Viral Pria Ngaku Aparat Aniaya 3 Pegawai SPBU Cipinang Jaktim Gegara Ditolak Isi Pertalite, Netizen: Proses Secara Hukum!
HAIJAKARTA.ID – Penganiayaan pegawai SPBU Cipinang viral di media sosial setelah seorang pria yang mengaku sebagai aparat diduga memukul tiga karyawan SPBU 3413901 di kawasan Pulogadung, Jakarta Timur, Minggu (22/2/2026) sekitar pukul 22.00 WIB.
Insiden terjadi setelah pelaku tidak terima ditolak mengisi BBM subsidi jenis Pertalite karena data kendaraan tidak sesuai dengan sistem barcode. Kasus tersebut kini telah dilaporkan ke pihak kepolisian dan menjadi perhatian Propam Polda Metro Jaya.
“Betul, ada tiga korban pegawai kami yang diduga dianiaya oleh oknum aparat,” kata salah satu Staf SPBU 3413901, Mukhlisin (38) dikutip, Senin (23/2/2026).
Pria Ngaku Aparat Aniaya 3 Pegawai SPBU Cipinang Jaktim, Berawal Dari Data Kendaraan Tak Sesuai Sistem
Mukhlisin menjelaskan, peristiwa itu berawal ketika seorang pelanggan hendak mengisi Pertalite. Saat dilakukan pemindaian barcode, nomor polisi kendaraan memang terdaftar, namun jenis mobil yang digunakan berbeda dengan data yang tercatat di sistem.
“Pelanggan tersebut mengisi Pertalite. Nomor barcode-nya sesuai, tapi mobilnya tidak sesuai dengan yang terdaftar. Jadi, peraturan di SPBU, nomor polisi dan mobil harus sesuai dengan datanya,” jelas Mukhlisin.
Sesuai standar operasional prosedur (SOP), petugas kemudian menolak pengisian Pertalite dan menawarkan alternatif BBM non-subsidi Pertamax yang tidak menggunakan sistem barcode.
“Kalau tidak sesuai barcode, kami arahkan ke Pertamax. Karena Pertamax tidak pakai barcode, jadi tetap bisa dilayani. Untuk Pertalite memang wajib sesuai data,” ujar Mukhlisin.
Pegawai Alami Syok
Namun, penolakan tersebut memicu emosi pelanggan hingga berujung pada dugaan aksi kekerasan. Tiga pegawai menjadi korban dalam kejadian itu, yakni Ahmad Khoirul Anam (staf dengan masa kerja sekitar lima tahun), Lukmanul Hakim (operator yang baru enam bulan bekerja), dan Abud Mahmudin (operator dengan masa kerja sekitar empat tahun).
“Khoirul Anam kena tamparan di pipi. Lukman dipukul di rahang sebelah kanan. Sementara Abud dipukul di bawah mata dan di pipi dekat mulut sampai giginya goyang,” kata Mukhlisin.
Saat kejadian, satu operator sedang bertugas, satu staf berada di lokasi, dan satu operator lain yang sebenarnya telah selesai bekerja ikut keluar karena situasi menjadi ramai.
Ketiganya mengalami syok akibat insiden tersebut. Meski tidak menjalani perawatan di rumah sakit, mereka diliburkan sehari untuk beristirahat dan digantikan oleh staf lain.
“Saat ini mereka syok, tapi cukup istirahat di rumah masing-masing,” ucap Mukhlisin.
Salah satu korban juga mengaku sempat mendapat ancaman pembunuhan dari pelaku. Tak lama setelah laporan dibuat, Propam Polda Metro Jaya mendatangi lokasi untuk meminta keterangan serta meninjau rekaman CCTV.
“Tadi sudah ke sini Propam Polda Metro Jaya sekitar pukul 16.00 WIB, minta keterangan terkait video kamera pengawas (closed circuit television/CCTV) tersebut,” ujarnya.
Mukhlisin menyampaikan bahwa pihak kepolisian merespons laporan tersebut dengan cepat. Setelah aduan diterima, para korban segera diarahkan untuk menjalani visum di Rumah Sakit Polri Kramat Jati sebagai bagian dari proses penyelidikan.
“Tanggapannya bagus, langsung. Tadi, langsung visum juga ke RS Polri Kramat Jati, langsung diproses,” ucap Mukhlisin.
Selain itu, Propam Polda Metro Jaya juga mendatangi lokasi SPBU guna menindaklanjuti informasi serta rekaman video kejadian yang beredar di media sosial.
Secara terpisah, pemilik SPBU 3413901, Ernesta, menyatakan bahwa pihaknya telah melaporkan peristiwa dugaan penganiayaan tersebut ke Polsek Pulogadung.
“Kami sudah laporkan juga ke Polsek Pulo Gadung seberang SPBU. Pegawai-pegawai saya yang luka-luka juga sudah divisum,” kata Ernesta saat dihubungi terpisah.
Reaksi Warganet Desak Proses Hukum
Aksi tersebut viral di Instagram melalui akun @nestagram. Dalam rekaman CCTV yang beredar, terlihat seorang pria berpakaian hitam menampar, memukul, hingga mendorong pegawai SPBU yang bertugas.
Unggahan itu langsung menuai beragam reaksi keras dari warganet yang mengecam tindakan pelaku dan meminta kasus diproses secara hukum.
“Proses secara hukum, jangan mau diselesaikan secara kekeluargaan, karena dia bukan keluarga!” tulis akun @buditiawar***
“Malu lah mobil bagus ISI PERTALITE… better gak punya duit jgn banyak GAYA pak. Naik busway aja enak, tinggal duduk sampai. Bayar 3500 d bwh hrg pertalite” tulis @aderizalpanjai***
“Innalillahi. Semoga pelaku dapat balasan yg setimpal” tulis @hijrahkuy.*
“Astagfirullah, enteng bgt tangan si Bapak..” tulis @ayuindas***
Desakan publik agar kasus ini diproses secara transparan terus menguat, terutama karena pelaku disebut-sebut mengaku sebagai aparat.
