Pasar Baru Bakal Disulap Jadi Myeongdong ala Korea Selatan, Jakarta Siapkan Kawasan Kuliner 24 Jam!
HAIJAKARTA.ID- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan rencana penataan sejumlah kawasan strategis di Ibu Kota dengan mengusung konsep tematik yang terinspirasi dari berbagai negara.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Pasar Baru, Jakarta Pusat, yang direncanakan memiliki suasana menyerupai Myeongdong di Korea Selatan dan dikembangkan sebagai destinasi kuliner yang beroperasi selama 24 jam.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengungkapkan bahwa penataan Pasar Baru diarahkan untuk menghadirkan kawasan yang lebih hidup, khususnya pada malam hari.
Melalui konsep tersebut, Pasar Baru diharapkan dapat menjadi tujuan masyarakat untuk menikmati beragam pilihan kuliner sekaligus merasakan suasana kawasan perkotaan yang ramai seperti destinasi populer di Korea Selatan.
“Pasar Baru bayangan saya adalah menjadi tempat kuliner 24 jam malam kayak Myeongdong. Jadi Pasar Baru tipikalnya Korea,” ujar Pramono.
Rencana penataan Pasar Baru tersebut dijadwalkan mulai dilaksanakan pada 2027. Pengembangan kawasan ini menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta untuk memperkuat daya tarik wisata perkotaan, menghidupkan aktivitas ekonomi, serta meningkatkan pemanfaatan kawasan bersejarah di Jakarta.
Pasar Baru Diproyeksikan Jadi Destinasi Kuliner Malam
Konsep Myeongdong yang menjadi inspirasi penataan Pasar Baru dikenal dengan suasana kawasan komersial yang ramai, deretan pertokoan, serta beragam pilihan makanan yang menarik pengunjung.
Melalui pendekatan tersebut, Pasar Baru berpotensi dikembangkan sebagai salah satu tujuan wisata kuliner malam di Jakarta.
Kehadiran kawasan kuliner yang beroperasi hingga 24 jam diharapkan dapat memperluas pilihan aktivitas masyarakat, baik untuk berbelanja, menikmati makanan, maupun menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman.
Selain meningkatkan daya tarik kawasan, pengembangan tersebut juga berpeluang membuka ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang makanan, serta pengusaha lokal untuk memperluas pasar mereka.
Namun, keberhasilan konsep tersebut nantinya juga akan bergantung pada kesiapan infrastruktur, pengelolaan kebersihan, keamanan, pengaturan lalu lintas, dan kenyamanan pengunjung.
Penataan yang terencana diperlukan agar aktivitas ekonomi dapat berkembang tanpa mengabaikan keberadaan pedagang lama serta karakter historis Pasar Baru.
Blok M Mengusung Nuansa Jepang
Tidak hanya Pasar Baru, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan transformasi kawasan Blok M, Jakarta Selatan, dengan konsep yang terinspirasi dari Jepang.
Revitalisasi Blok M diarahkan untuk memperkuat fungsinya sebagai pusat aktivitas masyarakat yang memadukan transportasi, perdagangan, kuliner, dan ruang publik.
Kawasan ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi perkotaan yang nyaman bagi pejalan kaki sekaligus mendukung mobilitas masyarakat.
Berdasarkan rencana yang disampaikan dalam pemberitaan tersebut, revitalisasi total Blok M ditargetkan rampung pada 2029.
Sementara itu, pengembangan kawasan multifungsi atau mixed-use ditargetkan selesai pada 2030.
Transformasi Blok M mencakup lima fokus utama, yakni modernisasi fasilitas terminal, integrasi antarmoda transportasi, peningkatan akses bagi pejalan kaki, penyediaan ruang publik hijau, serta pengembangan pusat ritel dan kuliner.
Melalui penataan tersebut, Blok M diharapkan tidak hanya menjadi kawasan transit, tetapi juga menjadi tempat masyarakat beraktivitas, berbelanja, menikmati kuliner, dan menghabiskan waktu luang.
