Desalinasi Bisa Jadi Solusi Kekeringan Jakarta, tapi Tak Bisa Jadi Satu-satunya Sumber Air!
HAIJAKARTA.ID- Ancaman kekeringan dan keterbatasan pasokan air bersih membuat wacana pengolahan air laut menjadi air tawar atau desalinasi kembali mencuat di Jakarta.
Teknologi tersebut dinilai memungkinkan diterapkan untuk menambah sumber air baku Ibu Kota.
Namun, desalinasi tidak disarankan menjadi satu-satunya tumpuan karena terdapat sejumlah aspek yang harus diperhitungkan, mulai dari kebutuhan energi, biaya, efisiensi, hingga dampak terhadap lingkungan.
Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (UI), Mahawan Karuniasa, mengatakan pengolahan air laut menjadi air bersih secara teknologi memungkinkan dilakukan.
Salah satu teknologi yang dapat digunakan adalah Seawater Reverse Osmosis (SWRO).
“Pemanfaatan air laut sebagai sumber air bersih Jakarta secara teknologi sangat mungkin dilakukan. Teknologi Seawater Reverse Osmosis atau SWRO sudah digunakan luas di berbagai negara,” ujar Mahawan, Senin (21/9/2026).
Meski demikian, menurut Mahawan, keberhasilan desalinasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknologi mengubah air laut menjadi air tawar.
Pemerintah juga perlu menghitung aspek efisiensi, keterjangkauan biaya, kebutuhan energi, emisi, serta potensi dampak ekologis.
Dengan pertimbangan tersebut, desalinasi dinilai lebih tepat ditempatkan sebagai salah satu sumber air strategis, bukan menggantikan seluruh sumber air yang selama ini digunakan Jakarta.
Belajar dari Singapura dan Perth
Mahawan mencontohkan Singapura dan Perth, Australia, yang mengembangkan desalinasi sebagai bagian dari diversifikasi sumber air.
Singapura tidak hanya mengandalkan satu sumber air, tetapi mengombinasikan air lokal, air impor, air daur ulang, dan air hasil desalinasi.
Sementara Perth menggabungkan desalinasi dengan air tanah serta sumber air lainnya.
Pendekatan tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi Jakarta dalam membangun sistem penyediaan air yang lebih tahan menghadapi kekeringan, perubahan iklim, maupun gangguan pasokan.
“Pelajaran bagi Jakarta adalah pentingnya diversifikasi sumber agar sistem air lebih tahan terhadap kekeringan, perubahan iklim, dan gangguan pasokan,” kata Mahawan.
Jakarta Sedang Menghadapi Tekanan Kekeringan
Wacana tersebut muncul ketika Jakarta tengah menghadapi periode kemarau dan ancaman kekurangan air bersih.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya telah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau 2026.
Pemprov DKI menyiagakan 1.027 personel lintas instansi dan 29 mobil tangki untuk mengantisipasi kekeringan, kekurangan air bersih, kebakaran, serta penurunan kualitas udara.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menyatakan kondisi El Niño masih perlu diwaspadai.
BMKG memprediksi fenomena tersebut dapat bertahan hingga awal 2027 dan berpotensi memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah.
Dalam prakiraan periode 18-24 September 2026, BMKG kembali mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air seiring kondisi kering yang masih berlangsung.
Bahkan, BPBD DKI pada 19 September 2026 melaporkan adanya pendistribusian air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Jakarta Barat.
Satu mobil tangki berkapasitas 5.000 liter dikerahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat.
Desalinasi Perlu Dibarengi Diversifikasi Sumber Air
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan air Jakarta membutuhkan strategi jangka panjang, bukan hanya penanganan ketika terjadi kekurangan air.
Desalinasi dapat menjadi salah satu pilihan untuk menambah sumber air baku, terutama karena Jakarta memiliki wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan laut.
Namun, penerapannya tetap perlu dikaji secara menyeluruh agar biaya, kebutuhan energi, dan dampak lingkungan dapat dikendalikan.
Selain itu, penguatan sumber air lainnya tetap diperlukan. Diversifikasi menjadi penting agar gangguan pada satu sumber tidak langsung berdampak besar terhadap keseluruhan sistem penyediaan air.
Dengan demikian, pengolahan air laut menjadi air tawar bukan sekadar persoalan teknologi. Jakarta juga perlu memastikan bahwa sistem tersebut efisien, terjangkau, berkelanjutan, dan aman bagi lingkungan.
Di tengah ancaman kekeringan yang masih berlangsung, desalinasi dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi ketahanan air Jakarta, tetapi tetap harus berjalan bersama upaya pengelolaan dan diversifikasi sumber air lainnya.

