HAIJAKARTA.ID- Kisah Nabi Muhammad pertama kali menjalankan puasa, jadi moment sacral bagi umat Islam di seluruh dunia.
Pada bulan inilah Allah SWT mewajibkan ibadah puasa sebagai bentuk penyucian diri, peningkatan ketakwaan, serta latihan spiritual yang menyentuh aspek fisik dan batin.
Sejarah mencatat, kewajiban puasa Ramadan pertama kali dijalankan pada masa Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat di Madinah.
Awal Kewajiban Puasa Ramadan
Perintah puasa Ramadan diturunkan pada tahun kedua Hijriah, tepatnya sekitar tahun 624 Masehi.
Ketentuan ini termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183–185 yang menjelaskan bahwa puasa diwajibkan sebagaimana umat terdahulu melaksanakannya, dengan tujuan membentuk pribadi yang bertakwa.
Sebelum kewajiban tersebut ditetapkan, Rasulullah dan para sahabat sebenarnya telah mengenal praktik puasa sunah, seperti puasa Asyura serta puasa tiga hari setiap bulan (tanggal 13, 14, dan 15 kalender Hijriah).
Namun, puasa Ramadan selama sebulan penuh menjadi pengalaman baru yang menuntut kesiapan fisik dan mental umat Islam kala itu.
Tantangan Ramadan Pertama di Madinah
Pelaksanaan puasa Ramadan pertama berlangsung di tengah kondisi Madinah yang penuh keterbatasan.
Persediaan makanan dan air sangat terbatas, sementara kehidupan masyarakat masih sederhana dan jauh dari kemewahan.
Meski demikian, Rasulullah SAW dan para sahabat tetap menjalankan ibadah puasa dengan penuh keteguhan dan keikhlasan.
Sejumlah sejarawan mencatat bahwa Ramadan pertama berlangsung pada musim semi, sehingga cuaca relatif lebih bersahabat dibandingkan musim panas ekstrem.
Meski begitu, puasa selama 29 atau 30 hari berturut-turut tetap menjadi tantangan besar bagi umat Islam pada masa awal tersebut.
Ramadan dan Peristiwa Besar Sejarah Islam
Ramadan pertama juga bertepatan dengan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Salah satunya adalah Perang Badar, yang terjadi pada 17 Ramadan tahun kedua Hijriah.
Dalam peristiwa tersebut, pasukan Muslim yang berjumlah sekitar 313 orang berhasil meraih kemenangan atas kaum Quraisy Mekah yang jumlahnya jauh lebih besar.
Selain itu, pada periode yang sama juga terjadi perubahan arah kiblat dari Masjidil Aqsa di Yerusalem menuju Ka’bah di Mekah.
Perubahan ini mempertegas identitas umat Islam sebagai komunitas keimanan yang mandiri dan memiliki syariat tersendiri.
Kesederhanaan Sahur dan Berbuka
Berbeda dengan kondisi saat ini, sahur dan berbuka puasa pada masa Rasulullah SAW berlangsung sangat sederhana.
Makanan yang tersedia umumnya hanya berupa kurma, air, atau tepung gandum yang dicampur minyak zaitun.
Bahkan, sebagian sahabat dari kalangan Ahlus Suffah kerap tidak memiliki makanan sama sekali.
Dalam situasi tersebut, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam yang mampu untuk berbagi makanan dan mengundang mereka yang kekurangan agar dapat berbuka bersama.
Nilai solidaritas dan kepedulian sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari ibadah Ramadan sejak awal sejarahnya.
Ibadah dan Pendalaman Spiritual
Selain menahan lapar dan haus, Ramadan pada masa Rasulullah diisi dengan peningkatan ibadah.
Pada sepuluh malam terakhir, Rasulullah SAW secara rutin melaksanakan i’tikaf di masjid untuk memperbanyak doa, dzikir, serta mencari malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Rasulullah SAW menekankan bahwa puasa bukan sekadar ritual fisik, melainkan juga sarana membentuk akhlak.
Dalam salah satu hadis riwayat Imam Bukhari, disebutkan bahwa Allah tidak membutuhkan puasa seseorang apabila ia tidak mampu menjaga lisan dan perilakunya dari keburukan.
Makna Puasa dalam Kehidupan Muslim
Puasa Ramadan sejak awal sejarah Islam dipahami sebagai latihan spiritual untuk menumbuhkan kesabaran, pengendalian diri, serta kepedulian terhadap sesama.
Nilai-nilai inilah yang diwariskan Rasulullah SAW dan para sahabat kepada generasi Muslim hingga saat ini.
Dengan meneladani Ramadan pertama dalam sejarah Islam, umat Muslim diharapkan tidak hanya fokus pada aspek ritual, tetapi juga mampu menghadirkan semangat kesederhanaan, kebersamaan, dan peningkatan kualitas diri di setiap bulan suci Ramadan.

