sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Penumpang Transjakarta diizinkan berbuka puasa di dalam Armada mulai 19 Februari 2026 selama perjalanan berlangsung.

Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, layanan transportasi publik di Ibu Kota kembali menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kenyamanan masyarakat.

Kebijakan ini memungkinkan penumpang mengonsumsi makanan ringan seperti kurma, roti, maupun air minum ketika waktu azan Magrib tiba, tanpa harus menunggu turun di halte atau terminal tujuan.

Namun demikian, penumpang tetap diwajibkan menjaga kebersihan dengan tidak meninggalkan sampah di dalam kendaraan.

Langkah tersebut diambil sebagai respons terhadap tingginya mobilitas warga Jakarta, khususnya pada jam pulang kerja yang sering kali bertepatan dengan waktu berbuka puasa.

Setiap Ramadan, ribuan penumpang masih berada di perjalanan ketika matahari terbenam, sehingga kerap kesulitan untuk membatalkan puasa tepat waktu.

Kepala Departemen Humas dan CSR Transjakarta, Ayu Wardhani, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pelayanan humanis selama bulan ibadah.

“Kami ingin memastikan pelanggan tetap dapat menjalankan ibadah puasa dengan nyaman, termasuk saat waktu berbuka tiba ketika mereka masih berada di perjalanan. Dengan adanya kelonggaran ini, penumpang tidak perlu khawatir menunda berbuka,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (18/2/2026).

Ia menambahkan bahwa kebijakan ini juga diiringi dengan edukasi kepada penumpang untuk tetap menjaga ketertiban, tidak mengotori armada, serta menghindari makanan yang dapat mengganggu kenyamanan pengguna lain.

Transjakarta menilai bahwa keberhasilan kebijakan ini tidak hanya bergantung pada operator, tetapi juga pada kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga fasilitas publik bersama.

Layanan Ramadan Ramah Penumpang Juga Diterapkan di LRT Jabodebek

Kebijakan serupa turut diterapkan pada layanan LRT Jabodebek yang berada di bawah pengelolaan Kereta Api Indonesia (KAI).

Selama Ramadan 2026, penumpang diperbolehkan berbuka puasa di dalam kereta maupun di area stasiun mulai azan Magrib hingga pukul 19.00 WIB.

Manajer Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, menjelaskan bahwa kelonggaran ini diberikan untuk membantu masyarakat yang masih berada dalam perjalanan panjang antarkawasan Jabodetabek.

Menurutnya, jam pulang kantor sering menjadi puncak kepadatan penumpang dan bertepatan dengan waktu berbuka puasa, sehingga kebijakan ini diharapkan mampu memberikan kenyamanan tambahan.

“Penumpang dipersilakan mengonsumsi makanan ringan seperti kurma, roti, serta air minum. Namun makanan berat maupun yang beraroma menyengat tetap tidak diperkenankan demi menjaga kenyamanan bersama,” ungkap Radhitya.

Sebagai bentuk dukungan fasilitas, pengelola juga menyediakan air minum gratis di seluruh stasiun LRT Jabodebek.

Layanan ini diharapkan dapat membantu penumpang berbuka puasa dengan praktis tanpa perlu membeli minuman terlebih dahulu.

Pihak operator juga mengingatkan agar sampah sisa konsumsi disimpan hingga menemukan tempat sampah di stasiun tujuan, demi menjaga kebersihan lingkungan transportasi publik.

Operasional Tetap Normal, Mobilitas Ramadan Tetap Lancar

Meski terdapat kelonggaran aturan makan saat berbuka, layanan transportasi tetap beroperasi normal tanpa pengurangan perjalanan.

Untuk LRT Jabodebek, jumlah perjalanan selama Ramadan 2026 dipertahankan di kisaran:

  • Sekitar 430 perjalanan per hari kerja
  • Sekitar 270 perjalanan saat akhir pekan dan hari libur nasional

Langkah ini dilakukan untuk memastikan aktivitas masyarakat tetap berjalan lancar, terutama bagi pekerja, pelajar, serta pengguna rutin transportasi publik.

Sementara Transjakarta juga memastikan seluruh koridor tetap beroperasi penuh guna mengantisipasi lonjakan penumpang menjelang waktu berbuka dan setelah salat tarawih.

Wujud Transportasi Publik yang Lebih Humanis di Bulan Ramadan

Kebijakan berbuka puasa di kendaraan ini dinilai sebagai bagian dari transformasi layanan transportasi publik yang semakin adaptif terhadap kebutuhan sosial dan keagamaan masyarakat.

Selain mendukung kelancaran ibadah, kebijakan ini juga membantu mengurangi potensi penumpukan penumpang di halte dan stasiun saat waktu Magrib tiba, yang sebelumnya kerap terjadi karena banyak pengguna turun hanya untuk berbuka.

Operator berharap kebijakan ini dapat menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman, tertib, serta penuh toleransi selama Ramadan.