sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Kematian seekor harimau putih di Semarang Zoo menjadi sorotan publik setelah hasil pemeriksaan pascakematian (nekropsi) mengungkap sejumlah temuan yang mengkhawatirkan.

Salah satu temuan utama adalah saluran pencernaan yang kosong tanpa adanya sisa pakan, yang mengindikasikan satwa tersebut diduga sudah tidak mengonsumsi makanan dalam kurun waktu tertentu sebelum akhirnya mati.

Dokter hewan yang melakukan pemeriksaan menjelaskan bahwa selain saluran pencernaan yang kosong, ditemukan pula berbagai gangguan pada organ vital.

Di antaranya terdapat lesi atau luka pada lambung, peradangan dan perdarahan pada paru-paru, pembengkakan pada organ jantung, hati, serta ginjal.

Pemeriksaan juga menunjukkan adanya kerusakan pada sebagian jaringan hati yang mengindikasikan fungsi organ tersebut sudah mengalami penurunan.

Temuan tersebut masih menjadi bagian dari proses penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kematian harimau putih tersebut.

Pihak pengelola bersama instansi terkait masih melakukan evaluasi terhadap kondisi kesehatan satwa sebelum meninggal.

Wali Kota Semarang Soroti Keterbatasan Anggaran

Menanggapi kasus tersebut, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menilai persoalan keterbatasan anggaran diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kualitas perawatan satwa di Semarang Zoo.

Menurutnya, apabila pendapatan kebun binatang tidak mampu menutup biaya operasional, pengelola terpaksa melakukan efisiensi pada berbagai sektor.

Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan besar karena kebutuhan perawatan satwa tidak dapat ditunda.

Agustina mengungkapkan bahwa Semarang Zoo saat ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Dalam skema tersebut, suntikan modal dari pemerintah daerah tidak dapat digunakan untuk membiayai operasional sehari-hari, melainkan hanya diperuntukkan bagi pengembangan usaha.

Ia juga menyampaikan bahwa posisi pengelola kebun binatang berada dalam situasi yang tidak mudah.

Di satu sisi harus menjaga keberlangsungan usaha, sementara di sisi lain kesejahteraan satwa tetap harus menjadi prioritas utama.

Pemprov Jateng Dorong Kerja Sama dengan Pihak Berpengalaman

Agustina mengungkapkan bahwa Gubernur Jawa Tengah telah menghubunginya dan mendorong agar Semarang Zoo menjalin kerja sama dengan pihak ketiga yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan kebun binatang dan konservasi satwa.

Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengelolaan, mulai dari perawatan kesehatan hewan, penyediaan pakan, hingga sistem manajemen yang lebih profesional sehingga kejadian serupa tidak kembali terulang.

Program Pertukaran Satwa Ikut Dievaluasi

Selain menyoroti aspek operasional, Pemerintah Kota Semarang juga sedang mengevaluasi program pertukaran satwa yang pernah dilakukan antara Semarang Zoo dan kebun binatang di Medan.

Menurut Agustina, proses tersebut telah berlangsung cukup lama sehingga perlu dilakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan seluruh prosedur telah dijalankan sesuai ketentuan.

Evaluasi dilakukan karena menyangkut pengelolaan satwa hidup yang membutuhkan perhatian khusus.

Desakan Perbaikan Tata Kelola Kebun Binatang

Kasus kematian harimau putih ini memunculkan perhatian luas dari masyarakat serta pemerhati satwa.

Mereka mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola Semarang Zoo, termasuk pemenuhan standar kesejahteraan satwa, kecukupan pakan, pelayanan kesehatan hewan, serta kecukupan anggaran operasional.

Pakar konservasi selama ini menekankan bahwa kebun binatang memiliki tanggung jawab tidak hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai lembaga konservasi yang wajib menjamin kesejahteraan setiap satwa yang dipelihara.

Pemerintah Kota Semarang menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pengelola Semarang Zoo, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), serta instansi terkait untuk mengusut penyebab kematian harimau putih tersebut sekaligus merumuskan langkah perbaikan agar standar perawatan satwa di Semarang Zoo dapat ditingkatkan pada masa mendatang.