sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Nilai tukar rupiah kembali mencatat sejarah baru setelah menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pada penutupan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, mata uang Garuda ditutup di posisi Rp18.020 per dolar AS, sekaligus menjadi level terlemah sepanjang sejarah terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Pelemahan ini memperpanjang tren penurunan rupiah yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.

Setelah sebelumnya menembus batas psikologis Rp17.000 dan Rp17.500 per dolar AS, kini rupiah resmi bergerak di atas Rp18.000 per dolar AS.

Meski kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan masyarakat, data historis menunjukkan bahwa pelemahan tajam rupiah tidak selalu berakhir dengan krisis berkepanjangan.

Dalam sejumlah periode sebelumnya, rupiah mampu bangkit dan menguat kembali setelah menembus level-level psikologis penting.

Catatan Sejarah: Rupiah Pernah Bangkit Setelah Terpuruk

Berdasarkan data historis pergerakan nilai tukar, rupiah beberapa kali mengalami tekanan berat dalam satu dekade terakhir.

Namun setelah melemah tajam, mata uang Indonesia tersebut mampu menguat lebih dari Rp500 per dolar AS dalam rentang waktu tertentu.

Secara rata-rata, pemulihan tersebut membutuhkan waktu antara 51 hingga 126 hari kalender, tergantung pada kondisi ekonomi global maupun kebijakan yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia.

Tahun 2018: Rupiah Tembus Rp15.000 karena Kebijakan The Fed

Pada 2 Oktober 2018, rupiah menembus level Rp15.000 per dolar AS dan ditutup pada posisi Rp15.040.

Saat itu tekanan berasal dari kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang secara agresif menaikkan suku bunga.

Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar AS menjadi lebih menarik sehingga dana asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi domestik, Indonesia juga menghadapi tantangan berupa defisit transaksi berjalan yang melebar hingga sekitar US$31,1 miliar atau hampir 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia merespons dengan menaikkan suku bunga acuan secara bertahap hingga total 175 basis poin sepanjang tahun 2018.

Langkah tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada 26 November 2018, rupiah berhasil menguat ke level Rp14.470 per dolar AS.

Dengan demikian, rupiah membutuhkan sekitar 55 hari untuk kembali menguat lebih dari Rp500 dari titik pelemahannya.

Tahun 2019: Pulih dari Rp14.500 ke Bawah Rp14.000

Tekanan kembali terjadi pada 22 Mei 2019 ketika rupiah menyentuh level Rp14.520 per dolar AS.

Saat itu ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China menjadi faktor utama yang memicu ketidakpastian global.

Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman sehingga mata uang negara berkembang mengalami tekanan.

Namun kondisi mulai membaik ketika pasar memperkirakan The Fed akan melonggarkan kebijakan moneternya.

Ekspektasi penurunan suku bunga AS membuat dolar melemah dan memberi ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang.

Hasilnya, pada 12 Juli 2019 rupiah kembali berada di bawah Rp14.000 per dolar AS dengan posisi Rp13.999. Proses pemulihan tersebut berlangsung sekitar 51 hari.

Tahun 2022: Efek Perang Rusia-Ukraina dan Inflasi Global

Gelombang pelemahan berikutnya terjadi pada 20 Oktober 2022 ketika rupiah menembus level Rp15.500 per dolar AS dan ditutup pada posisi Rp15.570.

Saat itu dunia tengah menghadapi dampak perang Rusia-Ukraina yang memicu lonjakan harga energi dan pangan global. Inflasi tinggi memaksa The Fed menaikkan suku bunga secara agresif, sehingga dolar AS menguat tajam terhadap berbagai mata uang dunia.

Bank Indonesia kembali mengambil langkah penyesuaian suku bunga guna menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Di tengah tekanan tersebut, Indonesia memperoleh keuntungan dari melonjaknya harga komoditas ekspor, khususnya batu bara.

Surplus perdagangan Indonesia pada 2022 mencapai lebih dari US$54 miliar dan menjadi penopang penting bagi stabilitas rupiah.

Setelah sekitar 96 hari, rupiah berhasil menguat kembali ke level Rp14.885 per dolar AS pada Januari 2023.

Tahun 2024: Menembus Rp16.000 dan Pulih Setelah Empat Bulan

Pada April 2024, rupiah kembali menghadapi tekanan hingga menembus level Rp16.000 per dolar AS. Saat itu kurs sempat ditutup di Rp16.170 per dolar AS.

Penyebab utama pelemahan berasal dari menguatnya dolar AS akibat tertundanya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed.

Ketegangan geopolitik global juga meningkatkan kehati-hatian investor terhadap aset negara berkembang.