Sadis! Keponakan Bunuh Paman di Palangka Raya, Tusuk Dada dan Leher Pakai Gunting saat Mabuk
HAIJAKARTA.ID – Keponakan bunuh paman di Palangka Raya menggegerkan warga komplek perumahan Jalan Raflesia, Kelurahan Petuk Ketimpu, Kalimantan Tengah.
Seorang pria bernama Eddy (41) tega menghabisi nyawa pamannya sendiri, Agus (42), dengan senjata tajam setelah diliputi dendam akibat hubungan korban dengan adik kandung pelaku.
Peristiwa berdarah itu terjadi pada Sabtu (10/1/2026), sekitar pukul 04.30 WIB, pelaku diduga melakukan aksi pembunuhan dalam kondisi mabuk minuman keras.
Diketahui, korban mengalami luka tusuk di bagian dada dan leher hingga tewas di lokasi.
Polisi memastikan motif utama keponakan bunuh paman di Palangka Raya ini berkaitan dengan konflik keluarga yang telah lama terpendam.
Usai kejadian, pelaku tidak melarikan diri dan justru meminta warga melaporkan perbuatannya ke polisi.
Polisi Ungkap Motif Dendam dan Kronologi Awal
Kanit Jatanras Polresta Palangka Raya, Iptu Helmi Hamdani, menjelaskan pembunuhan dipicu ketidaksetujuan pelaku terhadap hubungan korban dengan adik kandungnya yang masih memiliki ikatan keluarga.
“Pelaku tidak setuju adiknya memiliki hubungan dengan korban karena masih ada ikatan keluarga. Itu yang memicu dendamnya,” ujar Helmi, Sabtu (10/1/2026).
Dalam kondisi emosi tidak stabil, ia mendatangi bengkel milik korban sambil membawa senjata tajam.
Adu mulut pun terjadi sebelum pelaku akhirnya melancarkan serangan fatal.
Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya untuk menjalani visum et repertum.
Sementara itu, polisi mengamankan sejumlah barang bukti dan memeriksa saksi-saksi di lokasi.
Pelaku Mengaku Menyesal, Sempat Menangis di Hadapan Ketua RT
Ketua RT 05/RW 05 Jalan Raflesia, Endang Susilowati, menjadi orang pertama yang berinteraksi dengan pelaku setelah kejadian.
Ia menyebut Eddy dalam kondisi linglung dan menangis meminta Ketua RT untuk segera melaporkan peristiwa tersebut.
“Saya membunuh Bu RT, saya tusuk dadanya. Laporkan saja saya Bu RT,” katanya, saat menirukan ucapan terduga pelaku.
Endang mengaku sempat menegur pelaku atas tindakan tersebut.
“Saya bilang, kenapa sampai dibunuh, itu tidak boleh. Tapi dia menjawab kalau dia dendam,” tuturnya.
Pelaku sempat mondar-mandir di lingkungan perumahan sambil berteriak mengaku telah membunuh pamannya.
Salah seorang warga, Norfa’i, mengungkapkan pengakuan pelaku disampaikan secara terbuka.
“Kami tahu ada kejadian ini setelah pelaku mondar-mandir di komplek perumahan sambil bilang kalau dia sudah bunuh pamannya. Dari mulutnya tercium bau miras,” ujar Norfa’i.
Dalam insiden itu, adik perempuan Eddy yang berada di lokasi bersama anaknya berhasil menyelamatkan diri dan melarikan diri ke arah Jalan Tjilik Riwut.
Keduanya kini berada dalam perlindungan aparat kepolisian. Usai kejadian, Eddy tidak berupaya kabur.
Tak lama berselang, petugas kepolisian datang ke lokasi dan mengamankan pelaku tanpa perlawanan.
