Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Operasi Ketupat 2026 digelar mulai 13 Maret hingga 25 Maret 2026 oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk mengamankan arus mudik dan arus balik Lebaran. Operasi terpusat ini berlangsung selama 13 hari dengan melibatkan ratusan ribu personel gabungan di seluruh Indonesia.

Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo menyampaikan bahwa berbagai persiapan telah dilakukan, termasuk pengerahan personel dalam jumlah besar guna mengamankan jalur mudik, pusat keramaian, serta titik-titik rawan.

“Polri menyelenggarakan Operasi Ketupat dengan operasi terpusat yang akan dilaksanakan selama 13 hari, dari tanggal 13 Maret sampai dengan tanggal 25 Maret 2026,” kata Dedi dalam keterangan resminya di Gedung Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta, Senin (2/3/2026).

Sebanyak 161.243 personel gabungan akan ditempatkan untuk memastikan kelancaran dan keamanan selama periode Lebaran di titi-titik keramaian, serta di lokasi yang dinilai rawan.

Prediksi Gelombang Mudik dan Arus Balik

Polri memperkirakan arus mudik tahun ini terbagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama diprediksi terjadi pada 14-15 Maret 2026, sementara gelombang kedua pada 18-19 Maret 2026.

“Gelombang pertama itu tanggal 14 sampai 15 Maret 2026. Kemudian gelombang kedua tanggal 18 sampai tanggal 19 Maret 2026,” katanya.

Dedi juga menjelaskan bahwa pergerakan masyarakat tahun ini bertepatan dengan libur Hari Raya Nyepi, sehingga diperlukan pengaturan lalu lintas dan pengamanan tambahan.

Untuk arus balik, puncak gelombang pertama diperkirakan terjadi pada 25-26 Maret 2026 dan gelombang kedua pada 28-29 Maret 2026.

Proyeksi Pergerakan 143,9 Juta Orang

Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, potensi pergerakan masyarakat selama libur Lebaran 2026 diperkirakan mencapai 143,9 juta orang.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 146,4 juta orang atau turun sekitar 2,57 juta orang (1,75 persen).

Meski terdapat penurunan proyeksi, Polri tetap mengantisipasi kemungkinan peningkatan mobilitas di lapangan.

“Namun demikian, kita tetap perlu mengantisipasi apabila terjadi peningkatan dalam realita pergerakan,” ucap Dedi.