Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Perbedaan sholat tarawih 8 dan 20 rakaat, mana yang paling utama?

Setiap Ramadan tiba, satu topik yang hampir selalu muncul di tengah umat Islam adalah perdebatan seputar jumlah rakaat shalat tarawih.

Sebagian masyarakat meyakini bahwa tarawih 8 rakaat lebih sesuai sunnah Rasulullah SAW, sementara yang lain berpegang teguh pada tradisi tarawih 20 rakaat yang telah berlangsung ratusan tahun di banyak masjid.

Tak jarang, perbedaan ini berkembang menjadi perdebatan panas, saling menyalahkan, bahkan menuduh praktik tertentu sebagai bid’ah.

Padahal jika ditelusuri secara ilmiah melalui hadits, sejarah sahabat, dan pandangan para ulama besar, persoalan ini sejatinya termasuk wilayah perbedaan yang dibenarkan dalam Islam.

Dasar Tarawih 8 Rakaat dengan Praktik Rasulullah SAW

Pendapat tarawih 8 rakaat berlandaskan hadits sahih dari Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar.

Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan lebih dari 11 rakaat delapan rakaat shalat malam dan tiga rakaat witir.

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi menjalankan qiyamullail dengan rakaat relatif sedikit, namun dengan bacaan Al-Qur’an yang panjang, penuh kekhusyukan, dan kualitas ibadah yang sangat mendalam.

Karena itulah sebagian ulama memahami bahwa tarawih 8 rakaat adalah bentuk ibadah yang langsung meneladani praktik Nabi.

Namun penting dicatat: hadits ini berbicara tentang shalat malam Rasulullah secara umum, bukan penetapan jumlah baku tarawih berjamaah seperti yang kemudian berkembang di masa sahabat.

Dasar Tarawih 20 Rakaat Adalah Sunnah Para Sahabat

Sementara itu, tarawih 20 rakaat memiliki landasan yang sangat kuat dari praktik sahabat Nabi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab.

Umar melihat umat Islam shalat tarawih sendiri-sendiri dan terpisah. Lalu beliau mengumpulkan mereka untuk shalat berjamaah di bawah satu imam, yaitu Ubay bin Ka’ab, dengan jumlah 20 rakaat.

Yang luar biasa, kebijakan ini tidak ditentang oleh para sahabat besar. Artinya, terjadi semacam ijma’ (kesepakatan) diam-diam di kalangan generasi terbaik umat Islam.

Praktik ini bahkan berlanjut di masa Utsman bin Affan, hingga para jamaah sampai bersandar pada tongkat karena panjangnya berdiri membaca Al-Qur’an.

Ini membuktikan bahwa tarawih 20 rakaat bukanlah inovasi sembarangan, melainkan tradisi ibadah yang lahir dari pemahaman mendalam para sahabat terhadap ruh syariat.

Tradisi Ulama Fleksibel tapi Penuh Keutamaan

Para imam mazhab besar tidak pernah mengharamkan salah satu bentuk tarawih.

Bahkan Malik bin Anas meriwayatkan bahwa penduduk Madinah pernah melaksanakan tarawih hingga 36 rakaat.

Tujuannya bukan untuk memberatkan ibadah, melainkan menyamai keutamaan penduduk Makkah yang memperbanyak thawaf di sela-sela tarawih.

Artinya sejak dahulu:

  • Ada yang 8 rakaat
  • Ada yang 20 rakaat
  • Ada pula yang lebih banyak

Semua dilakukan dalam kerangka memperbanyak ibadah di bulan penuh ampunan.

Mengapa Rasulullah Tidak Menetapkan Jumlah Pasti?

Dalam riwayat sahih, Rasulullah SAW pernah shalat tarawih berjamaah beberapa malam, lalu berhenti keluar menemui para sahabat.

Alasannya sangat penting:

  • Beliau khawatir shalat tarawih dianggap wajib oleh umat.
  • Bukan karena berjamaah itu salah.
  • Bukan pula karena jumlah rakaat tertentu bermasalah.

Ini menunjukkan bahwa Islam sengaja memberi kelonggaran dalam ibadah sunnah Ramadan agar umat bisa menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Mana yang Lebih Afdhal Menurut Ulama?

Mayoritas ulama Ahlussunnah menyimpulkan:

  • Tarawih 8 rakaat sah dan sesuai praktik Nabi
  • Tarawih 20 rakaat sah dan mengikuti sunnah sahabat

Semakin banyak shalat sunnah, semakin besar peluang pahala. Bahkan banyak ulama menilai 20 rakaat sebagai bentuk penyempurnaan ibadah jamaah, bukan penyimpangan dari sunnah.

Kesalahan Fatal yang Sering Terjadi

Yang sering menimbulkan perpecahan justru bukan jumlah rakaatnya, tapi sikap fanatisme sempit:

  • Menganggap tarawih 20 rakaat bid’ah
  • Menyalahkan masjid yang tarawih 8 rakaat
  • Merasa ibadah kelompoknya paling benar
  • Padahal sejak generasi sahabat saja, variasi ibadah ini sudah ada dan diterima.
  • Inti Ibadah Tarawih yang Sering Dilupakan

Rasulullah SAW menekankan bukan pada jumlah rakaat, melainkan:

  • Keikhlasan
  • Kekhusyukan
  • Konsistensi ibadah sepanjang Ramadan
  • Delapan rakaat tapi khusyuk luar biasa mulia.
  • Dua puluh rakaat dengan penuh semangat ibadah juga mulia.

Tarawih tidak pernah dibatasi secara mutlak oleh Nabi 8 rakaat dan 20 rakaat sama-sama memiliki dalil kuat.

Perbedaan ini adalah rahmat, bukan bahan konflik dan yang paling penting bukan hitungan rakaat, melainkan bagaimana Ramadan membuat kita semakin dekat kepada Allah.