Harga Minyak Dunia Anjlok 17 Persen Usai Gencatan Senjata, Bursa Saham Global Langsung Melonjak!
HAIJAKARTA.ID- Harga minyak dunia anjlok 17 persen usai gencatan senjata anatara Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (8/4/2026).
Sentimen positif langsung menyelimuti pasar saham dunia, sementara harga minyak yang sebelumnya melonjak tinggi justru mengalami penurunan tajam.
Berdasarkan laporan dari Associated Press yang dikutip KompasTV, perkembangan ini memicu optimisme investor terhadap meredanya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Harga Minyak Turun Tajam, Kekhawatiran Energi Mereda
Penurunan paling mencolok terjadi di sektor energi. Harga minyak mentah Amerika Serikat (WTI) tercatat turun drastis hingga sekitar 17 persen ke level kisaran 93 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah jenis Brent sebagai acuan global juga merosot lebih dari 16 persen, berada di kisaran 91 dolar AS per barel.
Padahal sebelumnya, harga minyak sempat menyentuh 119 dolar AS per barel, dipicu oleh kekhawatiran pecahnya konflik besar yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Penurunan ini terjadi seiring harapan bahwa jalur distribusi energi, khususnya melalui Selat Hormuz, akan kembali normal setelah kesepakatan gencatan senjata dicapai.
Wall Street Melonjak, Investor Kembali Percaya
Di sisi lain, pasar saham Amerika Serikat mengalami lonjakan signifikan. Indeks utama di Wall Street mencatat penguatan besar pada awal perdagangan:
- Dow Jones Industrial Average melonjak lebih dari 1.300 poin (sekitar 3%)
- S&P 500 naik 2,6%
- Nasdaq menguat 3,3%
Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap stabilitas global setelah ketegangan antara dua negara tersebut mulai mereda.
Bursa Asia dan Eropa Ikut Reli
Penguatan pasar tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga menyebar ke berbagai kawasan dunia.
Di Asia:
- Kospi (Korea Selatan) naik 6,9%
- Nikkei (Jepang) menguat 5,4%
- Hang Seng (Hong Kong) naik 3,1%
Di Eropa:
- DAX (Jerman) naik 5,2%
- CAC 40 (Prancis) menguat 4,9%
Kenaikan ini menunjukkan bahwa efek positif dari gencatan senjata dirasakan secara global, terutama oleh negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.
Gencatan Senjata Dua Pekan dan Dampaknya
Kesepakatan gencatan senjata ini disebut berlangsung selama dua pekan, dengan syarat utama pemulihan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Presiden AS sebelumnya menegaskan penghentian operasi militer dengan harapan Iran juga menghentikan serangan serta menjaga stabilitas jalur perdagangan energi.
Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri menyatakan kesediaan untuk menghentikan serangan dengan syarat tidak ada agresi lanjutan serta pengaturan jalur pelayaran tetap berada dalam koordinasi mereka.
Risiko Geopolitik Masih Membayangi
Meski pasar merespons positif, situasi di kawasan Timur Tengah masih belum sepenuhnya stabil.
Sejumlah laporan menyebutkan masih adanya aktivitas militer seperti peluncuran rudal dan penggunaan drone di beberapa wilayah Teluk.
Analis memperkirakan volatilitas harga minyak masih akan tinggi dalam waktu dekat, terutama karena:
- Ketergantungan dunia pada jalur energi di Selat Hormuz
- Ketidakpastian implementasi kesepakatan
- Risiko eskalasi ulang konflik
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyambut baik gencatan senjata tersebut.
Indonesia menilai langkah ini sebagai momentum penting untuk mendorong penyelesaian konflik secara damai dan berkelanjutan.
Juru bicara Kemlu menegaskan bahwa dialog dan diplomasi merupakan satu-satunya jalan untuk mengakhiri konflik, serta menekankan pentingnya menjaga kepentingan masyarakat sipil dalam setiap proses perdamaian.
