sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Pemprov DKI tegas tangani ikan sapu-sapu yang kian mendominasi perairan Ibu Kota.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, memastikan bahwa seluruh ikan sapu-sapu hasil penangkapan dari sungai dan saluran air di Jakarta tidak akan dimanfaatkan sebagai bahan pangan, melainkan akan langsung dikubur karena dinilai tidak aman untuk dikonsumsi manusia.

Kebijakan ini diambil bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil pemantauan dan kajian, ikan sapu-sapu yang hidup di perairan Jakarta diduga mengandung residu berbahaya, termasuk logam berat yang dapat berdampak negatif bagi kesehatan jika masuk ke dalam tubuh manusia melalui rantai makanan.

“Semua ikan sapu-sapu yang berhasil ditangkap akan dikubur. Ini bukan ikan konsumsi karena berbahaya. Selain itu, jumlahnya sudah sangat mendominasi, bahkan diperkirakan lebih dari 60 persen biota air di beberapa wilayah sungai di Jakarta adalah ikan jenis ini. Maka dari itu, pengurangan harus dilakukan secara masif,” ujar Pramono saat meninjau langsung proses penangkapan di wilayah Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026).

Dominasi Spesies Invasif Ancam Keseimbangan Ekosistem

Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi.

Ikan ini mampu bertahan hidup di berbagai kondisi lingkungan, mulai dari air bersih hingga air yang tercemar. Hal inilah yang menyebabkan populasinya berkembang pesat dan sulit dikendalikan.

Dalam jangka panjang, dominasi ikan sapu-sapu berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.

Kehadirannya dapat mengurangi populasi ikan lokal yang memiliki nilai ekonomi maupun ekologis lebih tinggi.

Jika tidak dikendalikan, kondisi ini dapat berdampak pada menurunnya keanekaragaman hayati di sungai-sungai Jakarta.

Pramono juga mengungkapkan bahwa ikan sapu-sapu berasal dari kawasan Amerika Selatan.

Di wilayah asalnya, beberapa negara telah mencoba mengembangkan teknologi pengolahan ikan ini menjadi produk turunan seperti tepung ikan melalui proses pemanasan suhu tinggi.

Namun demikian, penerapan teknologi tersebut belum dilakukan secara luas. Salah satu penyebab utamanya adalah tingginya kandungan logam dalam tubuh ikan sapu-sapu yang tetap menjadi kekhawatiran, bahkan di negara dengan kualitas air yang relatif lebih baik dibandingkan Jakarta.

“Di negara yang kondisi airnya lebih bersih saja kandungan logamnya sudah cukup tinggi. Apalagi di Jakarta yang tingkat pencemaran airnya masih menjadi tantangan. Dari hasil pengukuran, rata-rata kandungan logam di ikan sapu-sapu di sini sudah di atas ambang aman, bahkan mencapai angka di atas 0,3, yang jelas berisiko jika dikonsumsi,” jelasnya lebih lanjut.

Potensi Pemanfaatan Masih Terbuka, Tapi Perlu Kehati-hatian

Di sisi lain, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Haeru Rahayu, menyampaikan bahwa secara teori ikan sapu-sapu masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan, terutama dalam sektor non-konsumsi.

Salah satu alternatif yang dinilai cukup aman adalah mengolah ikan sapu-sapu menjadi pupuk organik.

Pemanfaatan ini dianggap lebih minim risiko dibandingkan menjadikannya sebagai bahan pangan atau pakan.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pengolahan menjadi tepung ikan tetap perlu dikaji secara mendalam.

Hal ini berkaitan dengan potensi perpindahan residu berbahaya melalui rantai makanan yang pada akhirnya bisa berdampak pada manusia.

“Kalau dijadikan tepung ikan, kemudian diberikan sebagai pakan ke ikan lain, dan akhirnya ikan tersebut dikonsumsi manusia, maka residu berbahaya itu berpotensi ikut masuk ke tubuh manusia. Ini yang menjadi kekhawatiran utama kami,” terang Haeru.

Edukasi Masyarakat dan Penanganan Terpadu

Selain melakukan penangkapan massal, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga berencana meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya mengonsumsi ikan sapu-sapu.

Hal ini penting mengingat masih ada sebagian warga yang memanfaatkan ikan tersebut sebagai sumber pangan alternatif.

Pemprov menekankan bahwa penanganan ikan sapu-sapu tidak hanya sebatas penangkapan, tetapi juga mencakup langkah-langkah lanjutan seperti pemusnahan yang aman serta sosialisasi kepada masyarakat agar tidak mengonsumsinya.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam memulihkan kualitas ekosistem sungai di Jakarta.

Dengan berkurangnya populasi ikan sapu-sapu, diharapkan keseimbangan lingkungan perairan dapat kembali terjaga dan mendukung keberlangsungan spesies ikan lokal.

Komitmen Jaga Lingkungan dan Kesehatan Publik

Kebijakan penguburan ikan sapu-sapu juga mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam melindungi kesehatan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Penanganan spesies invasif seperti ini dinilai membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan.

Ke depan, Pemprov DKI Jakarta bersama instansi terkait akan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi perairan serta mencari solusi inovatif yang aman dan berkelanjutan dalam menangani permasalahan ini.

Dengan langkah yang terstruktur dan melibatkan berbagai pihak, diharapkan permasalahan ledakan populasi ikan sapu-sapu dapat diatasi secara bertahap tanpa menimbulkan dampak baru bagi lingkungan maupun kesehatan manusia.