Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Kisah Ashabul Kahfi dalam Al Quran jadi moment monumental sekolompok pemuda beriman yang memilih mempertahankan tauhid meski harus menghadapi ancaman penguasa zalim.

Kisah ini diabadikan Allah dalam Surah Al-Kahfi sebagai bukti nyata kekuasaan-Nya sekaligus pelajaran lintas zaman.

Allah mengisahkan bagaimana para pemuda ini hidup di tengah masyarakat penyembah berhala di bawah kekuasaan seorang raja bengis bernama Diqyanus.

Mereka berasal dari kalangan bangsawan, namun memilih meninggalkan kemewahan dunia demi mempertahankan keyakinan kepada Allah Yang Maha Esa.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman bahwa para pemuda tersebut adalah orang-orang yang beriman, lalu Allah menambahkan petunjuk dalam hati mereka (QS. Al-Kahfi: 13).

Berani Menyatakan Tauhid di Hadapan Raja Zalim

Saat keimanan mereka diketahui, para pemuda ini dipanggil menghadap sang raja. Di hadapan ancaman hukuman mati, mereka tetap tegas menyatakan:

“Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami tidak akan menyembah selain Dia.”

Pernyataan ini menjadi simbol keberanian luar biasa generasi muda dalam mempertahankan akidah, meski nyawa menjadi taruhannya.

Para mufasir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keberanian ini lahir dari hati yang telah diteguhkan Allah dengan hidayah dan kesabaran.

Hijrah ke Gua Demi Menyelamatkan Iman

Setelah menyadari bahwa lingkungan mereka tak lagi aman bagi keimanan, para pemuda ini memutuskan mengasingkan diri ke sebuah gua di pegunungan.

Di sanalah mereka berdoa memohon perlindungan dan rahmat Allah.

Allah kemudian menidurkan mereka dalam tidur yang sangat panjang sebagai bentuk penjagaan langsung dari-Nya.  “Maka Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu selama bertahun-tahun.” (QS. Al-Kahfi: 11)

Menurut Al-Qur’an, mereka tertidur selama 300 tahun ditambah sembilan tahun (QS. Al-Kahfi: 25).

Keajaiban Perlindungan Ilahi di Dalam Gua

Selama ratusan tahun itu, Allah mengatur alam secara sempurna:

  • Sinar matahari tidak langsung mengenai tubuh mereka
  • Posisi tubuh mereka dibolak-balik agar tidak rusak
  • Udara gua tetap segar dan luas
  • Bahkan seekor anjing setia menjaga di pintu gua
  • Semua ini menjadi tanda bahwa kekuasaan Allah melampaui hukum alam yang biasa dipahami manusia.
  • Terbangun di Zaman yang Telah Berubah Total
  • Ketika Allah membangunkan mereka, para pemuda mengira hanya tidur sehari atau setengah hari. Padahal dunia telah berubah drastis.
  • Generasi lama telah wafat, kekuasaan berganti, dan masyarakat telah mengenal tauhid.

Peristiwa ini akhirnya mengungkap keberadaan mereka kepada masyarakat saat itu  sekaligus menjadi bukti nyata bahwa kebangkitan setelah kematian adalah sesuatu yang benar.

Jumlah Ashabul Kahfi

Al-Qur’an menyebutkan adanya perbedaan pendapat mengenai jumlah mereka:

  • Tiga orang + seekor anjing
  • Lima orang + seekor anjing
  • Tujuh orang + seekor anjing

Mayoritas ulama tafsir, termasuk Ibnu Katsir, menegaskan bahwa pendapat terakhir (tujuh pemuda) adalah yang paling kuat berdasarkan susunan ayat.

Hikmah Besar dari Kisah Ashabul Kahfi

Para ulama merangkum banyak pelajaran penting, di antaranya:

  • Pemuda adalah agen perubahan terbesar dalam dakwah
  • Iman bisa bertambah dengan ketaatan
  • Keberanian membela kebenaran adalah harga diri seorang mukmin
  • Hijrah demi agama adalah kemuliaan, bukan kekalahan
  • Tawakal harus dibarengi ikhtiar
  • Menjauhi debat sia-sia dan menjaga rahasia adalah bagian dari kebijaksanaan

Kisah Ashabul Kahfi bukan sekadar cerita masa lampau, tetapi potret nyata bagaimana iman mampu mengalahkan ketakutan, kekuasaan, dan tekanan sosial.

Di tengah tantangan moral zaman modern, kisah ini menjadi pengingat bahwa mempertahankan akidah selalu berbuah pertolongan Allah  meski jalannya tak selalu mudah.