Glodok Tetap Mempertahankan Identitas Pecinan
Berbeda dengan Pasar Baru dan Blok M yang akan mengadopsi inspirasi dari Korea Selatan dan Jepang, kawasan Glodok di Jakarta Barat diarahkan untuk tetap mempertahankan karakter khas Chinatown atau pecinan.
Glodok selama ini dikenal sebagai kawasan perdagangan yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah dan kebudayaan masyarakat Tionghoa di Jakarta.
Selain menjadi pusat aktivitas ekonomi, kawasan tersebut juga memiliki daya tarik melalui ragam kuliner, bangunan bersejarah, serta suasana khas yang telah berkembang selama bertahun-tahun.
Upaya penataan Glodok diharapkan dapat memperkuat potensinya sebagai destinasi wisata sejarah dan kuliner tanpa menghilangkan identitas budaya yang menjadi ciri khas kawasan tersebut.
Pendekatan ini sekaligus menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata Jakarta yang mengedepankan keberagaman karakter setiap wilayah.
Kota Tua Diarahkan Menghadirkan Nuansa Eropa
Sementara itu, kawasan Kota Tua Jakarta direncanakan tetap dikembangkan dengan menonjolkan karakter arsitektur dan suasana bergaya Eropa yang telah melekat pada kawasan bersejarah tersebut.
Kota Tua memiliki potensi sebagai destinasi wisata yang menawarkan pengalaman sejarah, arsitektur, seni, dan budaya.
Penataan kawasan ini diarahkan untuk meningkatkan daya tariknya bagi wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara dan segmen pengunjung kelas menengah atas.
Pengembangan Kota Tua diharapkan mampu memperkuat posisi Jakarta sebagai destinasi wisata perkotaan yang menawarkan beragam pengalaman, mulai dari wisata sejarah hingga wisata kuliner dan gaya hidup modern.
Meski demikian, upaya pengembangan tersebut perlu tetap memperhatikan pelestarian bangunan bersejarah, kenyamanan pengunjung, serta keberlangsungan usaha masyarakat yang telah beraktivitas di kawasan tersebut.
Penataan Kawasan Terintegrasi dengan Transportasi Massal
Rencana penataan Pasar Baru, Blok M, Glodok, dan Kota Tua merupakan bagian dari pendekatan pengembangan kawasan tematik di Jakarta.
Setiap kawasan diarahkan memiliki identitas dan daya tarik tersendiri, sehingga masyarakat maupun wisatawan dapat memperoleh pengalaman yang berbeda ketika mengunjungi berbagai bagian Ibu Kota.
Integrasi dengan transportasi massal, termasuk MRT dan moda transportasi publik lainnya, menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan kawasan tersebut.
Konektivitas yang baik diharapkan dapat memudahkan masyarakat menjangkau pusat kuliner, kawasan perdagangan, serta destinasi wisata tanpa harus sepenuhnya bergantung pada kendaraan pribadi.
Selain mendukung mobilitas, integrasi transportasi juga berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan dan memperluas jangkauan konsumen bagi pelaku usaha di sekitar kawasan.
Di sisi lain, penataan kawasan tematik membutuhkan perencanaan yang matang, mulai dari infrastruktur pendukung, aksesibilitas, pengelolaan sampah, keamanan, hingga pengaturan aktivitas perdagangan.
Pelibatan pedagang dan masyarakat setempat juga menjadi faktor penting agar manfaat pengembangan dapat dirasakan secara luas.
Melalui rencana tersebut, Jakarta diarahkan untuk memiliki kawasan-kawasan dengan karakter yang lebih kuat, mulai dari nuansa Korea Selatan di Pasar Baru, inspirasi Jepang di Blok M, identitas pecinan di Glodok, hingga atmosfer Eropa di Kota Tua.
Jika terlaksana sesuai rencana, pengembangan ini berpotensi memperkaya pilihan destinasi wisata dan kuliner di Jakarta sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Meski begitu, realisasi setiap proyek tetap bergantung pada pelaksanaan program, kesiapan infrastruktur, dan kebijakan lanjutan dari Pemprov DKI Jakarta.

