Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Harga BBM tak bisa selamanya ditahan di tengah lonjakan harga minyak dunia.

Langkah ini dinilai mampu menjaga daya beli masyarakat, khususnya di tengah tekanan ekonomi global yang masih bergejolak.

Lembaga riset Prasasti Center for Policy Studies menilai bahwa jika tren kenaikan harga minyak dunia terus berlangsung hingga akhir tahun, maka ruang fiskal pemerintah akan semakin terbatas untuk menahan harga BBM tetap stabil.

Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menjelaskan bahwa penyesuaian harga energi merupakan hal yang tidak terhindarkan dalam kondisi tertentu.

“Jika harga minyak terus naik, akan semakin sulit bagi pemerintah mempertahankan harga BBM. Oleh karena itu, masyarakat dan pelaku usaha perlu memahami bahwa penyesuaian harga adalah bagian dari kebijakan yang wajar, selama disertai kompensasi yang tepat sasaran,” ujarnya.

Harga Minyak Dunia Melonjak Jauh di Atas Asumsi APBN

Saat ini, harga minyak global telah melampaui asumsi dalam APBN 2026 yang ditetapkan sekitar US$ 70 per barel.

Di pasar internasional, harga minyak bahkan telah menyentuh kisaran US$ 90 hingga US$ 100 per barel.

Kondisi ini memberikan tekanan besar terhadap anggaran negara, terutama karena subsidi energi berpotensi membengkak.

Lonjakan harga minyak tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berimbas pada berbagai sektor lain seperti transportasi, logistik, hingga harga kebutuhan pokok.

Ancaman ke Ekonomi: Pertumbuhan Bisa Melambat

Dampak dari tingginya harga minyak juga diperkirakan akan menahan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Anggota Dewan Pakar Prasasti sekaligus mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah, memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional berpotensi turun ke kisaran 4,7% hingga 4,9%, lebih rendah dari rata-rata sekitar 5% dalam beberapa tahun terakhir.

Penurunan ini terjadi akibat meningkatnya biaya produksi, tekanan inflasi, serta melemahnya daya beli masyarakat jika harga energi naik.

Risiko Defisit Fiskal Melebar

Selain berdampak pada pertumbuhan ekonomi, tekanan juga terlihat pada sisi fiskal.

Dalam skenario harga minyak mencapai US$ 100 per barel dan nilai tukar rupiah melemah hingga Rp17.000 per dolar AS, defisit anggaran diperkirakan akan melampaui batas aman.

Halim menyebut, defisit fiskal Indonesia berpotensi melebar hingga 3,3%–3,5% terhadap PDB, melewati ambang batas 3% yang selama ini dijaga pemerintah.

Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius karena dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi jangka panjang.

Koordinasi Kebijakan Jadi Kunci Stabilitas

Di tengah ketidakpastian global, para pelaku usaha dan pasar kini menunggu arah kebijakan dari otoritas ekonomi nasional.

Koordinasi antara lembaga seperti:

  • Bank Indonesia (BI)
  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
  • Kementerian Keuangan
  • yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dinilai sangat krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Kebijakan yang tepat dan terkoordinasi diharapkan mampu meredam dampak negatif dari kenaikan harga energi sekaligus menjaga kepercayaan pasar.

Masyarakat Perlu Bersiap

Dengan kondisi harga minyak global yang masih tinggi dan penuh ketidakpastian, kemungkinan penyesuaian harga BBM di dalam negeri menjadi sesuatu yang realistis.

Meski demikian, pemerintah diharapkan tetap mengedepankan kebijakan yang berpihak pada masyarakat, seperti:

  • subsidi yang lebih tepat sasaran
  • bantuan sosial bagi kelompok rentan
  • serta pengendalian inflasi

Langkah ini penting agar dampak kenaikan harga energi tidak terlalu membebani masyarakat luas.