Isi Percakapan Terakhir Kapten Kapal Sebelum Hilang di Selat Hormuz, Sempat Keluhkan GPS Error
HAIJAKARTA.ID – Kisah haru menyelimuti keluarga seorang kapten kapal asal Sulawesi Selatan setelah kapal yang ia nahkodai dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Hormuz.
Peristiwa ini memicu perhatian publik karena jalur tersebut dikenal sebagai salah satu rute pelayaran paling sibuk di dunia.
Informasi mengenai isi percakapan terakhir kapten kapal sebelum hilang di Selat Hormuz kini menjadi sorotan, setelah keluarga mengungkap komunikasi terakhir yang sempat dilakukan beberapa hari sebelum kapal dilaporkan tenggelam.
Kapten kapal bernama Miswar diketahui menakhodai kapal tugboat Mussafah 2.
Ia dilaporkan hilang setelah kapal tersebut mengalami insiden di perairan strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Keluarga Menunggu Kabar dari Selat Hormuz
Di rumah sederhana milik keluarga Kapten Miswar di Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu, suasana dipenuhi kecemasan.
Anggota keluarga terus memeriksa telepon genggam dengan harapan mendapatkan kabar terbaru.
Kabar hilangnya kapal tersebut pertama kali diterima keluarga pada Jumat (6/3/2026). Informasi itu datang dari rekan kerja sang kapten.
Kerabat keluarga, Sumarlin Ahmad, mengatakan kabar awal menyebut kapal yang dinakhodai Miswar diduga terkena ranjau laut.
“Kami pertama mengetahui kabar tersebut dari rekan kerjanya, Kapten Ismail. Ia menyampaikan bahwa kapal yang dipimpin Kapten Miswar diduga terkena ranjau laut,” kata Sumarlin saat ditemui di kediaman keluarga di Pattedong, Sabtu (7/3/2026).
Isi Percakapan Terakhir Kapten Kapal Sebelum Hilang di Selat Hormuz
Beberapa hari sebelum insiden terjadi, Miswar masih sempat melakukan komunikasi dengan istrinya melalui sambungan telepon.
Percakapan terakhir itu berlangsung pada Rabu (4/3/2026).
Dalam pembicaraan tersebut, Miswar mengatakan dirinya sedang menjalankan misi membantu kapal lain yang disebut mengalami masalah di wilayah Selat Hormuz.
Namun dari isi percakapan terakhir kapten kapal sebelum hilang di Selat Hormuz, tersirat adanya kekhawatiran yang dirasakan sang kapten.
Menurut keluarga, Miswar sempat mengeluhkan gangguan pada sistem navigasi kapal.
“Beliau sempat mengatakan bahwa GPS kapal mengalami gangguan. Ia menyebut seperti melihat sesuatu di sekitar kapal dan sempat meminta arahan navigasi,” ungkap Sumarlin.
Setelah percakapan itu, komunikasi mulai terputus-putus hingga akhirnya tidak ada lagi kabar dari kapal tersebut.
Anak dari Kapten Miswar masih sempat mencoba menghubungi sang ayah melalui pesan singkat pada Kamis (5/3/2026) siang. Namun pesan tersebut tidak pernah mendapatkan balasan.
Sejak saat itu, keluarga tidak lagi menerima kabar dari kapten kapal tersebut.
Kerabat dan warga sekitar terus berdatangan ke rumah keluarga Miswar yang berada di pinggir jalan poros Makassar-Palopo untuk memberikan dukungan sekaligus menanyakan perkembangan informasi terbaru.
Sosok Kapten Miswar
Seorang warga bernama Jasri mengingat perjalanan terakhirnya bersama Miswar sebelum sang kapten berangkat bekerja ke luar negeri.
“Waktu itu kami berangkat bersama menggunakan mobil sewaan menuju Makassar. Saya satu kendaraan dengan Kapten Miswar dan seorang keponakan istrinya,” kata Jasri.
Miswar dikenal sebagai pelaut berpengalaman. Ia merupakan lulusan Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar angkatan ke-15.
Biasanya, kapal tugboat Mussafah 2 hanya bertugas membantu kapal besar keluar masuk pelabuhan Abu Dhabi. Namun perjalanan kali ini disebut sebagai rute terjauh yang pernah ditempuh kapal tersebut.
Menurut keluarga, perjalanan dari pelabuhan Abu Dhabi menuju lokasi kejadian di Selat Hormuz memerlukan waktu sekitar satu hari.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia juga telah berkoordinasi dengan keluarga korban.
Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab, Judha Nugraha, menyampaikan bahwa terdapat tiga warga negara Indonesia yang masih dinyatakan hilang dalam insiden tersebut.
“Informasi sementara yang kami terima menyebutkan tiga WNI masih dalam status hilang, sementara satu orang berhasil selamat,” ujar Judha dalam keterangannya kepada KompasTV, Minggu (8/3/2026).
Ia menambahkan, satu ABK yang selamat mengalami luka bakar sekitar 20 persen.
Kapal tugboat Mussafah 2 diketahui membawa tujuh orang kru yang terdiri dari beberapa warga negara Indonesia serta awak kapal dari India dan Filipina.
Hingga kini keluarga masih berharap kabar baik dari Selat Hormuz, menunggu kemungkinan ditemukannya Kapten Miswar dan kru lain yang dilaporkan hilang.

