Status BPJS PBI Tiba-Tiba Nonaktif, Pasien Cuci Darah Gagal Ginjal Terhambat: Antara Hidup dan Mati
HAIJAKARTA.ID – Status BPJS PBI yang mendadak dinonaktifkan tanpa pemberitahuan membuat puluhan pasien gagal ginjal di berbagai daerah terancam kehilangan akses layanan cuci darah. Kondisi ini berdampak serius karena hemodialisis merupakan tindakan medis vital yang tidak bisa ditunda dan berkaitan langsung dengan keselamatan nyawa pasien.
Berubahnya status kepesertaan BPJS PBI yang secara tiba-tiba tersebut menyebabkan sejumlah pasien gagal mendapatkan layanan kesehatan, meski dalam kondisi kritis dan membutuhkan penanganan segera.
Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) mencatat sedikitnya 30 laporan pasien gagal ginjal yang tidak dapat menjalani prosedur hemodialisis akibat kendala administrasi kepesertaan yang dinonaktifkan.
Ketua Umum KPCDI, Tony Richard Samosir, menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai masalah teknis semata melainkan menyangkut nyawa pasien.
“Bagi pasien gagal ginjal, cuci darah bukan layanan yang bisa ditunda. Begitu jadwal terlewat, risiko keracunan darah, kegagalan organ, hingga kematian langsung meningkat,” ujar Tony dalam keterangan tertulis, pada Kamis (5/2/2026).
Status BPJS PBI Tiba-Tiba Nonaktif, Pasien Dipulangkan Karena Status Administrasi Bermasalah
Tony mengungkapkan, di lapangan terdapat pasien yang sudah datang ke rumah sakit dalam kondisi lemah, namun gagal mendapatkan layanan medis karena terkendala administrasi kepesertaan BPJS yang bermasalah.
“Kami menerima laporan pasien dihentikan di bagian pendaftaran. Untuk pasien cuci darah, ini bukan soal dokumen, ini soal hidup dan mati,” tegasnya.
Menurut KPCDI, meski sebagian status kepesertaan akhirnya dapat dipulihkan setelah proses verifikasi ulang, kejadian tersebut menunjukkan lemahnya sistem pengelolaan data bantuan iuran, khususnya yang berada di bawah kewenangan Kementerian Sosial.
Tony menilai, pasien tidak seharusnya menanggung risiko akibat kesalahan data atau perubahan kebijakan yang tidak disertai mekanisme perlindungan darurat.
“Ketika pasien dipulangkan tanpa tindakan medis karena status administrasi, negara membiarkan warganya menghadapi risiko kematian,” ujarnya.
Menkes Akui Ratusan Pasien Terdampak
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait ratusan pasien gagal ginjal yang terdampak gangguan akses layanan kesehatan akibat persoalan kepesertaan bantuan iuran.
Ia menyebut Kementerian Kesehatan telah berkoordinasi dengan Kementerian Sosial serta BPJS Kesehatan untuk mempercepat proses pemulihan layanan, khususnya bagi pasien penyakit kronis.
“Sudah ada komunikasi dan diskusi karena Kemenkes juga menjadi stakeholder. Memang ada perubahan data PBI dari Kemensos, dan ini sedang dirapikan solusinya,” ujar Budi, pada Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, pertemuan lintas kementerian akan digelar guna membahas solusi teknis agar pasien dengan penyakit kronis tidak terkendala saat membutuhkan layanan penyelamatan nyawa.
“Alternatif teknisnya sedang dibahas. Intinya sudah ada komunikasi antara BPJS dan Kemensos,” pungkas Menkes.
Kemudian, KPCDI mendesak pemerintah segera menerapkan mekanisme darurat nasional yang menjamin pasien penyakit kronis tetap mendapatkan layanan medis kritis tanpa terhambat persoalan administrasi sementara.
“Cuci darah bukan pilihan, tapi penentu hidup dan mati. Negara harus hadir memastikan tidak ada pasien yang kehilangan nyawa karena masalah data,” tutup Tony.
Kisah Pasien: Sudah Terpasang Jarum Tapi Gagal Cuci Darah
Salah satu pasien gagal ginjal, Ajat (37), pedagang es keliling asal Lebak, Banten, menceritakan pengalamannya saat menjalani perawatan di RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung.
Ajat mengaku prosedur cuci darahnya sempat terhenti karena status kepesertaannya dinyatakan tidak aktif, meski persiapan medis telah dilakukan.
“Istri saya harus bolak-balik ke kelurahan, kecamatan, sampai Dinas Sosial. Tapi akhirnya ditolak dan disuruh pindah ke BPJS Mandiri,” tutur Ajat.
Bagi Ajat, berpindah ke kepesertaan mandiri bukan pilihan yang mudah, ia juga mengungkapkan jika hanya ingin bisa berobat dan hidup.
“Untuk ongkos ke rumah sakit saja susah. Saya jualan es, sekarang malah tidak bisa dagang karena hujan. Kami cuma ingin bisa berobat dan hidup,” katanya lirih.
