dan penanggung jawab satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di Kabupaten Kudus akan kami kumpulkan untuk apel, briefing dan pembekalan,” jelasnya.

Sam’ani menambahkan, bahwa pengumpulan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebenarnya sudah direncanakan sebagai langkah menjaga kualitas pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Namun, setelah kejadian ini, evaluasi akan dilakukan dengan lebih intensif.

Sementara itu, Dandim 0722/Kudus, Letkol Arh Yuusufa Allan Andreasie, menambahkan pihaknya bersama Pemkab Kudus akan terus mengawasi pelaksanaan program MBG untuk mencegah kejadian serupa.

“Kami akan segera mengumpulkan para SPPG di lapangan. Sebenarnya briefing dan evaluasi sudah sering kami lakukan, namun kejadian ini menjadi bahan evaluasi penting ke depan,” ujarnya.