503 KK di Tomang Masih BAB Sembarangan, Jakbar Bangun 7 MCK Komunal
HAIJAKARTA.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Barat membangun tujuh fasilitas mandi, cuci, kakus (KMC) komunal di Kelurah Tomang, Kecamatan Grogol Petamburan.
Fasilas tersebut disiapkan untuk melayani ratusan keluarga yang sebelumnya memiliki akses sanitasi layak dan masih melakukan buang air besar sembarangan (BABS).
Pembangunan MCK komunal ini sekaligus mengantarkan Tomang menjadi kelurahan terakhir di Jakarta Barat yang mendeklarasikan status Open Defecation Free (ODF) atau bebas buang air besar sembarangan.
“Syarat deklarasi ODF harus minimal 500 kepala keluarga menggunakan MCK komunal yang sudah sesuai dengan standar tertutup. Kami mengecek ke lapangan, ternyata memang di Kelurahan Tomang banyak yang belum menggunakan sanitasi secara tertutup,” kata Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah dikutip pada Senin, (29/6/2026).
503 KK di Tomang Masih BAB Sembarangan
Menurut Iin, tujuh MCK komunal yang dibangun kini dapat dimanfaatkan oleh 503 kepala keluarga atau sekitar 1.278 jiwa yang sebelumnya belum memiliki fasilitas sanitasi yang memadai.
Awalnya, pemerintah menargetkan pembangunan empat MCK komunal. Namun melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, jumlah tersebut bertambah menjadi tujuh unit.
“Hari ini awalnya target kita empat MCK komunal yang kita bangun. Alhamdullilah ternyata kami bisa bangun lima dan dua revitalisasi. Total seluruhnya tujuh MCK komunal yang telah kami fasilitasi bersama dan untuk masyarakat,” kata Iin.
Fasilitas yang dibangun melalui kerja sama dengan berbagai lembaga pemerintahan maupun sektor swasta itu juga dirancang agar ramah bagi penyandang disabilitas dan lanjut usia.
Seluruh Kelurahan di Jakarta Barat Kini Berstatus ODF
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat Sahruna mengatakan, pembangunan MCK komunal menjadi solusi atas keterbatasan lahan yang selama ini membuat sebagian warga kesulitan membangun fasilitas sanitasi pribadi.
Dengan deklarasi ODF di Tomang, seluruh 56 kelurahan di Jakarta Barat kini telah menyandang status bebas buang air besar sembarangan. Meski demikian, status tersebut masih terbagi ke dalam dua kategori.
“Dari 56 ini yang deklarasi ODF murni itu ada 13 kelurahan. Dan sisanya 43 itu deklarasi ODF dengan komitmen. Artinya buang air besarnya tertutup, mempunyai toilet dalam rumah, tetapi belum dibuang ke dalam tangki septik yang standar,” ujar Sahruna.
Ia mengakui pembangunan MCK komunal tidak serta-merta mengubah perilaku masyarakat dalam waktu singkat. Sebab, masih ada warga yang memilih menggunakan toilet rumah masing-masing meski limbahnya belum dikelola melalui septic tank sesuai standar.
“Saya memitigasi bahwa kemungkinan itu ada, dan cara kami untuk memitigasi itu adalah senantiasa melakukan edukasi secara terus-menerus. Kami, camat, lurah selalu mengedukasi di setiap kesempatan bertemu dengan masyarakat bahwa lebih baik buang air besar di tempat yang sudah kami sediakan,” tegasnya.
Rano Soroti Sanitasi dan Tingginya Kasus TBC di Jakarta
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyoroti persoalan sanitasi yang menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah di sejumlah kawasan ibu kota.
Rano mengaku kondisi tersebut mengingatkannya pada masa kecilnya di Kemayoran pada era 1960-an. Saat itu, lingkungan tempat tinggalnya bahkan dikenal dengan sebutan “Gang Tai” karena kebiasaan warga membuang hajat di selokan.
“Saya lahir di Kebon Dalem Gang 7, daerah Kemayoran pada tahun ’60. Waktu itu kampung saya terkenal dengan ‘Gang Tai’, maaf. Karena memang waktu itu kami kalau buang air di got, dan sekarang pada tahun 2026 ternyata masih ada yang seperti itu,” kata Rano.
Menurut dia, perbaikan sanitasi menjadi penting karena berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat, termasuk risiko penularan tuberkulosis (TBC). Rano mengaku terkejut setelah mengetahui Jakarta masih masuk dalam lima besar daerah dengan kasus TBC tertinggi di Indonesia.
“Hampir rata-rata TBC itu berangkat dari keluarga, dari sanitasi, dari lingkungan. Di Jakarta ini ada beberapa wilayah yang tidak pernah terkena matahari. Gang sempit, gelap gulita, rumah tanpa jendela, ada di Jakarta. Pelan-pelan mari kita perbaiki,” ujarnya.
Pemprov DKI Jakarta bersama PD PAL Jaya saat ini juga menargetkan pembangunan sekitar 1.200 MCK komunal di berbagai wilayah sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas sanitasi sekaligus mendukung penataan kawasan permukiman.

