Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Kasus operator SPBU dianiaya di Jakarta Timur menjadi sorotan publik setelah tiga pegawai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 3413901 di kawasan Cipinang, Pulogadung, diduga menjadi korban kekerasan oleh seorang oknum aparat.

Peristiwa operator SPBU dianiaya di Jakarta Timur ini terjadi pada Minggu (22/2) sekitar pukul 22.00 WIB.

Insiden bermula ketika seorang pelanggan hendak mengisi BBM subsidi jenis Pertalite, namun pengisian ditolak karena data kendaraan tidak sesuai dengan sistem barcode.

Kronologi Operator SPBU Dianiaya di Jakarta Timur

Staf SPBU 3413901, Mukhlisin (38), membenarkan adanya dugaan penganiayaan tersebut.

Ia mengatakan tiga pegawai menjadi korban dalam insiden itu.

Ia menyatakan memang terdapat tiga pegawai yang diduga mengalami tindak kekerasan oleh seseorang yang disebut sebagai oknum aparat.

Menurut Mukhlisin, awal kejadian saat pelanggan melakukan pemindaian barcode untuk pengisian Pertalite.

Nomor polisi kendaraan terdaftar dalam sistem, tetapi jenis kendaraan tidak sesuai dengan data yang tercatat.

Mukhlisin menjelaskan pelanggan tetap ingin mengisi Pertalite. Meski nomor barcode terdeteksi benar, kendaraan yang digunakan tidak cocok dengan data yang terdaftar.

Sesuai aturan di SPBU, nomor polisi dan jenis kendaraan harus identik dengan data dalam sistem.

Karena tidak sesuai prosedur operasional standar (SOP), petugas menolak pengisian Pertalite dan menawarkan alternatif BBM non-subsidi.

Ia menerangkan apabila barcode tidak cocok, pelanggan diarahkan untuk membeli Pertamax. Pasalnya, Pertamax tidak menggunakan sistem barcode sehingga tetap bisa dilayani, sedangkan Pertalite wajib sesuai data.

Penolakan tersebut diduga memicu emosi pelanggan hingga berujung pada aksi kekerasan terhadap para pegawai.

Tiga Korban Alami Luka dan Syok

Dalam kasus operator SPBU dianiaya di Jakarta Timur ini, tiga korban yakni:

  • Ahmad Khoirul Anam (staf, masa kerja 5 tahun)
  • Lukmanul Hakim (operator, 6 bulan bekerja)
  • Abud Mahmudin (operator, 4 tahun bekerja)

Akibat insiden tersebut, Khoirul Anam mengalami tamparan di bagian pipi. Lukman dipukul di rahang kanan, sedangkan Abud menerima pukulan di bawah mata dan pipi dekat mulut hingga menyebabkan giginya goyah.

Mukhlisin mengungkapkan Khoirul ditampar pada bagian pipi. Lukman menerima pukulan di sisi kanan rahang, sementara Abud dipukul di area bawah mata serta pipi dekat mulut hingga giginya bergeser.

Meski tidak menjalani perawatan di rumah sakit, ketiganya mengalami syok dan diliburkan sementara.

Mukhlisin menyebut kondisi para korban masih terguncang, namun cukup beristirahat di rumah dan tidak perlu dirawat inap. Mereka diliburkan satu hari dan digantikan petugas lain.

Korban Sempat Takut Masuk Kerja

Salah satu korban, Lukmanul Hakim (19), mengaku sempat tidak masuk kerja karena khawatir pelaku kembali datang.

Ia membenarkan sempat mengambil waktu istirahat lantaran takut pelaku mendatangi lokasi lagi dalam kondisi masih emosi.

Lukman mengatakan seharusnya ia bekerja pada Senin (23/2). Namun manajemen tidak mengizinkannya masuk demi alasan keamanan, karena pelaku sempat memanggil-manggil namanya saat kejadian.

Ia juga mengaku pelaku sempat menyatakan memiliki jabatan tinggi, sehingga membuat para operator merasa terintimidasi.

Sebagai pekerja pelayanan publik, situasi tersebut meninggalkan trauma tersendiri.

Lukman mengatakan dirinya hanya pekerja biasa dan khawatir jika pelaku kembali dengan dukungan pihak lain, sehingga rasa cemas masih ada.

Pemilik SPBU 3413901, Ernesta, memastikan kasus operator SPBU dianiaya di Jakarta Timur telah dilaporkan ke Polsek Pulogadung.

Ia menyampaikan laporan sudah diajukan ke Polsek Pulo Gadung yang berada di seberang SPBU. Para pegawai yang mengalami luka juga telah menjalani visum.

Tak lama setelah laporan dibuat, Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Metro Jaya mendatangi lokasi untuk meminta keterangan dan memeriksa rekaman CCTV.

Mukhlisin mengatakan Propam Polda Metro Jaya datang sekitar pukul 16.00 WIB guna meminta keterangan terkait rekaman kamera pengawas.

Ia menambahkan respons aparat dinilai cepat. Setelah laporan diterima, korban langsung diarahkan menjalani visum di Rumah Sakit Polri Kramat Jati dan prosesnya langsung berjalan.

Kasus operator SPBU dianiaya di Jakarta Timur ini juga viral di media sosial melalui akun Instagram @nestagram.

Dalam rekaman CCTV terlihat seorang pria berpakaian hitam memukul, menampar, mendorong, serta membentak pegawai yang menolak pengisian Pertalite.

Para korban berharap ada jaminan keamanan agar dapat kembali bekerja tanpa rasa takut.