Pegawai SPPG Turun ke Monas Dukung Program Makan Bergizi Gratis, Klaim Berangkat Secara Mandiri!
HAIJAKARTA.ID- Ratusan pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut ambil bagian dalam aksi unjuk rasa yang berlangsung di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Senin (22/6/2026).
Aksi tersebut digelar sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program unggulan Presiden Prabowo Subianto yang dalam beberapa pekan terakhir menjadi sorotan publik dan menuai pro-kontra.
Para peserta aksi tampak memadati kawasan selatan Monas dengan mengenakan pakaian serba putih.
Mereka membawa spanduk dan poster yang berisi dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis sekaligus menyuarakan harapan agar program tersebut tetap dilanjutkan.
Aksi berlangsung sejak siang hari hingga sore dan berjalan dengan tertib di bawah pengawasan aparat keamanan.
Pegawai Dapur MBG Ikut Turun ke Jalan
Salah satu rombongan peserta aksi berasal dari SPPG Jatinegara 02 yang berlokasi di Jakarta Timur.
Asisten lapangan SPPG Jatinegara 02, Mai Aldi, mengatakan seluruh pegawai yang bekerja di dapurnya ikut hadir dalam kegiatan tersebut.
Menurut Aldi, total terdapat 47 pekerja yang sehari-hari bertugas menyiapkan makanan bergizi bagi para penerima manfaat Program MBG.
“Alhamdulillah semua hadir. Kami datang untuk memberikan dukungan terhadap program yang selama ini kami jalankan,” ujar Aldi saat ditemui di lokasi aksi.
Ia menjelaskan bahwa kehadiran para pegawai dapur bukan karena instruksi dari pihak tertentu, melainkan hasil kesepakatan bersama para pekerja yang merasa memiliki keterikatan langsung dengan program tersebut.
Sebagai pihak yang terlibat dalam operasional sehari-hari, mereka mengaku memahami dampak program MBG, baik bagi masyarakat penerima manfaat maupun bagi tenaga kerja yang mendapatkan kesempatan bekerja melalui program tersebut.
Biaya Aksi Ditanggung Secara Swadaya
Aldi menegaskan bahwa seluruh kebutuhan aksi dipenuhi secara mandiri oleh para peserta. Mulai dari biaya konsumsi, transportasi, hingga pembuatan poster dilakukan melalui iuran sukarela.
“Kami patungan relawan. Setiap orang menyumbang Rp20 ribu untuk kebutuhan selama aksi,” katanya.
Menurutnya, dana yang terkumpul digunakan untuk berbagai kebutuhan teknis agar para peserta dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman dan tertib.
Ia membantah adanya pendanaan dari yayasan pengelola dapur maupun pihak lain yang berkaitan dengan penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis.
Koordinasi dengan Belasan SPPG di Jakarta Timur
Selain pegawai dari SPPG Jatinegara 02, aksi juga diikuti pekerja dari sejumlah dapur MBG lainnya di wilayah Jakarta Timur.
Aldi mengungkapkan bahwa pihaknya sempat berkoordinasi dengan pengelola dan pekerja dari berbagai SPPG sebelum aksi berlangsung.
Berdasarkan komunikasi tersebut, diperkirakan sekitar 400 orang dari 18 SPPG di Jakarta Timur turut hadir dalam aksi dukungan di Monas.
Jumlah tersebut belum termasuk peserta yang berasal dari wilayah Jakarta lainnya yang juga datang untuk menyampaikan aspirasi serupa.
“Dari Jakarta Timur saja sekitar 18 SPPG yang ikut. Kalau totalnya bisa lebih banyak lagi,” ujarnya.
Kekhawatiran Program MBG Dihentikan
Menurut Aldi, munculnya berbagai demonstrasi yang menolak Program Makan Bergizi Gratis membuat sebagian pekerja mulai khawatir terhadap masa depan program tersebut.
Ia mengatakan bahwa para pegawai dapur merasa perlu menyampaikan suara mereka secara langsung karena selama ini mereka menjadi bagian dari pelaksanaan program di lapangan.
“Kami melihat ada banyak tuntutan yang meminta program ini dihentikan. Karena itu kami ingin menunjukkan bahwa ada juga masyarakat yang mendukung,” katanya.
Aldi menegaskan bahwa para pekerja yang hadir dalam aksi berharap pemerintah tetap melanjutkan Program MBG karena dinilai memberikan manfaat nyata bagi banyak pihak.
Selain membantu pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, program tersebut juga menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi ribuan orang yang terlibat dalam operasional dapur.
Aksi Dukungan Muncul di Tengah Gelombang Kritik
Aksi dukungan terhadap MBG berlangsung di tengah meningkatnya kritik terhadap program tersebut dari sejumlah kelompok masyarakat sipil dan mahasiswa.
Pada 18 Juni 2026, Aliansi Perempuan Indonesia (API) menggelar demonstrasi di Jakarta dengan membawa sejumlah tuntutan kepada pemerintah.
Selain meminta pengendalian harga kebutuhan pokok dan penciptaan lapangan kerja, mereka juga mendesak penghentian Program Makan Bergizi Gratis.
Dalam aksi tersebut, salah satu perwakilan massa, Afifah, menilai MBG belum mampu menjawab persoalan utama yang sedang dihadapi masyarakat.
Ia berpendapat bahwa pemerintah seharusnya lebih fokus pada penyelesaian masalah ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
“MBG adalah proyek politik, bukan proyek untuk memberikan makanan bergizi,” ujar Afifah dalam aksi tersebut.
Mahasiswa Juga Soroti Program MBG
Sebelumnya, pada 12 Juni 2026, kelompok mahasiswa yang tergabung dalam aksi bertajuk “Menuju Indonesia Bangkrut” juga menyuarakan kritik terhadap sejumlah program pemerintah.
Salah satu tuntutan yang mereka sampaikan adalah penghentian Program Makan Bergizi Gratis serta evaluasi terhadap pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.
Massa mahasiswa menilai pemerintah perlu melakukan peninjauan ulang terhadap berbagai program yang menggunakan anggaran besar agar lebih tepat sasaran dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Program MBG Masih Menjadi Perdebatan Publik
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama anak-anak sekolah dan kelompok rentan.
Sejak diluncurkan, program ini mendapat dukungan dari berbagai kalangan yang menilai kebijakan tersebut dapat membantu mengurangi angka stunting, meningkatkan kualitas kesehatan anak, serta memperkuat ketahanan pangan nasional.
Namun di sisi lain, sejumlah pihak mempertanyakan efektivitas, tata kelola, dan besarnya anggaran yang dialokasikan untuk menjalankan program tersebut.
Perdebatan yang muncul menunjukkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis masih menjadi salah satu isu kebijakan publik yang terus mendapat perhatian luas dari masyarakat.
Meski demikian, aksi yang berlangsung di Monas memperlihatkan bahwa dukungan terhadap program tersebut juga datang dari kelompok yang terlibat langsung dalam pelaksanaannya, termasuk para pekerja dapur dan pegawai SPPG yang sehari-hari menjalankan program di lapangan.

