Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Kenaikan harga semen naik imbas perang AS Israel dan Iran mulai dirasakan di dalam negeri.

Fenomena ini seiring berjalannya dengan lonjakan biaya energi akibat memanasnya kondisi geopolitik global.

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) menjadi salah satu produsen yang terdampak langsung, terutama dari kenaikan harga bahan bakar dan logistik.

Harga Semen Naik Imbas Perang AS Israel dan Iran

Presiden Direktur Indocement, Christian Kartawijaya, mengungkapkan bahwa harga energi untuk industri mengalami kenaikan signifikan sejak awal tahun.

Kenaikan tersebut terjadi bertahap, mulai dari 11 persen pada Maret, kemudian melonjak menjadi 22 persen di pertengahan bulan, hingga secara kumulatif mencapai 35,6 persen per 1 April 2026.

Lonjakan ini menjadi faktor utama harga semen naik imbas perang AS Israel dan Iran, mengingat energi merupakan komponen besar dalam biaya produksi.

Dalam struktur biaya, sektor tambang menyumbang sekitar 10 persen dari total biaya produksi.

Kenaikan harga bahan bakar turut menambah beban hingga 3,6 persen.

Selain itu, biaya logistik juga meningkat, terutama untuk distribusi ke luar Pulau Jawa.

Saat ini, bahan bakar menyumbang sekitar 45 persen dari biaya kapal, sementara biaya pengiriman mencapai 15 persen dari total produksi.

Kondisi tersebut membuat tambahan beban logistik naik sekitar 4-5 persen.

Secara keseluruhan, perusahaan memperkirakan kenaikan biaya produksi mencapai 5-6 persen di luar Jawa dan 2-3 persen di wilayah Jawa.

Penyesuaian Harga Dilakukan Bertahap

Menghadapi tekanan tersebut, perusahaan mulai melakukan penyesuaian harga secara hati-hati.

“Kami melakukan penyesuaian harga secara bertahap dengan sangat berhati-hati. Saat ini kenaikan masih berkisar Rp1.500 hingga Rp3.000 per sak atau sekitar 2-4 persen,” kata Christian.

Ia menegaskan bahwa kenaikan tersebut masih jauh dari ideal jika dibandingkan dengan tekanan biaya yang terjadi.

Untuk wilayah luar Jawa, kenaikan harga ideal diperkirakan mencapai Rp3.000-Rp5.000 per sak. Sementara di Jawa sekitar Rp1.500-Rp2.000 per sak.

“Namun pelaksanaannya tidak bisa sekaligus karena harus mempertimbangkan kemampuan pasar dalam menyerap kenaikan tersebut,” ujarnya.

Dampak Perang Global ke Industri

Fenomena harga semen naik imbas perang AS Israel dan Iran tidak lepas dari efek domino konflik global terhadap sektor energi.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk potensi gangguan distribusi energi di jalur strategis seperti Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga minyak dan gas dunia.

Dampaknya, harga BBM, logistik, hingga bahan baku industri ikut terdorong naik.

Selain energi, Indocement juga menghadapi tekanan dari kenaikan harga batu bara yang menyumbang 30-40 persen biaya produksi, serta pelemahan nilai tukar rupiah.

“Sekitar 40-50 persen biaya kami menggunakan basis dolar AS, sehingga pelemahan rupiah turut menambah tekanan biaya,” kata Christian.

10 Daftar Harga yang Berpotensi Naik

Berikut ini daftar harga barang yang diprediksi bakal naik imbas perang AS Israel dan Iran:

1. BBM (Bensin, Solar, Avtur)

Kenaikan harga minyak dunia jadi pemicu utama, berdampak langsung ke semua sektor.

2. Gas LPG dan Gas Rumah Tangga

Biaya impor dan distribusi naik akibat gangguan pasokan energi global.

3. Semen dan Material Bangunan

Termasuk efek langsung dari harga semen naik imbas perang AS Israel dan Iran.

4. Biaya Logistik dan Ongkos Kirim

Kenaikan bahan bakar membuat distribusi barang jadi lebih mahal.

5. Tiket Pesawat

Harga avtur naik mendorong maskapai menyesuaikan tarif.

6. Harga Pangan (Beras, Minyak Goreng, Daging, dll)

Biaya distribusi dan produksi meningkat akibat efek energi.

7. Pupuk dan Produk Pertanian

Gangguan rantai pasok global berdampak ke sektor pertanian.

8. Emas dan Logam Mulia

Permintaan naik karena jadi aset aman saat kondisi geopolitik tidak stabil.

9. Biaya Konstruksi Secara Umum

Selain semen, bahan lain seperti baja dan transportasi proyek ikut naik.

10. Barang Konsumsi Harian

Efek domino dari logistik dan energi membuat harga barang ikut terdongkrak.