Warga Keluhkan Gunungan Sampah Dekat Rusunawa PIK Penggilingan Jaktim: Aroma Semerbak hingga ke Lantai 12
HAIJAKARTA.ID – Gunungan sampah dekat Rusunawa PIK Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, menuai keluhan serius dari para penghuni rumah susun dan warga sekitar.
Tumpukan sampah yang menggunung itu menimbulkan bau tidak sedap yang tercium hingga lantai atas rusun.
“Butuh segera ditindaklanjuti karena bau sampah sampai ke lantai 12 rusun, baunya sangat semerbak,” tulis seorang warga dalam aduan melalui aplikasi Jakarta Kini (Jaki), Kamis (1/1/2026).
Gunungan Sampah Dekat Rusunawa PIK Penggilingan
Keluhan soal gunungan sampah dekat Rusunawa PIK mencuat setelah warga melaporkan kondisi tersebut ke aplikasi Jaki.
Warga menyebut bau menyengat sangat mengganggu kenyamanan dan aktivitas sehari-hari.
Menurut pelapor, kondisi ini sudah berlangsung cukup lama tanpa penanganan maksimal dari pihak terkait.
Pantauan di lokasi menunjukkan gunungan sampah dekat Rusunawa PIK meluber hingga menutup badan jalan di samping Rusunawa PIK 2 dan akses menuju Perumahan Taman Jatinegara.
Tumpukan sampah terlihat di sejumlah titik dan menghambat mobilitas warga.
Sejumlah petugas tampak memindahkan sampah secara manual dari gerobak ke truk. Jalanan di sekitar lokasi terlihat becek, tergenang air, dan dipenuhi sisa sampah.
Lalu Lintas Terganggu dan Lalat Berterbangan
Akibat sampah yang meluas, kendaraan roda empat tidak bisa melintas. Pengendara sepeda motor harus bergantian karena sebagian badan jalan tertutup truk dan gerobak sampah.
Selain bau menyengat, lalat hijau tampak beterbangan di sekitar gunungan sampah dekat Rusunawa PIK, menambah keresahan warga.
Ketua RT 06/20 Penggilingan, Nur Efendi, mengatakan penumpukan sampah sudah terjadi sejak Agustus 2025 setelah tempat penampungan sementara (TPS) ditutup oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup.
“Sempat dipagar ya, waktu itu dipagar karena harus steril. Sampah datang langsung naik ke mobil, enggak boleh ditumpahkan seperti dulu,” ujar Efendi saat ditemui di Rusunawa PIK 2, Jumat (2/1/2026).
Efendi menilai sistem pengangkutan sampah saat ini justru memicu masalah baru. Menurutnya, proses bongkar muat kerap menyebabkan sampah meluber ke jalan dan masuk ke area rusun.
“Nyatanya enggak efektif juga. Malah makin ke sini sampahnya masuk ke area rusunawa,” ucapnya.
Ia menambahkan, warga sekitar paling terdampak karena akses jalan tertutup, sementara penghuni rusun merasakan dampak bau yang menyengat.
“Kalau kita imbasnya di polusi bau. Kalau lagi parah, ampun baunya,” katanya.
Efendi menegaskan, warga rusun bukan pihak yang membuang sampah di lokasi tersebut. Ia menduga sampah berasal dari luar wilayah Penggilingan.
“Dari sini warga rusun enggak buang ke situ. Harusnya yang buang itu dari PJLP di bawah naungan UPRS,” tuturnya.
Ia menyebut sampah diduga berasal dari wilayah Bintara, Bekasi, Pondok Kopi, hingga Duren Sawit.
“Kalau cuma RW Penggilingan doang enggak sampai overload seperti ini,” tegasnya.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai penanganan gunungan sampah dekat Rusunawa PIK. Warga berharap pemerintah segera turun tangan agar persoalan bau, akses jalan, dan potensi gangguan kesehatan dapat segera teratasi.
