Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID– Data penumpang dalam kecelakaan KM Virgo Transport 8 masih menjadi perhatian.

Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banjarmasin menemukan adanya 22 orang yang dinyatakan selamat, tetapi tidak tercantum dalam manifes kapal yang diterima dari Surabaya.

KSOP Banjarmasin kini masih melakukan pencocokan data untuk memastikan apakah perbedaan tersebut menunjukkan adanya tambahan jumlah penumpang atau hanya terjadi perbedaan pencatatan identitas.

22 Penyintas Tak Tercantum dalam Manifes

Kepala KSOP Kelas I Banjarmasin, Heri Purwanto, mengatakan manifes yang diterima dari Surabaya mencatat total 243 penumpang KM Virgo Transport 8.

Namun, setelah dilakukan pendataan terhadap para penyintas, ditemukan 108 orang dalam kondisi selamat. Dari jumlah tersebut, sebanyak 22 orang ternyata tidak ditemukan dalam daftar manifes yang menjadi acuan.

“Data yang ada, sama data yang di manifes, itu ternyata ada 22 orang tidak ada di data manifes kapal yang ada itu. Jadi kita lagi coba mencocokkan,” kata Heri dalam konferensi pers perkembangan operasi SAR hari kedelapan di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Minggu (20/9/2026).

Menurut Heri, proses verifikasi asih diperlukan untuk memastikan penyebab perbedaan tersebut. Salah satu kemungkinan yang sedang ditelusuri adalah adanya perbedaan penulisan identitas antara manifes dengan data korban yang berhasil diselamatkan.

Sebagai contoh, seorang penumpang bisa saja tercatat menggunakan nama panggilan dalam manifes, sedangkan ketika didata setelah dievakuasi, identitas yang digunakan merupakan nama sesuai KTP.

KSOP Banjarmasin selanjutnya akan berkoordinasi dengan pihak terkait di Surabaya untuk mencocokkan kembali data tersebut.

118 Korban Telah Ditemukan

Perkembangan data tersebut terjadi di tengah masih berlangsungnya operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8.

Hingga hari kedelapan operasi SAR, Minggu (20/9/2026) pukul 22.00 WITA, Basarnas mencatat 118 orang telah ditemukan. Rinciannya, 108 orang selamat dan 10 orang meninggal dunia.

Sementara itu, berdasarkan manifes yang mencatat 243 orang, masih terdapat 125 orang yang belum ditemukan.

Angka tersebut merupakan perkembangan dari hari ketujuh operasi. Pada Sabtu (19/9/2026), Basarnas sebelumnya mencatat 117 orang telah ditemukan, terdiri dari 108 orang selamat dan sembilan orang meninggal dunia, dengan 126 orang masih dalam pencarian.

Operasi SAR Diperpanjang Tujuh Hari

Basarnas sebelumnya memutuskan untuk memperpanjang operasi pencarian dan pertolongan terhadap korban KM Virgo Transport 8 selama tujuh hari.

Perpanjangan dilakukan setelah evaluasi bersama berbagai pihak, termasuk mempertimbangkan persiapan operasi salvage atau proses penanganan dan pengangkatan bangkai kapal.

Tim ahli dari pihak pemilik kapal juga masih membahas teknis operasi tersebut. Selain pencarian di permukaan, operasi juga diarahkan untuk menyisir bagian bawah air dan badan kapal.

Tim penyelam disiapkan untuk mencari kemungkinan adanya korban yang masih berada di dalam kapal.

Dalam perkembangan terbaru, penggunaan remotely operated vehicle (ROV) juga disiapkan untuk membantu pemeriksaan bagian dalam bangkai kapal.

Perangkat bawah air tanpa awak tersebut dapat digunakan untuk melihat kondisi lorong atau ruang kapal sebelum penyelam melakukan pencarian lebih lanjut.

KM Virgo Transport 8 Hilang Kontak di Laut Jawa

KM Virgo Transport 8 diketahui berlayar dari Surabaya, Jawa Timur, menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 12 September 2026 dengan jumlah penumpang berdasarkan manifes sebanyak 243 orang.

Pada 13 September 2026 sekitar pukul 02.00 WITA, kapal dilaporkan mengalami cuaca buruk dan kemudian hilang kontak.

Kapal akhirnya ditemukan dalam kondisi terbalik di sekitar perairan Masalembo, Laut Jawa, pada hari yang sama.

Hingga kini, proses pencarian masih berlangsung. Di sisi lain, KSOP Banjarmasin terus melakukan verifikasi terhadap data 22 penyintas yang belum tercantum dalam manifes untuk memastikan kesesuaian jumlah serta identitas seluruh penumpang.

Perkembangan pencatatan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pendataan korban sekaligus pencarian mereka yang hingga kini masih belum ditemukan.