sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Kisah Abdullah bin Mubarak Dihajikan oleh Malaikat dikenal luas dalam Sejarah Islam, bagaimana awal mula kisahnya?

Nama Abdullah bin Mubarak adalah ulama besar, ahli fikih, dan perawi hadis terkemuka. Selain keilmuannya, Abdullah bin Mubarak juga masyhur karena kedermawanan dan kepekaan sosialnya.

Salah satu kisah hidupnya yang paling menginspirasi adalah peristiwa ketika ia tidak sampai ke Tanah Suci, namun justru memperoleh kemuliaan yang setara dengan pahala ibadah haji.

Kisah ini kerap dijadikan teladan tentang makna ibadah yang tidak semata-mata bersifat ritual, tetapi juga tercermin melalui kepedulian dan pengorbanan kepada sesama manusia.

Perjalanan Haji yang Terhenti di Kufah

Dikisahkan, pada suatu tahun Abdullah bin Mubarak berniat menunaikan ibadah haji. Ia berangkat dengan bekal yang cukup dan niat yang tulus untuk memenuhi rukun Islam kelima.

Namun, di tengah perjalanan, tepatnya saat singgah di Kota Kufah, langkahnya terhenti oleh sebuah pemandangan yang menggugah hati.

Ia melihat seorang perempuan miskin tengah membersihkan bangkai seekor itik. Abdullah bin Mubarak pun menegurnya dan mengingatkan bahwa bangkai adalah makanan yang diharamkan dalam Islam.

Awalnya, perempuan tersebut menolak dan mengusirnya. Namun setelah didatangi kembali, perempuan itu akhirnya menjelaskan kondisi sebenarnya.

Dengan suara lirih, ia mengaku bahwa dirinya dan anak-anaknya telah tiga hari tidak menemukan makanan.

Karena terdesak kebutuhan dan demi bertahan hidup, mereka terpaksa memakan bangkai tersebut.

Mengorbankan Haji demi Menolong Sesama

Mendengar pengakuan itu, hati Abdullah bin Mubarak seketika luluh. Ia menyadari bahwa yang dihadapi bukanlah pembangkangan, melainkan keterpaksaan akibat kemiskinan yang sangat berat.

Tanpa ragu dan tanpa menghakimi, ia mengambil keputusan besar. Abdullah bin Mubarak menyerahkan seluruh bekal perjalanannya, termasuk keledai tunggangan dan harta yang dibawanya, kepada perempuan tersebut dan keluarganya.

Dengan begitu, ia tidak lagi memiliki bekal untuk melanjutkan perjalanan ke Makkah.

Musim haji pun berlalu, dan Abdullah bin Mubarak tetap berada di Kufah. Secara lahiriah, ia gagal menunaikan ibadah haji pada tahun itu.

Kesaksian Aneh Usai Musim Haji

Sepulangnya ke kampung halaman, Abdullah bin Mubarak menyambut kerabat dan tetangganya yang baru kembali dari ibadah haji.

Ia mendoakan mereka agar hajinya diterima Allah SWT. Namun, hal mengejutkan justru terjadi.

Orang-orang yang ditemuinya mengaku melihat Abdullah bin Mubarak di Tanah Suci.

Mereka bersaksi bahwa ia berada di Makkah, membantu jamaah lain, memberi minum, bahkan membawakan barang selama prosesi haji berlangsung.

Kesaksian itu membuat Abdullah bin Mubarak terheran-heran. Ia merasa yakin tidak pernah menginjakkan kaki di Makkah pada musim haji tersebut. Kejanggalan itu terus mengusik pikirannya.

Jawaban Melalui Mimpi

Hingga akhirnya, Allah SWT menjawab kebingungan Abdullah bin Mubarak melalui sebuah mimpi. Dalam tidurnya, ia mendengar penjelasan bahwa Allah telah menerima amal sedekah dan kepeduliannya kepada orang yang kesulitan.

Disebutkan pula bahwa Allah mengutus malaikat yang menyerupai dirinya untuk menunaikan ibadah haji menggantikannya.

Dengan demikian, secara spiritual, amalnya diterima dan dimuliakan sebagaimana pahala haji.

Pelajaran Berharga dari Abdullah bin Mubarak

Kisah Abdullah bin Mubarak menjadi pengingat kuat bahwa ibadah dalam Islam tidak hanya diukur dari pelaksanaan ritual semata, tetapi juga dari keikhlasan, empati, dan kepedulian terhadap sesama.

Pengorbanannya menunjukkan bahwa menolong orang yang sangat membutuhkan dapat memiliki nilai yang amat besar di sisi Allah SWT.

Keteladanan ini relevan sepanjang zaman, terutama di tengah realitas sosial yang masih diwarnai kemiskinan dan kesenjangan.

Kisah tersebut mengajarkan bahwa kehadiran seorang muslim seharusnya membawa manfaat, meringankan beban orang lain, dan menebar kasih sayang.