Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Santriwati buang bayi menggemparkan warga Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar). Remaja berinisial HS (18) tega membuang bayi yang baru dilahirkannya di area kebun belakang pondok pesantren karena malu hamil di luar nikah dan merasa ditinggal sang pacar, IT (20), yang telah menikah dengan perempuan lain.

Kasus ini terungkap setelah warga menemukan jasad bayi dalam kondisi mengenaskan di Kelurahan Bebanga, Kecamatan Kalukku, pada Selasa (17/2/2026) pagi. Polisi kemudian menetapkan HS sebagai tersangka.

Kasi Humas Polresta Mamuju Iptu Herman Basir menjelaskan, motif pelaku didasari rasa malu dan tekanan batin karena menghadapi kehamilan seorang diri.

“Jadi motifnya karena bayi tersebut hasil hubungan di luar nikah dan perempuan juga merasa dia sendiri yang berjuang,” ujar Kasi Humas Polresta Mamuju Iptu Herman Basir kepada wartawan, Jumat (20/2/2026).

Kehamilan Disembunyikan Sejak Mei 2025

Herman mengungkapkan, HS menjalin hubungan pacaran dengan IT dan telah dua kali melakukan hubungan badan hingga akhirnya hamil pada Mei 2025.

“Perempuan ini tahu dia hamil Mei tahun lalu,” katanya.

Saat mengetahui kehamilan tersebut, IT justru menikah dengan perempuan lain pada akhir 2025. HS pun memilih menutupi kondisi kehamilannya dari keluarga maupun teman-temannya di pesantren.

“Jadi dia malu pertama sama keluarga, kemudian sama teman-temannya,” bebernya.

HS kini telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun, ia tengah menjalani perawatan di rumah sakit akibat mengalami pendarahan dan berada dalam pengawasan petugas.

Sementara itu, IT sempat diperiksa oleh penyidik Satreskrim Polresta Mamuju. Ia mengaku tidak terlibat dalam aksi pembuangan bayi tersebut dan telah dipulangkan dengan status wajib lapor.

“Sudah tersangka (yang perempuan). Kalau laki-laki ini dia sempat ditahan dan diperiksa, cuman karena sudah 1×24 jam akhirnya dipulangkan dan wajib lapor,” pungkas Herman

Penemuan Jasad Bayi di Kebun Ponpes

Sebelumnya, warga sekitar pondok pesantren digegerkan oleh penemuan jasad bayi dengan kondisi lengan terputus di kebun belakang ponpes.

Penemuan itu bermula saat sejumlah santri sedang kerja bakti dan mencium bau tak sedap dari arah kebun. Mereka kemudian menyisir lokasi dan menemukan bayi dalam kondisi tidak bernyawa.

“Kondisi tubuh bayi dilaporkan telah menghitam dan mengering, dengan lengan kiri terputus. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada guru atau ustaz di pondok, sebelum diteruskan ke Polsek Kalukku,” Herman Basir, pada Rabu (18/2/2026).

Penyelidikan polisi mengarah kepada ibu kandung bayi yang ternyata merupakan salah satu santriwati di pondok tersebut. Identitas pelaku terungkap setelah penyidik memeriksa sejumlah santriwati dan ustaz.

“(Pelaku pembuang bayi) ibu kandungnya yang juga murid di pondok pesantren,” ujar Kasi Humas Polresta Mamuju Iptu Herman Basir, pada Jumat (20/2/2026).