Ortu Anak yang Diduga Terlibat Perundungan Bocah Difabel di Surabaya Minta Maaf, Ayah Korban Tolak Uang Rp100 Ribu!
HAIJAKARTA.ID – Kasus meninggalnya Zulkarnain Abdil Aziz (10), bocah penyandang disabilitas di Surabaya, Jawa Timur, menyisakan duka mendalam bagi keluarganya.
Di tengah proses hukum yang masih berjalan, orang tua dari dua anak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut mendatangi keluarga korban untuk menyampaikan permintaan maaf.
Namun, kedatangan mereka turut diwarnai pemberian uang Rp100 ribu dan beras seberat 1 kilogram.
Ayah korban, Selaras Abdul, menolak pemberian uang tersebut karena merasa nominal itu tidak sebanding dengan kehilangan putra yang selama ini dirawatnya dengan penuh perjuangan.
Selaras menceritakan bahwa salah satu orang tua datang membawa uang Rp100 ribu, sedangkan orang tua lainnya memberikan beras sebanyak 1 kilogram sambil menyampaikan permintaan maaf.
Selaras mengaku tidak bersedia menerima uang tersebut. Baginya, kehilangan anak bukan sesuatu yang dapat dibandingkan dengan pemberian materi.
Kekecewaan itu disampaikan Selaras ketika ditemui pada Jumat (16/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia masih tampak terpukul saat menceritakan peristiwa yang merenggut nyawa anak keduanya.
Perjuangan Orang Tua Merawat Korban Sejak Kecil
Kesedihan Selaras semakin terasa ketika mengingat perjuangannya bersama sang istri, Nurul Fadilah, dalam merawat Zulkarnain sejak kecil.
Menurut penuturannya, putranya telah menjalani berbagai perawatan medis, termasuk operasi akibat sejumlah masalah kesehatan.
Selama bertahun-tahun, Nurul juga harus bolak-balik ke rumah sakit sambil menggendong anaknya untuk mendapatkan penanganan medis.
Setelah melewati berbagai proses pengobatan, keluarga berharap Zulkarnain dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Namun, harapan tersebut pupus setelah anak mereka ditemukan dalam kondisi kritis di depan rumah.
Duka yang dialami keluarga tidak hanya berkaitan dengan kehilangan seorang anak, tetapi juga dengan perjuangan panjang yang telah mereka lalui untuk merawat dan mendampingi Zulkarnain.
Selaras meminta agar kasus yang menimpa putranya mendapat perhatian serius dari pemerintah dan aparat penegak hukum.
Ia berharap proses hukum tetap berjalan sesuai ketentuan, sekaligus memastikan anak-anak yang diduga terlibat mendapatkan pembinaan agar kejadian serupa tidak terulang.
Kronologi Zulkarnain Ditemukan dalam Kondisi Kritis
Zulkarnain ditemukan dalam kondisi kritis pada Sabtu (12/9/2026) sekitar pukul 09.20 WIB di depan rumah keluarganya di kawasan Jalan Tambak Medokan Ayu XI, Surabaya.
Peristiwa itu bermula ketika Nurul baru pulang berjualan dari pasar. Setibanya di rumah, ia mendapati putranya terjatuh dari kursi roda dengan kondisi wajah membiru dan tali sepatu melilit lehernya.
Mendengar teriakan sang istri, Selaras segera keluar rumah. Ia kemudian melepaskan tali yang menjerat leher anaknya dan meminta bantuan warga untuk membawa Zulkarnain ke rumah sakit.
Korban sempat dibawa ke RSUD Eka Candrarini. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Setelah kejadian tersebut, keluarga berupaya mencari tahu penyebab kematian Zulkarnain, termasuk dengan memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV di sekitar tempat tinggal mereka.
Rekaman tersebut menimbulkan dugaan keterlibatan dua anak tetangga berusia 10 dan 8 tahun.
Dugaan itu kemudian menjadi bagian dari laporan yang disampaikan keluarga kepada pihak kepolisian.
Polisi Masih Mendalami Kasus
Kasus kematian Zulkarnain telah dilaporkan kepada Polrestabes Surabaya. Pihak kepolisian menyatakan laporan tersebut telah ditangani dan proses penyidikan masih berlangsung.
Dalam perkembangan yang diberitakan detikJatim pada Minggu (18/10/2026), polisi masih menunggu hasil pemeriksaan psikologi serta asesmen dari lembaga sosial untuk mendukung penanganan kasus yang melibatkan anak di bawah umur.
Polisi juga mendalami peran masing-masing anak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut. Penanganannya perlu memperhatikan ketentuan hukum yang berlaku bagi anak, termasuk mekanisme peradilan pidana anak.
Karena proses penyidikan belum selesai, dugaan keterlibatan setiap pihak tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari perkara yang sedang ditangani aparat.
Keluarga Berharap Ada Keadilan
Di tengah proses hukum yang berjalan, keluarga Zulkarnain berharap kematian putra mereka mendapatkan kejelasan dan penanganan yang adil.
Selaras juga menekankan pentingnya pembinaan terhadap anak-anak yang diduga terlibat.
Menurutnya, penanganan kasus tidak cukup berhenti pada proses hukum, tetapi perlu disertai pendidikan dan pendampingan agar anak-anak tersebut memahami konsekuensi perbuatannya.
Kasus ini kembali menyoroti pentingnya perlindungan anak, pencegahan perundungan, serta perhatian terhadap anak penyandang disabilitas.
Lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, dan pemerintah memiliki peran dalam menciptakan ruang yang aman bagi setiap anak.
Kepastian mengenai penyebab kematian Zulkarnain dan tanggung jawab pihak-pihak yang terlibat kini menjadi hal yang dinantikan keluarga, sembari menunggu proses penyidikan kepolisian berjalan sesuai ketentuan hukum.

