Ancaman Pembunuhan Ketua dan Wakil BEM UI 2026, Kampus Bentuk Tim Investigasi Gabungan
HAIJAKARTA.ID – Ancaman pembunuhan Ketua dan Wakil BEM UI 2026 menggegerkan lingkungan Universitas Indonesia (UI).
Ketua BEM UI 2026 terpilih Yatalathof Ma’shum Imawan dan Wakil Ketua Fathimah Azzahra mengaku menerima teror serius, mulai dari upaya peretasan akun WhatsApp hingga ancaman pembunuhan, tak lama setelah Pemilihan Raya (Pemira) UI 2025.
Kronologi Ancaman Pembunuhan Ketua dan Wakil BEM UI 2026
Yatalathof, yang akrab disapa Athof, mengungkapkan teror itu terjadi sehari setelah dirinya dan Fathimah dinyatakan menang dalam Pemira UI yang digelar pada Selasa (13/1/2026).
“Setelah ketok palu suara sah, keesokan harinya atau Rabu (14/1/2026) belum genap 24 jam, WhatsApp saya sempat dicoba diretas. Tapi belum berhasil dan otomatis terhapus,” ungkap Athof saat ditemui di kawasan UI Depok, Sabtu (17/1/2026).
Athof mengatakan teror tidak hanya menyasar dirinya, tetapi juga keluarga.
Akun WhatsApp kakaknya dilaporkan berhasil diretas dan digunakan untuk mengirim pesan teror disertai ancaman pembunuhan.
“Itu dikirim sampai ke grup WhatsApp yang ada di WhatsApp kakak aku,” jelas Athof.
Selain itu, Athof juga menerima kiriman paket cash on delivery (COD) berupa topeng dengan nilai tagihan bervariasi, mulai dari Rp600 ribu hingga Rp1,8 juta.
“Totalnya kalau dari saya sendiri ada tiga paket sampai kemarin,” ujarnya.
Athof menyebut, Fathimah dan sejumlah mahasiswa UI lain yang dinilai vokal juga mengalami teror serupa.
“Mereka mahasiswa yang vokal saja. Ada yang dikirimi kain kafan, senjata tajam sampai keris,” kata Athof.
Ancaman pembunuhan Ketua dan Wakil BEM UI 2026 juga dialami langsung oleh Fathimah Azzahra.
Ia mengungkapkan bahwa akun WhatsApp ayahnya diretas dan digunakan untuk mengirim pesan ancaman kepadanya.
“Awalnya foto saya dan Athof bertuliskan ‘klaim tidak berdasar’ dikirim dari WhatsApp ayah saya. Lalu muncul pesan ‘lo mending mundur’ dan ‘lo akan gue eksekusi’, bahkan dikirim ke grup keluarga dan grup RT,” tutur Fathimah.
Mahasiswi Fakultas Kedokteran UI itu mengaku hingga kini belum mengetahui siapa pelaku teror tersebut.
“Kami sebenarnya membangun hubungan baik dengan semua pihak yang terlibat dalam Pemira UI,” katanya.
Menanggapi eskalasi ancaman pembunuhan Ketua dan Wakil BEM UI 2026, pihak Universitas Indonesia menyatakan sikap tegas.
UI menegaskan tidak akan menoleransi segala bentuk intimidasi yang mencederai demokrasi kampus dan membahayakan keselamatan civitas akademika.
Direktur Humas, Media, Pemerintah, dan Internasional UI, Erwin Panigoro, mengonfirmasi bahwa kampus telah membentuk Tim Investigasi Gabungan serta melakukan pendampingan hukum.
“Tim Advokasi UI bersama Kantor Keamanan Kampus telah mendampingi mahasiswa korban teror melapor ke SPKT Polres Metro Depok,” ujar Erwin, dikutip Minggu (18/1/2026).
Laporan tersebut telah tercatat secara resmi dengan Nomor LP/B/75/I/2026/SPKT/POLRES METRO DEPOK/POLDA METRO JAYA.
“Seluruh proses pelaporan dikawal langsung unsur keamanan kampus, BINMAS Pol Khusus UI, serta BKO Pamtup Polri untuk menjamin keamanan pelapor,” tegas Erwin.
Status Keamanan Dinaikkan
UI juga memutuskan menaikkan status penanganan keamanan sejak 17 Januari 2026.
Keputusan ini diambil dalam rapat koordinasi darurat yang melibatkan pimpinan kampus dan perwakilan mahasiswa.
Dalam rapat tersebut, UI menetapkan tiga langkah utama, yakni pembentukan Tim Investigasi Gabungan dengan aparat penegak hukum, perluasan pendampingan keamanan bagi panitia dan pendukung yang terancam, serta pembukaan hotline pengaduan untuk pengumpulan bukti hukum.
Erwin mengimbau seluruh pihak menahan diri dan menyerahkan proses sepenuhnya kepada tim investigasi.
“UI akan menindak tegas, baik secara akademik maupun pidana, siapa pun yang terbukti terlibat dalam aksi premanisme ini,” pungkasnya.
