sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Jadwal puasa Ramadhan 2026 NU sudah mulai dicari-cari oleh masyarakat.

Umat Islam di Indonesia mulai mempersiapkan diri menyambut bulan penuh berkah tersebut, baik dari sisi spiritual, sosial, maupun administrasi kegiatan keagamaan.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, penentuan awal Ramadhan di Indonesia berpotensi mengalami perbedaan.

Hal ini tidak terlepas dari perbedaan metode yang digunakan oleh organisasi Islam dan pemerintah dalam menetapkan awal bulan Hijriah.

Di Indonesia, terdapat tiga otoritas utama yang menjadi rujukan masyarakat dalam penetapan awal puasa Ramadhan, yaitu Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Kementerian Agama.

Ketiganya memiliki pendekatan dan mekanisme penetapan yang berbeda, meskipun sama-sama berlandaskan kalender Hijriah.

Jadwal Puasa Ramadhan 2026 NU Masih Menunggu Rukyatul Hilal

Hingga akhir Januari 2026, Nahdlatul Ulama belum menetapkan secara resmi tanggal 1 Ramadhan 1447 H. NU masih menunggu hasil pengamatan hilal yang akan dilakukan pada tanggal 29 Syaban 1447 Hijriah.

Dalam tradisi NU, penentuan awal Ramadhan dilakukan melalui metode rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung terhadap keberadaan bulan sabit pertama setelah ijtima’.

Metode ini dipadukan dengan perhitungan astronomi yang dikenal sebagai hisab imkanur rukyat.

Berdasarkan kalender hisab NU dan Almanak NU, awal puasa Ramadhan 2026 diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Meski demikian, tanggal tersebut masih bersifat perkiraan dan belum menjadi keputusan resmi organisasi.

NU menegaskan bahwa hasil rukyatul hilal tetap menjadi faktor penentu utama. Apabila hilal terlihat pada akhir bulan Syaban, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Ramadhan.

Sebaliknya, jika hilal tidak terlihat, bulan Syaban akan digenapkan menjadi 30 hari.

Dasar Metode NU dalam Menentukan Awal Puasa

Dalam praktiknya, NU menggunakan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Kriteria ini mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat agar hilal dianggap mungkin terlihat.

Pendekatan ini bertujuan menjaga kehati-hatian dalam penetapan awal ibadah, sekaligus mempertahankan tradisi rukyat sebagai bagian dari praktik keagamaan yang telah berlangsung lama di kalangan warga NU.

Oleh karena itu, meskipun kalender hisab memberikan gambaran awal, NU tetap menunggu laporan resmi dari tim rukyatul hilal yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa Lebih Awal

Berbeda dengan NU, Muhammadiyah telah menetapkan jadwal awal puasa Ramadhan 2026 jauh hari sebelumnya.

Berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Metode ini sepenuhnya mengandalkan perhitungan astronomi tanpa menunggu pengamatan hilal secara langsung.

Muhammadiyah menggunakan acuan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang dirancang untuk memberikan kepastian dan keseragaman penanggalan Hijriah secara global.

Selain menetapkan awal Ramadhan, Muhammadiyah juga telah mengumumkan tanggal-tanggal penting lainnya.

Dalam maklumat resminya, Hari Raya Idul Fitri 1447 H ditetapkan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Pendekatan ini dinilai memberikan kepastian waktu ibadah bagi warga Muhammadiyah, khususnya dalam perencanaan kegiatan Ramadhan dan Idul Fitri.

Pemerintah Menunggu Sidang Isbat

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama RI juga belum menetapkan secara resmi jadwal awal puasa Ramadhan 2026.

Pemerintah akan menentukan awal Ramadhan melalui sidang isbat, yang digelar setelah pelaksanaan rukyatul hilal pada tanggal 29 Syaban.

Sidang isbat melibatkan berbagai unsur, mulai dari perwakilan ormas Islam, ahli falak, astronom, hingga lembaga terkait.

Keputusan sidang isbat bersifat nasional dan menjadi rujukan resmi bagi masyarakat Indonesia.

Berdasarkan kalender resmi Kemenag, awal puasa Ramadhan 2026 diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, sejalan dengan prediksi NU. Namun, keputusan final tetap menunggu hasil sidang isbat.

Potensi Perbedaan Awal Puasa Ramadhan 2026

Dengan adanya perbedaan metode penetapan, potensi perbedaan awal puasa Ramadhan 2026 kembali terbuka.

Jika prediksi tersebut terealisasi, maka warga Muhammadiyah berpotensi memulai puasa sehari lebih awal dibandingkan warga NU dan keputusan pemerintah.

Perbedaan ini bukanlah hal baru dan telah menjadi dinamika tahunan dalam penetapan awal Ramadhan di Indonesia.

Para ulama dan tokoh agama terus mengimbau masyarakat agar menyikapi perbedaan ini dengan sikap saling menghormati dan menjaga persatuan umat.

Masyarakat juga diharapkan mengikuti keputusan organisasi keagamaan masing-masing atau keputusan pemerintah sebagai pedoman dalam menjalankan ibadah puasa.