sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Kisah Sahabat Nabi yang jasadnya utuh karena Puasa Ramadhan selalu menyimpan teladan yang mendalam bagi umat Islam.

Kisah para sahabat Nabi Muhammad SAW selalu menyimpan teladan yang mendalam bagi umat Islam.

Salah satu cerita yang hingga kini banyak dikisahkan adalah tentang Abu Thalhah Al Anshari, sahabat Rasulullah SAW yang dikenal dermawan, pemberani, dan memiliki kebiasaan luar biasa dalam menjalankan ibadah puasa.

Dalam sejumlah riwayat, disebutkan bahwa jasad Abu Thalhah tetap utuh selama beberapa hari setelah wafatnya.

Peristiwa ini diyakini sebagai salah satu bentuk kemuliaan yang Allah SWT berikan atas ketekunannya dalam beribadah, khususnya puasa, serta perjuangannya di jalan Islam.

Kisah Sahabat Nabi yang Jasadnya Utuh Karena Puasa Ramadhan

Abu Thalhah merupakan sahabat Nabi yang berasal dari kaum Anshar Madinah.

Ia dikenal sebagai pribadi yang memiliki harta melimpah dari kebun-kebun kurma, namun tidak pernah ragu menginfakkannya demi kepentingan umat.

Salah satu kisah terkenalnya adalah ketika ia mewakafkan kebun kurma Bairuha harta yang paling ia cintai setelah turun perintah Allah tentang keutamaan bersedekah.

Kedermawanan Abu Thalhah bahkan mendapat pujian langsung dari Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat,

Nabi menyampaikan bahwa Allah SWT merasa kagum terhadap sikap Abu Thalhah dan keluarganya yang mendahulukan tamu meski dalam kondisi kekurangan.

Peristiwa ini juga dikaitkan dengan turunnya QS Al-Hasyr ayat 9 yang menegaskan keutamaan mengutamakan orang lain dibanding diri sendiri.

Rajin Berpuasa Hingga Akhir Hayat

Selain dikenal dermawan, Abu Thalhah juga masyhur karena kegigihannya dalam berpuasa.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, hari-harinya hampir selalu diisi dengan ibadah puasa, kecuali pada hari-hari yang memang diharamkan.

Dalam sejumlah kisah disebutkan bahwa ia jarang berbuka, kecuali karena sakit atau sedang dalam perjalanan.

Kebiasaan inilah yang kemudian diyakini banyak ulama sebagai salah satu sebab jasadnya tetap terjaga setelah wafat, atas izin dan kehendak Allah SWT.

Wafat di Tengah Perjalanan Jihad

Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, kaum Muslimin membentuk armada laut untuk berjihad. Meski usianya telah lanjut, Abu Thalhah tetap bersikeras ikut serta.

Ketika anaknya menyarankan agar ia beristirahat karena faktor usia, Abu Thalhah justru mengutip firman Allah dalam QS At-Taubah ayat 41 yang memerintahkan kaum beriman untuk tetap berjihad, baik dalam keadaan ringan maupun berat.

Dalam perjalanan tersebut, Abu Thalhah wafat di atas kapal. Karena tidak segera menemukan daratan, jasadnya tetap berada di kapal selama kurang lebih tujuh hari.

Yang mengherankan, jasad Abu Thalhah dilaporkan tidak mengalami perubahan sedikit pun, seolah-olah hanya tertidur. Setelah menemukan daratan, barulah ia dimakamkan dengan penuh penghormatan.

Teladan bagi Umat Islam

Kisah Abu Thalhah menjadi pengingat bahwa keikhlasan, konsistensi dalam ibadah, serta pengorbanan di jalan Allah SWT memiliki nilai yang sangat tinggi.

Ketekunannya dalam berpuasa, kedermawanan dalam berbagi, dan keberanian dalam berjihad menjadikannya salah satu sahabat Nabi yang kisah hidupnya terus dikenang lintas generasi.

Bagi umat Islam masa kini, cerita Abu Thalhah dapat menjadi motivasi untuk menjaga semangat ibadah, termasuk melanjutkan amalan puasa sunnah setelah Ramadan, serta menahan diri dari sikap berlebihan dalam kehidupan sehari-hari.