sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- YouTube resmi memperbarui kebijakan monetisasi dalam Program Mitra YouTube (YouTube Partner Program/YPP) dengan memperjelas jenis konten yang tidak lagi memenuhi syarat memperoleh pendapatan.

Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya jumlah konten berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dinilai minim kreativitas, berulang, dan tidak memberikan nilai tambah bagi penonton.

Kebijakan terbaru tersebut menegaskan bahwa YouTube ingin mendorong kreator menghasilkan konten yang lebih orisinal, informatif, dan berkualitas, bukan sekadar memanfaatkan teknologi AI untuk memproduksi video secara massal.

YouTube Ingin Dorong Konten Berkualitas

Kepala Kepercayaan dan Keamanan YouTube, Matt Halprin, menjelaskan bahwa perusahaan tidak menolak penggunaan AI secara keseluruhan.

Menurutnya, teknologi tersebut justru dapat membantu kreator meningkatkan kualitas produksi apabila digunakan secara bertanggung jawab.

Ia menegaskan bahwa YouTube tetap mendukung pemanfaatan AI yang mampu memperkaya kreativitas dan menghasilkan konten bernilai tinggi.

Namun, platform tersebut akan mengambil tindakan terhadap video yang hanya mengandalkan otomatisasi tanpa sentuhan kreatif dari pembuatnya.

Konten AI Minim Usaha Tak Lagi Layak Dimonetisasi

Dalam pembaruan kebijakan YPP, YouTube menyoroti sejumlah kategori konten yang kini berisiko kehilangan monetisasi, di antaranya:

  • Video AI yang dibuat secara massal dengan pola berulang.
  • Konten berbasis template atau CGI yang hanya didaur ulang tanpa memberikan informasi atau hiburan baru.
  • Video yang minim proses kreatif serta tidak memiliki nilai tambah bagi audiens.
  • Konten yang diproduksi secara otomatis hanya untuk mengejar jumlah tayangan.

Dengan aturan ini, YouTube ingin memastikan bahwa pendapatan iklan diberikan kepada kreator yang benar-benar menghasilkan karya orisinal.

Video Manipulatif Juga Menjadi Sasaran

Selain konten AI, YouTube juga memperketat pengawasan terhadap video yang memanfaatkan manipulasi emosi demi menarik perhatian penonton.

Salah satu contoh yang disebut adalah video yang sengaja menampilkan hewan seolah-olah berada dalam kondisi berbahaya sebelum akhirnya “diselamatkan”.

Konten semacam ini dinilai tidak etis dan dapat dikenai sanksi, termasuk pencabutan hak monetisasi atau bahkan dikeluarkan dari Program Mitra YouTube.

Persona AI untuk Topik Sensitif Ikut Dibatasi

Aturan baru juga mencakup penggunaan karakter atau persona AI yang menyerupai tokoh nyata ketika membahas topik sensitif.

Konten yang menggunakan representasi AI untuk memberikan informasi mengenai bidang seperti:

  • Keuangan,
  • Investasi,
  • Hukum,
  • Kesehatan,
  • Medis,

berpotensi tidak memenuhi syarat monetisasi apabila dinilai dapat menyesatkan atau menimbulkan kebingungan bagi penonton.

AI Tetap Boleh Digunakan dengan Cara yang Bertanggung Jawab

Meski memperketat aturan, YouTube menegaskan bahwa penggunaan AI tidak dilarang.

Platform tersebut justru mendorong kreator memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas produksi, mempercepat proses penyuntingan, hingga memperkaya ide kreatif.

Yang menjadi perhatian adalah penggunaan AI secara berlebihan tanpa kontribusi kreatif dari manusia, sehingga menghasilkan konten yang repetitif dan berkualitas rendah.

Tujuan Kebijakan Baru

Melalui pembaruan ini, YouTube berharap ekosistem kreator menjadi lebih sehat dengan mengutamakan orisinalitas, kreativitas, serta informasi yang dapat dipercaya.

Perusahaan juga ingin melindungi pengiklan agar iklan mereka tampil pada konten yang berkualitas dan aman bagi audiens.

Kreator yang ingin tetap memperoleh penghasilan dari YouTube diimbau untuk terus menghasilkan video yang autentik, memberikan nilai tambah, serta mematuhi pedoman monetisasi yang telah diperbarui.