IHSG Anjlok 5 Persen ke Level 4.900, Saham Bank dan Energi Berguguran!
HAIJAKARTA.ID- Pasar saham Indonesia kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan Senin (19/10/2026).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot hampir 5 persen pada awal perdagangan hingga kembali menembus level 4.900, memicu perhatian investor terhadap kondisi pasar modal nasional.
Berdasarkan laporan perdagangan pagi, IHSG dibuka melemah 253,29 poin atau 4,87 persen ke level 4.931.
Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut kembali berada di bawah ambang psikologis 5.000, seiring tekanan jual yang meluas ke berbagai sektor saham.
Pelemahan ini memperpanjang koreksi tajam yang terjadi pada akhir pekan sebelumnya. Pada Jumat (16/10/2026), IHSG tercatat anjlok 11,57 persen atau kehilangan 678,68 poin hingga ditutup di level 5.185.
Pergerakan tersebut menjadi salah satu episode terburuk pasar saham Indonesia sejak krisis moneter 1998.
Mengutip laporan CNBC Indonesia yang dipublikasikan pada Senin (19/10/2026), tekanan pasar juga membawa IHSG kembali ke kisaran 4.900, level yang terakhir terlihat pada periode pandemi COVID-19 pada 2020.
Saham Berkapitalisasi Besar Jadi Pemberat IHSG
Penurunan IHSG turut dipengaruhi oleh pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar atau big cap.
Saham-saham tersebut memiliki bobot signifikan dalam perhitungan indeks sehingga pergerakannya dapat memengaruhi kinerja IHSG secara keseluruhan.
Sejumlah saham yang mendapat tekanan pada awal perdagangan di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), serta PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga menjadi perhatian pelaku pasar di tengah koreksi yang melanda saham-saham unggulan.
Tekanan tersebut tidak hanya terjadi pada saham perbankan dan energi. Sektor material dasar, industri, serta infrastruktur juga mengalami pelemahan lebih dari 5 persen pada awal perdagangan, berdasarkan laporan pasar yang diterbitkan Tutur.co.id pada Senin pagi.
Sektor Energi dan Infrastruktur Tertekan
Pelemahan pasar saham sebenarnya telah terlihat sepanjang pekan sebelumnya. Berdasarkan laporan RollingStock.ID pada Minggu (18/10/2026), indeks sektor energi terkoreksi 19,27 persen selama periode perdagangan 9–16 Oktober 2026.
Indeks sektor infrastruktur juga mengalami penurunan tajam sebesar 19,03 persen pada periode yang sama. Sementara itu, IHSG secara keseluruhan melemah 14,9 persen dan ditutup pada level 5.185 pada akhir pekan.
Pada sektor energi, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengalami koreksi signifikan. Adapun saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) turut bergerak melemah dalam periode mingguan tersebut.
Di sektor infrastruktur, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga mencatatkan penurunan selama sepekan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan terhadap pasar saham tidak terbatas pada satu sektor, melainkan meluas ke sejumlah kelompok industri yang memiliki kontribusi besar terhadap pergerakan indeks.
Sentimen MSCI dan Arus Dana Asing Jadi Sorotan
Salah satu sentimen yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah pengumuman penyedia indeks global MSCI mengenai evaluasi klasifikasi pasar saham Indonesia.
Pada Senin (19/10/2026), MSCI disebut tengah mempertimbangkan perubahan status Indonesia dari kategori emerging market atau pasar berkembang menjadi standalone market.
Wacana tersebut berkaitan dengan persoalan transparansi kepemilikan saham dan praktik perdagangan di pasar modal Indonesia.
Jika perubahan klasifikasi benar-benar diterapkan, Indonesia berpotensi menghadapi risiko berkurangnya aliran investasi dari pengelola dana global yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan.
Tekanan pasar juga tercermin dari transaksi investor asing. Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), investor asing membukukan penjualan bersih saham Indonesia sebesar Rp3,34 triliun, menurut laporan Tutur.co.id.
Meski demikian, penurunan IHSG tidak dapat dikaitkan dengan satu faktor saja. Pergerakan indeks juga dipengaruhi kondisi pasar regional, sentimen investor, arus modal, serta dinamika perdagangan saham domestik.
BEI Pangkas Batas Auto Rejection Bawah
Di tengah gejolak pasar, Bursa Efek Indonesia mengambil langkah penyesuaian mekanisme perdagangan dengan memangkas batas auto rejection bawah (ARB) menjadi 7 persen dari sebelumnya 15 persen pada Senin (19/10/2026).
Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk memberikan waktu bagi investor dalam mengevaluasi informasi pasar sebelum mengambil keputusan investasi.
Perubahan batas ARB menjadi salah satu respons regulator terhadap kondisi perdagangan yang bergejolak.
Namun, kebijakan tersebut tidak serta-merta menjamin pemulihan indeks karena arah IHSG tetap dipengaruhi perkembangan sentimen pasar dan aktivitas transaksi investor.
Dengan IHSG yang kembali berada di bawah level 5.000, pelaku pasar masih mencermati perkembangan perdagangan selanjutnya, terutama pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar, respons investor asing, serta kejelasan kebijakan terkait klasifikasi pasar Indonesia.
Investor diharapkan tetap mempertimbangkan risiko dan kondisi fundamental sebelum mengambil keputusan di tengah volatilitas pasar saham yang tinggi.

