Benarkah Ramadhan Bakal Terjadi 2 Kali Dalam Setahun? Jangan Percaya Hoaks Sebelum Baca Ini
HAIJAKARTA.ID- Benarkah Ramadhan bakal terjadi 2 kali dalam setahun? Isu mengenai bulan suci Ramadan yang akan terjadi dua kali dalam satu tahun kembali ramai diperbincangkan publik.
Fenomena ini disebut-sebut akan terjadi pada tahun 2030, dan ternyata bukan sekadar isu atau mitos.
Secara ilmiah dan astronomis, peristiwa tersebut memang benar dan pernah terjadi sebelumnya.
Ramadan merupakan bulan dalam kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan (lunar).
Berbeda dengan kalender Masehi yang digunakan secara internasional dan berbasis peredaran matahari (solar), kalender Hijriah memiliki jumlah hari yang lebih pendek.
Perbedaan Kalender Jadi Kunci Utama
Kalender Masehi memiliki rata-rata 365,24 hari dalam satu tahun. Sementara itu, kalender Hijriah hanya terdiri dari sekitar 354 atau 355 hari. Artinya, terdapat selisih sekitar 10–11 hari setiap tahun.
Akibat selisih tersebut, awal Ramadan dalam kalender Masehi selalu maju lebih cepat setiap tahunnya.
Dalam jangka panjang, pergeseran ini akan membuat Ramadan jatuh dua kali dalam satu tahun Masehi, yaitu di awal dan akhir tahun.
Peneliti dan astronom dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa selisih waktu ini akan terakumulasi menjadi satu tahun penuh setelah sekitar 32–33 tahun.
Ramadan Dua Kali di Tahun 2030
Berdasarkan perhitungan astronomi, pada tahun 2030 umat Islam diperkirakan akan menjalani puasa Ramadan sebanyak dua kali, yakni:
- Ramadan pertama diperkirakan dimulai pada awal Januari 2030
- Ramadan kedua kembali hadir pada akhir Desember 2030
Fenomena serupa sebelumnya pernah terjadi pada tahun 1997, dan bahkan lebih awal lagi pada 1965. Setelah 2030, peristiwa ini diperkirakan akan terulang kembali sekitar tahun 2063.
Dampak pada Idul Fitri dan Idul Adha
Tak hanya Ramadan, hari besar Islam lainnya seperti Idul Fitri dan Idul Adha juga berpotensi terjadi dua kali dalam satu tahun Masehi pada periode yang sama.
Hal ini pernah terjadi, misalnya pada tahun 2000, ketika Idul Fitri dirayakan pada Januari dan kembali pada Desember di tahun yang sama.
Fenomena Alam, Bukan Kejadian Langka
Para ahli menegaskan bahwa peristiwa dua kali Ramadan bukan fenomena langit yang aneh, melainkan konsekuensi alami dari sistem kalender lunar.
Ramadan sendiri akan terus “berpindah musim”, dari musim hujan ke kemarau, lalu ke musim dingin dan panas di negara empat musim, dalam satu siklus panjang.
Para pakar menilai hal ini justru menjadi pengingat bahwa penentuan waktu ibadah Islam sangat erat dengan pergerakan alam semesta.
Dengan demikian, Ramadan dua kali dalam setahun bukan hoaks. Peristiwa ini dapat dijelaskan secara ilmiah melalui perbedaan sistem kalender Hijriah dan Masehi, serta telah terbukti terjadi di masa lalu dan akan kembali terulang di masa depan.
Umat Islam pun diharapkan dapat menyikapi fenomena ini dengan bijak, serta tetap mempersiapkan ibadah dengan baik sesuai ketetapan resmi pemerintah dan hasil rukyatul hilal.

