Bantah Isu Lubang Persegi di Area Pemakaman Sunan Gunung Jati Tembus Mekkah, Ini Kata Juru Kunci
HAIJAKARTA.ID – Sebuah lubang persegi di area pemakaman Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menjadi sorotan publik setelah dikaitkan dengan narasi mistis sebagai jalan menuju Mekkah.
Cerita tersebut ramai diperbincangkan di media sosial dan menarik perhatian peziarah dari berbagai daerah.
Narasi bermula dari unggahan akun Instagram @reset.feeds yang menampilkan sebuah lubang berpagar besi di kawasan kompleks makam Sunan Gunung Jati.
Dalam rekaman itu terlihat tumpukan batu alam serta bunga tabur di dalam lubang, yang kemudian disebut-sebut sebagai jalur gaib yang konon pernah digunakan Sunan Gunung Jati untuk menuju Mekkah, Arab Saudi.
Menanggapi viralnya informasi tersebut, Juru Kunci Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati, Nasirudin, angkat bicara untuk meluruskan pemahaman yang berkembang di masyarakat.
Lubang Persegi di Area Pemakaman Sunan Gunung Jati Tembus Mekkah
Nasirudin menegaskan bahwa klaim mengenai lubang persegi di area pemakaman Sunan Gunung Jati sebagai lorong atau jalan menuju Mekkah sama sekali tidak memiliki dasar sejarah maupun makna spiritual.
“Lubang persegi di area pemakaman Sunan Gunung Jati itu bukan lorong atau jalan ke mana pun. Tidak ada ajaran seperti itu dalam sejarah Sunan Gunung Jati,” ujar Nasirudin, Selasa (13/1/2026).
Ia menyebut, informasi keliru tersebut diduga muncul dari penjelasan pemandu ziarah yang belum memahami sejarah kawasan secara utuh.
“Penjelasan bahwa lubang itu bisa tembus dan menjadi jalan ke Mekkah atau lorong gaib adalah informasi yang tidak benar,” tegasnya.
Makna Sebenarnya Puser Bumi
Nasirudin menjelaskan bahwa lokasi lubang persegi itu dikenal dengan sebutan Puser Bumi, istilah yang kerap disalahartikan oleh masyarakat.
“Puser Bumi itu bukan pusat dunia atau pintu gaib, melainkan penanda titik nol dari dataran tinggi perbukitan di kawasan Astana Gunung Jati,” jelas Nasirudin.
Menurutnya, kawasan tersebut sejak dahulu berfungsi sebagai tempat awal penyebaran peradaban Islam sekaligus ruang untuk bermunajat dan mencari ketenangan batin.
“Fungsinya hanya untuk berdoa, beribadah, dan refleksi diri. Tidak pernah dimaknai sebagai jalan fisik menuju tempat lain, apalagi ke Mekkah,” katanya.
Ia menambahkan, ajaran para wali selalu berpijak pada syariat Islam dan akal sehat, bukan pada cerita yang melampaui nalar.
“Para wali menyebarkan Islam dengan nilai rasional dan spiritual yang seimbang, bukan dengan hal-hal yang bertentangan dengan logika,” ujar Nasirudin.
Respons Peziarah
Viralnya cerita tentang lubang persegi di area pemakaman Sunan Gunung Jati memunculkan beragam respons dari peziarah. Sebagian menganggapnya sebagai kisah spiritual masa lalu, sementara lainnya memilih bersikap rasional dan melihatnya sebagai bagian simbolik dari kawasan makam.
Nasirudin pun mengimbau masyarakat agar lebih bijak menyikapi informasi yang beredar di media sosial.
“Kalau ada cerita sejarah atau spiritual, sebaiknya ditanyakan langsung kepada juru kunci atau pihak yang memahami, supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman,” tuturnya.
Ia menekankan pentingnya klarifikasi dan konfirmasi di tengah derasnya arus informasi digital agar nilai sejarah dan spiritual kawasan ziarah tetap terjaga sesuai ajaran yang sebenarnya.

