sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Misteri hilangnya lima jurnalis bersama tiga awak kapal yang tengah melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda memasuki babak baru.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap bahwa kondisi perairan Selat Sunda bagian selatan ketika rombongan tersebut berlayar berada dalam kategori gelombang tinggi.

Prakirawan BMKG Maritim Lampung, Putu Ray, menyebut tinggi gelombang di kawasan tersebut mencapai sekitar 2,5 hingga 4 meter.

Menurut BMKG, peringatan dini mengenai potensi gelombang tinggi tersebut telah disampaikan sebelum rombongan berangkat.

Gelombang Tinggi Sudah Diperingatkan BMKG

Putu menjelaskan, kondisi gelombang tinggi di Selat Sunda bagian selatan bukan hanya terjadi pada saat rombongan jurnalis dilaporkan hilang.

Berdasarkan pemantauan BMKG, gelombang tinggi berlangsung pada periode 6 hingga 9 September 2026.

BMKG juga menyatakan telah mengeluarkan peringatan dini sehari sebelum kejadian.

“Pada H-1 pada saat kejadian, kami telah mengirimkan warning-nya,” ujar Putu, Jumat (11/9/2026).

Peringatan tersebut mencakup wilayah Selat Sunda bagian selatan yang diperkirakan mengalami gelombang dengan ketinggian 2,5 sampai 4 meter.

Meski demikian, BMKG belum menyimpulkan bahwa gelombang tinggi tersebut merupakan penyebab hilangnya kapal yang membawa delapan orang tersebut.

Penyebab pasti hingga kini masih menjadi bagian dari penyelidikan dan pencarian yang dilakukan oleh tim SAR gabungan.

Peringatan Gelombang Tinggi Kembali Diperbarui

Kondisi laut di kawasan tersebut juga masih perlu mendapatkan perhatian.

BMKG kembali memperbarui peringatan dini untuk periode 11 hingga 14 September 2026. Dalam pembaruan tersebut, perairan Selat Sunda bagian selatan masih masuk kategori gelombang tinggi.

Artinya, meskipun operasi pencarian terhadap rombongan jurnalis terus dilakukan, kondisi cuaca dan laut tetap menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan oleh seluruh personel yang berada di lapangan.

Tim SAR harus melakukan pencarian dengan mempertimbangkan kondisi keselamatan karena wilayah pencarian berada di perairan yang memiliki potensi gelombang tinggi.

Berangkat dari Carita Menuju Anak Krakatau

Rombongan yang terdiri dari lima jurnalis dan tiga awak kapal diketahui berangkat menggunakan speedboat Arupadhatu 1 dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Mereka berangkat pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB.

Tujuan perjalanan tersebut adalah kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas vulkanik.

Total terdapat delapan orang di dalam kapal. Mereka terdiri atas lima jurnalis serta tiga orang yang bertugas sebagai nakhoda, anak buah kapal (ABK), dan pemandu.

Namun, sekitar satu jam setelah keberangkatan, komunikasi dengan rombongan tersebut terputus.

Sejak saat itu, pencarian terhadap mereka dilakukan oleh tim SAR gabungan.

Pencarian Terus Diperluas

Operasi pencarian kemudian diperluas, baik melalui jalur laut maupun darat.

Sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda menjadi sasaran penyisiran tim SAR. Beberapa lokasi yang menjadi fokus pencarian di antaranya Pulau Sertung, Pulau Rakata, Pulau Sebesi, Pulau Umang, hingga sejumlah kawasan pesisir lainnya.

Tim SAR juga mengandalkan berbagai informasi dan petunjuk yang diperoleh selama proses pencarian.

Salah satu informasi penting berasal dari jejak komunikasi dan lokasi terakhir rombongan sebelum dinyatakan hilang.

Hingga kini, proses pencarian masih berlangsung dan belum ada kepastian mengenai keberadaan seluruh anggota rombongan.

Keselamatan Jadi Perhatian Utama

Kondisi gelombang tinggi menjadi tantangan tersendiri dalam operasi pencarian.

Dengan ketinggian gelombang yang dapat mencapai empat meter, proses penyisiran di tengah laut membutuhkan kehati-hatian ekstra.

Meski begitu, kondisi cuaca tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab hilangnya speedboat Arupadhatu 1.

Tim SAR masih berupaya mengumpulkan seluruh informasi dan petunjuk untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi setelah kapal meninggalkan Dermaga Pagedongan.