Sampah Menumpuk di Kramat Jati, Pemprov DKI Tambah 20 Truk Baru: Warga Khawatir Banjir
HAIJAKARTA.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menambah 20 unit truk pengangkut sampah untuk mengatasi penumpukan yang masih terjadi di sejumlah wilayah, khususnya di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan, penambahan armada difokuskan untuk mempercepat penguraian tumpukan sampah yang mengganggu aktivitas warga.
“Yang di Kramat Jati kemarin secara khusus kami tambah 20 truk baru untuk mengurangi itu,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta dilansir Antara Rabu, (1/4/2026).
Sampah Menumpuk Dipicu Pembatasan di Bantargebang
Pramono mengakui, penanganan sampah di Jakarta memang belum sepenuhnya tuntas dan masih terdapat sejumlah lokasi yang mengalami penumpukan. Namun, sampah yang ada di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) kini sudah mulai berkurang.
Ia menjelaskan, penumpukan sampah di Jakarta terjadi setelah aktivitas di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dibatasi akibat longsor beberapa waktu lalu.
“Akibat kejadian itu, pengiriman sampah ke lokasi tersebut sempat dihentikan sementara,” jelas Pramono.
Warga Khawatir Sampah Picu Banjir
Sebelumnya, sebagian warga di sekitar TPS Pasar Induk Kramat Jati mengaku khawatir adanya potensi banjir akibat robohnya tembok pembatas di lokasi tersebut.
Kuli angkut Pasar Induk Kramat Jati, Tebe (35) mengatakan, upaya pembersihan kali akan menjadi tidak efektif karena sampah dari TPS di Pasar Induk Kramat Jati terus mengalir dan kembali menumpuk di saluran air.
“Percuma kita bersihin kali kalau sampahnya yang banyak banget itu jatuh terus ke kali. Jadi mampet, nanti bisa banjir,” kata Tebe.
Menurut Tebe, robohnya tembok pembatas di Pasar Induk Kramat Jati akan berdampak serius terhadap lingkungan sekitar.
Selain itu, kerusakan tembok terjadi secara bertahap. Tebe menceritakan, awalnya hanya sebagian kecil yang ambruk, namun kondisi tersebut terus meluas hingga membuat sampah jatuh langsung ke kali.
“Awalnya sedikit, terus ambruk, terus lama kelamaan sampahnya ke kali. Lama-lama sampingnya ikut jebol juga, jadi makin parah,” jelas Tebe.
