sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Perbedaan jumlah rakaat sholat tarawih menurut NU dan Muhammadiyah, mana yang benar?

Menjelang bulan suci Ramadan, umat Islam di Indonesia kembali menjumpai perbedaan tradisi dalam pelaksanaan salat Tarawih.

Dua organisasi Islam terbesar di Tanah Air, yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, memiliki pandangan berbeda terkait jumlah rakaat salat sunah yang dikerjakan pada malam Ramadan tersebut.

Meski berbeda dalam praktik, keduanya sama-sama berlandaskan dalil hadis Nabi Muhammad SAW serta ijtihad para ulama terdahulu.

Perbedaan ini sejatinya sudah ada sejak masa generasi awal Islam dan bukan hal baru dalam sejarah fikih.

Salat Tarawih Jadi Ibadah Sunah Penuh Keutamaan di Bulan Ramadan

Salat Tarawih merupakan salat sunah malam yang dikerjakan khusus selama bulan Ramadan.

Ibadah ini termasuk dalam qiyamul lail atau salat malam yang sangat dianjurkan Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa saja yang menghidupkan malam Ramadan dengan salat karena iman dan mengharap ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Hadis inilah yang menjadi dasar kuat dianjurkannya salat Tarawih di kalangan umat Islam.

Jumlah Rakaat Salat Tarawih Versi NU: 23 Rakaat Termasuk Witir

Dalam tradisi NU, salat Tarawih dilaksanakan sebanyak 20 rakaat, lalu disempurnakan dengan 3 rakaat salat witir, sehingga totalnya menjadi 23 rakaat.

Pandangan ini mengacu pada praktik para sahabat Nabi di masa Khalifah Umar bin Khattab RA.

Pada masa kepemimpinannya, umat Islam dikumpulkan untuk melaksanakan salat Tarawih secara berjamaah di masjid dengan jumlah 20 rakaat, yang kemudian menjadi tradisi luas di dunia Islam.

Mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i, Hanafi, dan Hanbali juga berpendapat bahwa jumlah tersebut merupakan bentuk kesepakatan (ijma’) para sahabat.

Riwayat dari Yazid bin Ruman dan Sa’ib bin Yazid menjelaskan bahwa umat Islam pada masa Umar RA melaksanakan Tarawih 20 rakaat, ditambah witir.

Karena itulah, NU memandang jumlah ini sebagai amalan yang kuat secara historis dan keilmuan.

Jumlah Rakaat Salat Tarawih Versi Muhammadiyah: 11 Rakaat Termasuk Witir

Berbeda dengan NU, Muhammadiyah menetapkan bahwa salat Tarawih dilakukan sebanyak 8 rakaat, lalu ditutup dengan 3 rakaat witir, sehingga totalnya 11 rakaat.

Pendapat ini didasarkan pada hadis sahih dari Aisyah RA yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah salat malamnya, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, lebih dari sebelas rakaat.

Dalam praktiknya, Rasulullah SAW melaksanakan:

  • Empat rakaat pertama dengan bacaan panjang dan khusyuk
  • Dilanjutkan empat rakaat berikutnya
  • Kemudian ditutup dengan tiga rakaat witir

Muhammadiyah menilai hadis-hadis yang menyebut jumlah 23 rakaat memiliki kualitas lemah (dhaif), sehingga tidak dijadikan pegangan utama.

Organisasi ini lebih berpegang pada riwayat sahih yang langsung menggambarkan praktik Nabi SAW.

Sejak Zaman Sahabat, Jumlah Tarawih Memang Beragam

Para ulama klasik sebenarnya mencatat bahwa jumlah rakaat Tarawih pernah dipraktikkan dalam berbagai hitungan, mulai dari 11, 13, 20, 23, bahkan hingga 39 rakaat di beberapa wilayah Islam terdahulu.

Imam Syafi’i sendiri pernah menyebut bahwa penduduk Makkah mengerjakan 23 rakaat, sementara penduduk Madinah melaksanakan hingga 39 rakaat.

Semua itu dianggap sah dan tidak menjadi persoalan selama dilakukan dengan niat ibadah.

Perbedaan yang Tidak Perlu Dipertentangkan

Baik NU maupun Muhammadiyah sepakat bahwa hukum salat Tarawih adalah sunah muakkadah (sangat dianjurkan). Perbedaan jumlah rakaat hanyalah masalah cabang fikih, bukan pokok ajaran agama.

Ulama sepakat bahwa siapa pun boleh memilih pendapat yang diyakini paling kuat, dan semua tetap mendapatkan pahala selama dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan syariat.

  • Versi NU: 20 rakaat Tarawih + 3 witir = 23 rakaat
  • Versi Muhammadiyah: 8 rakaat Tarawih + 3 witir = 11 rakaat

Keduanya memiliki dasar hadis dan praktik ulama terdahulu. Perbedaan ini justru menunjukkan kekayaan khazanah keilmuan Islam.

Yang terpenting bukan pada jumlah rakaatnya, melainkan pada kekhusyukan, konsistensi ibadah, serta semangat menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ketaatan kepada Allah SWT.