Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung akan menggelar acara ‘Betawi Night’ pada saat Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev berkunjung ke Jakarta pada Juni mendatang, acara tersebut sebagai momentum untuk memperkenalkan budaya Betawi di hadapan pemimpin dunia.

Rencana tersebut disampaikan Pramono setelah menerima Duta Besar Indonesia untuk Kazakhstan. Ia mengatakan usulan penyelenggaraan secara budaya tersebut akan melibatkan pimpinan negara dan jajaran menteri.

“Pada bulan Juni akan hadir Presiden Kazakhstan, kebetulan tadi saya menerima Dubes Indonesia yang ada di Kazakhstan, mereka mengusulkan ada yang disebut dengan Betawi Night di hadapan pimpinan kita, apakah itu Bapak presiden, para menteri dan sebagainya, dengan Presiden Kazakhstan,” kata Pramono di kutip pada Senin, (2/3/2026).

Pramono Anung Akan Siapkan Betawi Night Sambut Presiden Kazakhstan di Jakarta, Budaya Betawi Jadi “Jiwa” Jakarta

Sebagai Gubernur DKI Jakarta, Pramono menegaskan komitmennya menjadikan budaya Betawi sebagai identitas utama ibu kota. Sejak awal menjabat, ia telah mendorong penggunaan busana khas Betawi dalam agenda resmi pemerintahan.

Pada hari pelantikannya, seluruh jajaran mengenakan pakaian ujung serong dan kebaya encim, menggantikan jas dan kebaya formal yang biasa digunakan dalam acara resmi Pemprov DKI.

Menurutnya, budaya Betawi tidak hanya ditampilkan dalam seremoni, tetapi juga harus hadir dalam berbagai kegiatan formal dan budaya berskala nasional maupun internasional.

“Maka berulang kali saya mengatakan dan saya sampaikan juga kepada tokoh-tokoh Betawi, saya ingin tradisi Betawi ini bisa dipanggungkan ke panggung-panggung dunia,” ujar Pramono.

Revitalisasi Museum MH Thamrin dan Muatan Lokal Betawi

Selain menggelar Betawi Night, Pemprov DKI juga berencana merevitalisasi Museum MH Thamrin dengan anggaran sebesar Rp15 miliar. Rencana tersebut muncul setelah Pramono melakukan kunjungan langsung ke museum tersebut.

Ia menilai MH Thamrin memiliki peran besar dalam sejarah Jakarta dan masyarakat Betawi sehingga layak mendapatkan penghormatan yang lebih baik melalui pembenahan fasilitas museum.

Lebih lanjut, Pramono juga mengusulkan agar sejarah dan bahasa Betawi dapat dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah Jakarta.

Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk menjaga identitas budaya Betawi di tengah perkembangan kota metropolitan.