sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Upaya pencarian korban banjir lahar Merapi terus dilakukan oleh tim SAR gabungan di lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Hingga Kamis (5/3/2026), masih ada dua orang yang dilaporkan hilang setelah banjir lahar menerjang kawasan tersebut.

Tim penyelamat mengerahkan berbagai metode pencarian, mulai dari penyisiran manual hingga penggunaan teknologi seperti drone dan anjing pelacak K-9 untuk mempercepat proses evakuasi korban banjir lahar Merapi yang diduga masih tertimbun material vulkanik.

Dua Korban Banjir Lahar Merapi Masih Dalam Pencarian

Komandan SAR Gabungan, Arif Yulianto, mengatakan proses pencarian masih difokuskan pada dua orang yang belum ditemukan. Kedua korban diduga tertimbun material banjir berupa pasir, batu, dan lumpur yang terbawa arus lahar dari lereng Merapi.

Arif menyampaikan bahwa tim SAR terus berupaya memaksimalkan pencarian dengan berbagai metode yang tersedia.

“Pertama kita gunakan K-9, penyisiran manual itu kita menggunakan, personel menusuk-nusuk,” ujar Arif di Magelang, Kamis.

Ia menjelaskan metode tersebut digunakan untuk mendeteksi keberadaan korban banjir lahar Merapi yang diduga tertimbun material cukup tebal di area terdampak.

Anjing Pelacak K-9 Dikerahkan Menyisir Area Banjir

Anjing pelacak K-9 diterjunkan untuk membantu mendeteksi keberadaan korban yang tertimbun material lahar. Area pencarian telah dipetakan sebelumnya berdasarkan laporan saksi serta temuan di lapangan.

Tim SAR menyisir sejumlah titik yang dianggap berpotensi menjadi lokasi tertimbunnya korban banjir lahar Merapi.

Arif mengatakan unit K-9 menjadi salah satu metode penting untuk mempercepat proses pencarian korban.

Ia menegaskan bahwa tim mengombinasikan berbagai teknik agar pencarian bisa lebih efektif.

Selain anjing pelacak, tim SAR gabungan juga memanfaatkan drone untuk memantau wilayah terdampak banjir lahar dari udara.

Arif mengatakan drone digunakan untuk memetakan wilayah sepanjang Sungai Senowo yang menjadi jalur aliran lahar dari Gunung Merapi.

Menurut dia, drone diterbangkan secara berkala untuk memantau kondisi area terdampak dari udara. Hasil pemantauan tersebut membantu tim melihat pola endapan material, jalur aliran terbaru, hingga area yang berpotensi rawan longsor susulan.

Data visual dari drone kemudian dijadikan dasar untuk menentukan titik prioritas pencarian korban banjir lahar Merapi.

Tantangan Pencarian Korban

Meski berbagai metode telah digunakan, proses pencarian masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan.

Ketebalan material pasir serta kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan utama bagi tim SAR.

Arif mengatakan pemanfaatan drone diharapkan bisa membantu mendeteksi titik yang mencurigakan sehingga penyisiran di lapangan menjadi lebih terarah.

“Untuk mempermudah pencarian memang kami menggunakan drone, selebihnya tantangan ada pada ketebalan material pasirnya,” kata Arif.

Tim SAR gabungan hingga kini terus melakukan pencarian di sejumlah titik yang dianggap berpotensi menjadi lokasi tertimbunnya korban banjir lahar Merapi dengan harapan kedua korban yang masih hilang dapat segera ditemukan.