7 Perbedaan Pedofil dan Child Grooming yang Perlu Dipahami, Jangan Sampai Keliru
HAIJAKARTA.ID – Istilah pedofilia dan child grooming kerap dianggap sama karena sama-sama berkaitan dengan anak di bawah umur.
Persepsi tersebut membuat banyak orang keliru dalam memahami perbedaan antara ketertarikan dan tindakan terhadap anak.
Padahal, secara psikologis pedofilia dan child grooming memiliki pengertian yang sangat berbeda.
Dari sisi hukum pun, keduanya menempati posisi yang tidak sama dan memiliki konsekuensi yang berbeda pula.
Mari simak penjelasan selengkapnya berikut ini.
7 Perbedaan Pedofil dan Child Grooming yang Perlu Dipahami
Berikut perbedaannya:
1. Pedofilia Berkaitan dengan Ketertarikan, Bukan Tindakan
Pedofilia merujuk pada ketertarikan (attraction) seseorang terhadap anak di bawah umur.
Menurut Karina Negara, ketertarikan ini bersifat emosional dan bisa muncul tanpa direncanakan.
“Pedofilia itu attraction terhadap anak di bawah umur. Attraction itu di luar kendali kita,” ujar Karina.
2. Child Grooming Sudah Masuk ke Ranah Tindakan Nyata
Berbeda dengan pedofilia, child grooming melibatkan aksi konkret terhadap anak.
Pelaku secara sadar melakukan pendekatan, manipulasi, dan strategi tertentu.
“Child groomer itu kriminal. Karena sudah ada aksi,” tegas Karina.
3. Pedofilia Tidak Otomatis Termasuk Kejahatan
Karena hanya berupa ketertarikan, seseorang dengan pedofilia belum tentu melakukan kekerasan atau eksploitasi.
Selama tidak ada tindakan, individu tersebut tidak bisa langsung dikategorikan sebagai pelaku kejahatan.
“Pedofilia itu attraction-nya saja, belum tentu ada aksi,” kata Karina.
4. Child Groomer Bertindak dengan Perencanaan dan Kesadaran
Proses grooming tidak terjadi secara spontan.
Pelaku menyusun strategi secara bertahap, mulai dari membangun kepercayaan hingga mendekati keluarga korban.
“Polanya sudah terstruktur, itu plan dan action,” jelas Karina.
5. Ketertarikan dan Perilaku Adalah Dua Hal Berbeda
Karina menegaskan bahwa merasa tertarik tidak sama dengan bertindak. Ia mengibaratkan ketertarikan seperti melihat donat di toko.
“Aku attracted sama donat itu. Tapi aku beli, aku mencuri, atau aku enggak ngapa-ngapain, itu keputusan aku,” ujarnya.
6. Pedofilia Perlu Pendampingan, Bukan Penghukuman
Individu dengan ketertarikan tetapi tidak bertindak justru membutuhkan pendekatan profesional, seperti konseling, agar tidak melangkah ke perilaku berbahaya.
“Dia perlu konseling, tapi dia bukan kriminal,” ujar Karina.
7. Tidak Semua Pedofil adalah Child Groomer
Kesimpulan penting yang ditekankan Karina adalah bahwa tidak semua pedofilia berujung pada child grooming.
Namun, setiap child groomer sudah pasti melakukan tindakan yang merugikan anak.
“Tidak semua pedofilia itu child groomer,” katanya.
Perbedaan utama antara pedofilia dan child grooming terletak pada ketertarikan versus tindakan.
Ketertarikan bisa muncul di luar kendali seseorang, tetapi keputusan untuk bertindak selalu merupakan pilihan sadar.

