Hukum Chatting dengan Lawan Jenis Saat Puasa: Batal, Makruh, atau Masih Boleh?
HAIJAKARTA.ID – Di tengah aktivitas harian yang semakin bergantung pada gadget, chatting menjadi bentuk komunikasi yang sulit dihindari, termasuk dengan lawan jenis.
Saat bulan Ramadan, pertanyaan pun muncul di tengah masyarakat: bagaimana hukum chatting dengan lawan jenis saat puasa? Apakah hal tersebut dapat membatalkan puasa, atau sekadar memengaruhi nilainya?
Islam sebagai agama yang realistis tidak menutup ruang komunikasi, namun tetap memberikan batasan agar puasa tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga terjaga dari hal-hal yang dapat mengurangi pahala dan kesempurnaannya.
Hukum Chatting dengan Lawan Jenis Saat Puasa
Chatting dalam konteks ini mencakup berbagai bentuk komunikasi digital, seperti pesan teks, panggilan suara, video call, hingga berbagi foto atau video. Pada dasarnya, hukum chatting dengan lawan jenis saat puasa tidak bersifat mutlak, melainkan bergantung pada isi, tujuan, dan dampaknya terhadap diri dan ibadah puasa.
Syekh Ibnu Jibrin dalam Fatawa Al-Mar’ah menegaskan bahwa mengirim surat yang dalam konteks hari ini termasuk chatting kepada lawan jenis yang bukan mahram tidak dibolehkan karena berpotensi menimbulkan fitnah.
Meski niat awalnya terasa biasa atau baik, godaan setan dapat masuk secara perlahan dan menumbuhkan ketertarikan yang tidak disadari.
Pandangan ini sejalan dengan pendapat banyak ulama yang menilai bahwa komunikasi digital yang tidak terkontrol bisa menjadi pintu menuju kemaksiatan.
Percakapan ringan dapat berkembang menjadi kedekatan emosional, melemahkan batasan, hingga membuka jalan pada hal-hal yang dilarang agama.
Dalam kaidah fikih dikenal prinsip sadd adz-dzari‘ah, yaitu menutup segala sarana yang dapat mengantarkan pada perbuatan haram.
Artinya, jika chatting berpotensi memicu syahwat, melalaikan ibadah, atau menimbulkan fitnah, maka lebih baik dihindari sejak awal.
Hal ini menjadi semakin penting saat berpuasa. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
Rubba ṣā`imin laisa lahu min ṣiyāmihi illal-jū‘u wal-‘aṭasy
Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan haus.” (HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa puasa bisa kehilangan nilai jika tidak dijaga adabnya, termasuk dalam interaksi dengan lawan jenis.
Batasan Etika Chat Lawan Jenis Saat Puasa
Islam tidak melarang komunikasi, tetapi memberikan rambu agar tetap dalam batas yang aman dan bermartabat. Allah SWT berfirman:
فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ
Fa lā takhḍa‘na bil-qawli fa yaṭma‘allażī fī qalbihī maraḍ
Artinya: “Maka janganlah kamu melembutkan suara dalam berbicara sehingga orang yang ada penyakit dalam hatinya menjadi berkeinginan.” (QS. Al-Ahzab: 32)
Ayat ini menjadi dasar penting bahwa cara berbicara dan berkomunikasi termasuk lewat chat harus dijaga agar tidak mengundang syahwat atau fitnah.
Jadi kesimpulannya, chatting dengan lawan jenis saat puasa tidak otomatis membatalkan puasa, tetapi bisa mengurangi pahala dan merusak makna puasa jika dilakukan tanpa batas.
Kehati-hatian, niat yang lurus, dan menjaga adab komunikasi menjadi kunci agar ibadah puasa tetap bernilai di sisi Allah SWT.
Tips Menjaga Puasa Saat Chatting dengan Lawan Jenis
1. Luruskan niat sebelum membalas chat
Tanyakan ke diri sendiri: ini perlu atau cuma ikut emosi dan iseng? Niat yang jelas bantu menahan obrolan yang nggak penting.
2. Batasi topik, hindari obrolan personal
Fokus pada hal yang memang perlu (kerja, urusan penting). Hindari curhat, bercanda berlebihan, atau bahasan yang memancing kedekatan emosional.
3. Jaga gaya bahasa tetap sopan dan datar
Hindari kata-kata manis, emot berlebihan, atau nada yang bisa disalahartikan. Chat singkat, jelas, dan seperlunya.
4. Tahu kapan harus berhenti
Kalau obrolan mulai nyaman, larut, atau bikin hati nggak tenang, itu tanda harus dihentikan. Menjaga puasa juga berarti menjaga hati.
5. Isi waktu puasa dengan aktivitas yang lebih bernilai
Kurangi scrolling dan chatting tidak penting. Ganti dengan dzikir, baca Al-Qur’an, atau aktivitas produktif agar fokus tetap terjaga.
6. Ingat tujuan puasa: menahan diri, bukan sekadar lapar
Puasa melatih pengendalian hawa nafsu, termasuk lewat kata dan interaksi. Menahan diri dari chat yang tak perlu juga bagian dari ibadah.
