Jangan Salah Pilih! Ini Jenis Makanan yang Tahan 12 Jam Menurut Ahli
HAIJAKARTA.ID – Makanan yang disimpan dalam waktu lama sebelum dikonsumsi membutuhkan perhatian khusus, terutama dari sisi keamanan pangan dan kualitas gizinya.
Tidak semua makanan dirancang untuk bertahan dalam rentang waktu penyimpanan yang panjang, apalagi jika dikonsumsi hingga 12 jam setelah dimasak.
Ahli gizi menilai, faktor pengolahan, bahan baku, hingga cara penyimpanan menjadi penentu utama apakah makanan masih aman dan layak dikonsumsi.
Karena itu, pemahaman mengenai jenis makanan yang tahan 12 jam menjadi penting, khususnya dalam konteks penyediaan makanan bagi masyarakat dan anak-anak.
Jenis Makanan yang Tahan 12 Jam
Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB), Ali Khomsan, menjelaskan bahwa pilihan makanan yang mampu bertahan lebih dari 12 jam sebenarnya cukup terbatas.
Menurutnya, sebagian besar makanan yang awet berasal dari kategori ultra-processed food (UPF).
“Kalau bicara tentang makanan yang bisa awet lebih dari 12 jam, sebagian di antaranya adalah makanan UPF seperti yang banyak tersedia di supermarket. Jenis makanan ini relatif tahan lama,” ujar Ali, Selasa (20/1/2026).
Ali menyebutkan, contoh makanan ultra-proses yang dikenal memiliki daya simpan panjang antara lain sosis, chicken nugget, hingga susu Ultra-High Temperature (UHT).
Produk-produk tersebut memang dirancang melalui proses khusus agar tidak mudah rusak meski disimpan dalam waktu lama.
Selain makanan ultra-proses, Ali juga menyinggung beberapa masakan lokal yang dikenal cukup awet.
Namun, jumlahnya tidak banyak dan tetap memerlukan penanganan yang tepat.
“Kalau masakan lokal yang relatif awet, rendang termasuk yang tahan lama. Ayam goreng juga sebenarnya bisa masuk kategori itu,” katanya.
Meski demikian, Ali menegaskan bahwa tidak semua masakan rumahan bisa dikategorikan sebagai jenis makanan yang tahan 12 jam.
Tanpa pengolahan dan penyimpanan yang sesuai, risiko kerusakan makanan tetap tinggi.
Sayuran Paling Berisiko
Ali mengingatkan bahwa kelompok makanan yang paling rentan rusak adalah sayur-sayuran.
Sayuran yang dimasak lalu disimpan berjam-jam berpotensi mengalami penurunan keamanan pangan.
“Sayur-sayuran itu sangat rentan. Apalagi jika dimasak sejak dini hari, dibagikan siang, lalu baru dikonsumsi saat berbuka puasa. Risiko keamanannya tinggi,” jelas Ali.
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius, terutama jika makanan akan diberikan kepada anak-anak.
Pemilihan menu perlu mempertimbangkan tidak hanya nilai gizi, tetapi juga keamanan konsumsi.
“Jenis makanan bergizi yang diberikan ke anak-anak harus diatur supaya tidak menimbulkan risiko kesehatan bagi anak-anak,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ali menjelaskan bahwa makanan yang tidak dirancang untuk bertahan lama akan menunjukkan tanda-tanda penurunan kualitas.
Gejala tersebut bisa dikenali secara fisik maupun rasa.
“Makanan yang tidak tahan 12 jam bisa berlendir, terasa asam atau kecut, dan akhirnya basi,” kata Ali.
Ia menilai, aspek keamanan ini semestinya menjadi pertimbangan utama dalam kebijakan penyaluran makanan yang akan dikonsumsi beberapa jam setelah dibagikan.
Pasalnya, opsi makanan yang benar-benar aman disimpan lama jumlahnya terbatas.
“Makanan yang awet memang opsinya lebih sedikit dibanding makanan segar. Jadi silakan saja pemerintah mengatur, tapi harus betul-betul mempertimbangkan keamanannya,” tuturnya.
Dengan memahami karakteristik jenis makanan yang tahan 12 jam, masyarakat diharapkan lebih cermat dalam memilih menu, terutama untuk konsumsi anak-anak dan kegiatan yang membutuhkan waktu tunggu panjang sebelum makanan dikonsumsi.
