Bank Global Siaga Hadapi Ancaman Siber Berbasis AI, Layanan ATM dan Mobile Banking Berpotensi Dihentikan Sementara
HAIJAKARTA.ID- Industri perbankan dunia meningkatkan kewaspadaan terhadap meningkatnya ancaman serangan siber yang dipicu oleh perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Otoritas dan pelaku industri memperingatkan bahwa dalam kondisi darurat, sejumlah layanan perbankan seperti ATM hingga mobile banking (m-banking) berpotensi dihentikan sementara sebagai langkah perlindungan terhadap dana dan data nasabah.
Peringatan tersebut muncul setelah otoritas keuangan di Jepang menyampaikan kekhawatiran mengenai meningkatnya risiko serangan siber yang memanfaatkan kemampuan AI generasi terbaru.
Sebelumnya, kekhawatiran serupa juga telah disampaikan oleh otoritas di Hong Kong.
AI Canggih Dinilai Mampu Mengungkap Celah Keamanan Sistem
Perhatian industri perbankan tertuju pada hadirnya model AI terbaru yang memiliki kemampuan menganalisis serta menemukan kerentanan pada sistem perangkat lunak dalam waktu sangat singkat.
Teknologi seperti ini sejatinya dikembangkan untuk membantu meningkatkan keamanan siber.
Namun, apabila dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, kemampuan tersebut berpotensi digunakan untuk mengeksploitasi celah keamanan pada sistem perbankan maupun infrastruktur digital lainnya.
Para pakar keamanan siber menilai bahwa perkembangan AI membuat metode serangan siber menjadi semakin kompleks dan lebih sulit diantisipasi dibandingkan sebelumnya.
Perbankan Jepang Siapkan Langkah Darurat
Ketua Asosiasi Perbankan Jepang sekaligus Presiden Mizuho Bank, Masahiko Kato, mengatakan bahwa industri perbankan harus mempersiapkan langkah mitigasi apabila terjadi peningkatan serangan siber dalam skala besar.
Menurutnya, terdapat kemungkinan sejumlah layanan penting, termasuk jaringan ATM maupun layanan digital perbankan, dihentikan sementara secara terencana apabila kondisi mengharuskan.
Kebijakan tersebut bukan disebabkan oleh kegagalan sistem, melainkan sebagai tindakan preventif untuk melindungi dana nasabah serta mencegah penyebaran serangan siber.
Kato juga menegaskan bahwa ancaman yang muncul saat ini dinilai jauh lebih besar dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sehingga diperlukan strategi pengamanan yang lebih agresif.
Pengembang AI Ikut Mengingatkan Potensi Risiko
Perusahaan pengembang AI, Anthropic, sebelumnya juga mengungkapkan bahwa model AI canggih yang mereka kembangkan mampu menemukan ribuan kelemahan keamanan pada berbagai sistem operasi dan peramban (browser).
Kemampuan tersebut diharapkan dapat membantu proses peningkatan keamanan digital.
Namun di sisi lain, perusahaan juga mengingatkan bahwa apabila informasi mengenai celah keamanan tersebut disalahgunakan oleh pelaku kejahatan siber sebelum diperbaiki, dampaknya dapat mengancam berbagai sektor, termasuk industri keuangan.
Karena itu, pengelolaan dan distribusi teknologi AI berkemampuan tinggi menjadi perhatian berbagai negara.
Sejumlah Bank Perketat Penggunaan AI
Merespons meningkatnya risiko tersebut, berbagai lembaga keuangan internasional mulai memperketat kebijakan penggunaan teknologi AI di lingkungan internal mereka.
Beberapa institusi memperkuat sistem pemantauan keamanan siber, meningkatkan pengujian terhadap infrastruktur digital, hingga membatasi akses terhadap model AI tertentu demi mengurangi potensi penyalahgunaan.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan digital.
Pemerintah AS Sempat Batasi Akses
Di Amerika Serikat, pemerintah sempat menerapkan pembatasan terhadap akses model AI tertentu yang dikembangkan Anthropic dengan alasan keamanan nasional.
Kebijakan tersebut kemudian mengalami penyesuaian sehingga akses kembali dibuka untuk organisasi yang memenuhi persyaratan tertentu.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa perkembangan AI kini tidak hanya menjadi isu teknologi, tetapi juga berkaitan dengan stabilitas ekonomi dan keamanan siber global.
Nasabah Diimbau Tetap Tenang
Meski muncul berbagai peringatan, hingga saat ini belum terdapat keputusan yang mewajibkan penghentian layanan ATM maupun mobile banking secara massal.
Otoritas perbankan menegaskan bahwa skenario penghentian sementara hanya akan diterapkan apabila terjadi kondisi darurat yang benar-benar mengancam keamanan sistem.
Masyarakat pun diimbau tetap tenang dan terus mengikuti informasi resmi dari bank maupun regulator apabila terjadi gangguan layanan.
Di sisi lain, para nasabah juga disarankan untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kerahasiaan data pribadi, mengaktifkan autentikasi berlapis, memperbarui aplikasi perbankan secara berkala, serta menghindari tautan atau pesan mencurigakan yang berpotensi menjadi modus kejahatan siber.
