Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Pergerakan tanah di Bogor kembali terjadi dan berdampak pada puluhan warga di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bencana geologi berupa pergerakan tanah dan longsor ini melanda tiga Kecamatan dengan total 77 Kepala Keluarga terdampak.

Peristiwa pergerakan tanah tersebut melanda wilayah di Kecamatan Sukamakmur, Tenjo dan Megamendung dengan karakteristik kejadian yang berbeda-beda, mulai dari pergeseran tanah hingga longsor yang merusak permukiman warga.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bogor Ade Hasrat mengatakan, bencana tersebut terjadi di sejumlah desa yang tersebar di tiga kacamatan.

“Di Sukamakmur terjadi pergerakan tanah, di Tenjo juga pergerakan tanah di dua desa, sedangkan di Megamendung berupa longsoran yang berdampak pada satu rumah,” kata Ade, pada Jumat (30/1/2026).

Puluhan Rumah Rusak dan Zona Tidak Aman Dihuni

Ade menjelaskan, dampak paling signifikan terjadi di Desa Pabuaran, Kecamatan Sukamakmur. Pergerakan tanah di wilayah tersebut memengaruhi sekitar 60 kepala keluarga.

Sebanyak 38 rumah dilaporkan mengalami rusak berat. Sementara rumah lainnya berada di zona tanah yang masih bergerak sehingga dinilai berisiko dan tidak layak untuk dihuni dalam kondisi saat ini.

BPBD Kabupaten Bogor bersama tim ahli geologi telah melakukan kajian lapangan untuk mengidentifikasi penyebab kejadian tersebut.

Berdasarkan hasil kajian, wilayah terdampak memang memiliki struktur tanah yang labil dan rawan mengalami pergerakan.

Ade juga mengatakan, jika kejadian tersebut merupakan kejadian yang berulang dari tahun 2004 dan 2025 di lokasi yang sama.

“Ini kejadian yang berulang. Tahun 2004, sudah pernah terjadi, kemudian pada 2025, kembali terjadi di lokasi yang sama,” ucapnya.

Pemkab Bogor Fokus Evakuasi dan Bantuan Sewa Rumah

Sementara itu, Bupati Bogor Rudy Susmanto menegaskan bahwa langkah pertama yang dilakukan pemerintah Kabupaten Bogor adalah memastikan keselamatan warga dengan mengevakuasi mereka dari lokasi rawan bencana.

“Keselamatan masyarakat adalah yang utama. Hari ini kami pastikan tidak ada lagi warga yang bermalam di tenda pengungsian,” ucap Rudy saat meninjau lokasi bencana.

Untuk penanganan darurat, pemerintah Kabupaten Bogor menyiapkan bantuan sewa rumah sementara sebesar Rp 750 ribu per bulan per kepala keluarga selama enam bulan.

Bantuan tersebut dibayarkan sekaligus menggunakan pos anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT).