Pemotor Tewas Gegara Terseret Arus Banjir di Puncak, Jasad Ditemukan Sejauh 35 Kilometer
HAIJAKARTA.ID – Peristiwa tragis kembali terjadi di Jalur Puncak, Cianjur, Jawa Barat.
Pemotor tewas gegara terseret arus banjir di Puncak menjadi sorotan setelah pasangan suami istri (pasutri) pemudik asal Bandung meninggal dunia akibat insiden tersebut.
Kejadian ini berlangsung pada Minggu petang saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut dan menyebabkan luapan air hingga menutup badan jalan.
Kronologi Pemotor Tewas Gegara Terseret Arus Banjir di Puncak
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa pemotor tewas gegara terseret arus banjir di Puncak bermula saat korban melintas di Jalan Raya Cipanas di tengah kondisi cuaca ekstrem.
Arus deras dari saluran drainase yang meluap membuat sepeda motor kehilangan kendali. Korban kemudian terjatuh dan terseret arus hingga masuk ke saluran air.
Warga sempat berusaha memberikan pertolongan, namun derasnya arus membuat korban terbawa hingga ke aliran sungai dan hilang.
Tim SAR gabungan melakukan pencarian sejak malam hari. Kedua korban akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di lokasi berbeda, sekitar 25 hingga 35 kilometer dari titik awal kejadian.
Warga Sebut Insiden Serupa Sudah Terjadi Berkali-kali
Warga setempat menyebut bahwa kejadian pemotor tewas gegara terseret arus banjir di Puncak bukanlah yang pertama kali terjadi.
Seorang warga Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Anwar (58), mengungkapkan bahwa pola kejadian serupa sudah berulang dalam beberapa tahun terakhir.
“Kejadiannya sama, korban jatuh lalu terbawa arus banjir hingga masuk ke saluran irigasi dan akhirnya hilang di sungai,” ujar Anwar.
Menurutnya, sedikitnya tiga kejadian serupa pernah terjadi di lokasi yang sama.
Pernah Ada Korban Lain, Sebagian Tidak Selamat
Anwar juga mengingat kejadian sebelumnya yang melibatkan beberapa korban pengendara sepeda motor.
Ia menuturkan bahwa dalam salah satu insiden, hanya satu korban yang berhasil diselamatkan, sementara dua lainnya ditemukan meninggal dunia beberapa hari kemudian.
“Pada kejadian sebelumnya, satu orang bisa diselamatkan, tetapi dua lainnya hilang dan baru ditemukan meninggal di aliran sungai,” ujarnya.
Warga lain, Ismail (62), menambahkan bahwa insiden serupa bahkan pernah menimpa seorang ibu dan anak.
Ia mengatakan, “Saat itu saya ikut proses evakuasi. Korban terseret dari arah jalan, jatuh ke sungai, dan hanyut terbawa arus.”
Ia juga menyebut bahwa jenazah korban ditemukan di lokasi berbeda akibat derasnya arus sungai.
Warga menilai kondisi drainase di lokasi menjadi salah satu penyebab utama sering terjadinya kecelakaan.
Menurut Ismail, meskipun saluran air sempat diperbaiki, masih ada bagian yang terbuka sehingga berbahaya bagi pengendara.
Ia menjelaskan, “Drainase memang sudah diperbaiki, tetapi belum sepenuhnya ditutup. Masih ada beberapa bagian yang terbuka seperti sekarang.”
Anwar menambahkan bahwa kondisi drainase di sisi lain jalan juga tidak berfungsi optimal sehingga memperparah luapan air.
Ia menyebut, “Jika saluran di seberang jalan berfungsi dengan baik, air tidak akan meluap sebesar ini. Namun kondisinya memang sudah lama tidak optimal.”
Masyarakat berharap pemerintah segera melakukan penanganan serius agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Anwar mengusulkan agar saluran air ditutup atau diberi pengaman untuk menghindari risiko bagi pengendara.
“Sebaiknya saluran ditutup atau dipasang pelindung agar lebih aman. Kalau dibiarkan seperti ini, tentu sangat berbahaya,” tambahnya.
Kasus pemotor tewas gegara terseret arus banjir di Puncak ini menjadi peringatan penting bagi semua pihak untuk meningkatkan keselamatan di jalur rawan bencana, terutama saat musim hujan.
