sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Pemerintah Indonesia hingga kini belum membuka opsi untuk menerima bantuan dari negara asing dalam penanganan bencana gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyampaikan pemerintah masih menilai dampak gempa tersebut dapat ditangani dengan kapasitas nasional.

Karena itu, belum ada keputusan untuk meminta maupun menerima bantuan dari negara lain.

Sikap tersebut muncul setelah sejumlah negara menyampaikan simpati sekaligus menawarkan bantuan kepada Indonesia.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, misalnya, menyampaikan belasungkawa kepada Presiden Prabowo Subianto dan menyatakan kesiapan Iran mengirimkan bantuan kemanusiaan serta pertolongan medis bagi masyarakat terdampak gempa NTT.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia saat ini memilih memaksimalkan sumber daya dalam negeri.

Penanganan darurat diarahkan pada evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, pembukaan akses, serta pemulihan wilayah terdampak.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah memerintahkan jajaran pemerintah bergerak cepat menangani dampak gempa.

Sejumlah pejabat pusat ditugaskan ke Labuan Bajo dan Maumere, termasuk menteri terkait, Kepala BNPB, Kepala Basarnas, Wakil Menteri Kesehatan, dan Wakil Menteri Sosial. Dukungan juga melibatkan PLN, Telkom, Pertamina, serta Bulog.

Pemerintah juga mengirimkan 50.000 paket sembako Bantuan Presiden (Banpres) ke Maumere untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak.

Bantuan tersebut dikirim sebagai bagian dari respons cepat pemerintah setelah gempa. Selain bantuan logistik, aparat gabungan terus dikerahkan untuk mendukung proses pencarian, evakuasi, pelayanan kesehatan, dan distribusi bantuan.

Polri, misalnya, mengerahkan ratusan personel dari Polda NTT dan jajaran Polres ke berbagai wilayah terdampak.

Pemerintah juga menekankan pentingnya memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat secara cepat dan merata.

Penanganan di lapangan mencakup pendataan korban, pemetaan kerusakan, pembukaan akses transportasi dan komunikasi, hingga pemulihan kondisi masyarakat.

Sementara itu, tawaran bantuan dari negara sahabat menunjukkan adanya perhatian internasional terhadap kondisi masyarakat NTT.

Namun, sampai pemerintah mengambil keputusan berbeda, penanganan bencana masih diprioritaskan melalui kemampuan dan sumber daya nasional.

Dengan demikian, informasi mengenai Indonesia menolak bantuan dari China dan Iran perlu dipahami secara hati-hati.

Pernyataan pemerintah yang tersedia menyebutkan bahwa opsi menerima bantuan asing belum dibuka atau belum diputuskan, bukan berarti pemerintah telah mengeluarkan keputusan final untuk menolak seluruh bantuan dari negara lain.

Pemerintah masih memantau perkembangan situasi di lapangan dan kebutuhan masyarakat terdampak sebelum menentukan langkah selanjutnya.