Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Menjelang akhir Ramadan, umat Muslim di Indonesia mulai bersiap menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perbedaan metode penentuan 1 Syawal antara lebaran Idul Fitri Muhammadiyah dan pemerintah kembali menjadi sorotan.

Lebaran Idul Fitri Muhammadiyah

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan Lebaran Idul Fitri Muhammadiyah 1 Syawal 1446 Hijriah jatuh pada hari Senin, 31 Maret 2025.

Sementara itu, pemerintah masih menunggu hasil sidang isbat untuk menetapkan tanggal resminya.

Perbedaan ini sering kali menjadi perbincangan di masyarakat, terutama bagi mereka yang ingin merencanakan mudik atau kegiatan Lebaran.

Lantas, bagaimana metode yang digunakan Muhammadiyah dan apa perbedaannya dengan pemerintah?

Metode Hisab Muhammadiyah dalam Menentukan Idul Fitri

Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal untuk menentukan awal bulan Hijriah.

Metode ini didasarkan pada perhitungan posisi geometris matahari dan bulan terhadap bumi guna menetapkan kapan hilal (bulan sabit pertama) muncul setelah konjungsi (ijtimak).

Jika pada saat matahari terbenam, bulan sudah berada di atas ufuk, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru.

Perbedaan dengan Penetapan Idul Fitri oleh Pemerintah

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) biasanya menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri berdasarkan sidang isbat yang menggabungkan data hisab dan hasil rukyatul hilal (pengamatan bulan) di berbagai lokasi.

Perbedaan metode antara Muhammadiyah dan pemerintah berpotensi menghasilkan perbedaan dalam penetapan tanggal Idul Fitri.

Hingga kini, pemerintah belum mengumumkan secara resmi kapan 1 Syawal 1446 H akan jatuh.

Mengetahui tanggal Idul Fitri lebih awal sangat penting untuk merencanakan berbagai aktivitas, seperti mudik, liburan, dan persiapan lainnya.

Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk mengikuti informasi resmi dari organisasi keagamaan dan pemerintah mengenai penetapan Idul Fitri.