Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Badan Gizi Nasional (BGN) meminta siswa penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk tidak membawa makanan yang telah dibagikan pulang ke rumah.

Makanan MBG diimbau untuk segera dikonsumsi di sekolah guna menjaga kualitas dan keamanan pangan.

Kepala BGN Sudaryono menyampaikan imbauan tersebut di Jakarta pada Kamis (6/8/2026). Menurutnya, makanan MBG sebaiknya dihabiskan di lingkungan sekolah setelah diterima oleh para siswa.

Kebijakan tersebut menjadi perhatian BGN menyusul adanya sejumlah laporan dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi makanan MBG.

BGN tengah mengevaluasi berbagai faktor yang berpotensi menyebabkan persoalan keamanan pangan, termasuk lamanya waktu makanan berada sebelum dikonsumsi.

Makanan MBG Harus Segera Dikonsumsi

Sudaryono menjelaskan bahwa makanan yang disiapkan dalam program MBG tidak menggunakan bahan pengawet.

Karena itu, makanan perlu dikonsumsi dalam rentang waktu yang telah ditentukan agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga.

BGN kini mendorong agar makanan yang telah matang tidak terlalu lama berada dalam proses distribusi maupun penyimpanan sebelum disantap oleh penerima manfaat.

Dalam ketentuan yang tengah diperketat, BGN menargetkan makanan MBG dikonsumsi maksimal sekitar empat jam sejak selesai dimasak.

Pembatasan waktu tersebut menjadi salah satu langkah untuk mengurangi risiko makanan mengalami penurunan kualitas.

Guru Diminta Ikut Mengawasi Siswa

Selain mengatur waktu konsumsi, BGN juga meminta pihak sekolah, khususnya guru, ikut memberikan edukasi kepada siswa mengenai pentingnya segera menyantap makanan MBG.

Guru diharapkan dapat mengingatkan siswa agar tidak menyimpan makanan terlalu lama atau membawanya pulang untuk dikonsumsi beberapa jam kemudian.

Langkah ini dinilai penting karena keamanan makanan bukan hanya bergantung pada proses memasak di dapur MBG, tetapi juga pada bagaimana makanan tersebut ditangani setelah sampai di sekolah.

BGN menyebut pengawasan di tingkat sekolah perlu diperkuat agar makanan yang telah disiapkan sesuai standar dapat dikonsumsi dalam kondisi yang masih aman.

Evaluasi Dilakukan Setelah Muncul Kasus Gangguan Kesehatan

Pengetatan prosedur tersebut dilakukan ketika BGN tengah melakukan evaluasi terhadap sejumlah kasus dugaan keracunan yang dikaitkan dengan konsumsi MBG.

Dalam salah satu temuan yang disampaikan BGN, terdapat makanan yang baru dibagikan kepada penerima manfaat dalam waktu sangat lama setelah proses memasak.

Di Jayapura, misalnya, BGN mengungkap adanya makanan yang baru dibagikan sekitar 16 jam setelah dimasak. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius dalam evaluasi keamanan pangan program MBG.

BGN menilai jarak waktu antara makanan selesai dimasak hingga dikonsumsi merupakan salah satu aspek penting yang harus dikendalikan. Karena itu, prosedur operasional dan distribusi makanan akan diperketat.

Bukan Sekadar Soal Membawa Pulang

Imbauan agar siswa tidak membawa pulang MBG bukan semata-mata berkaitan dengan tempat makanan dikonsumsi. Persoalan utamanya adalah waktu dan kondisi makanan sebelum disantap.

Makanan yang tidak menggunakan bahan pengawet memiliki batas waktu konsumsi tertentu.

Apabila makanan dibiarkan terlalu lama dalam kondisi yang tidak sesuai standar penyimpanan, kualitas dan keamanan pangan dapat menurun.

Karena itu, BGN mendorong agar makanan yang sudah tiba di sekolah segera disantap oleh siswa sesuai prosedur yang ditetapkan.

BGN Perketat Standar Keamanan MBG

Pengetatan aturan ini menjadi bagian dari upaya BGN memperbaiki pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, terutama dari sisi keamanan pangan.

Sebelumnya, BGN juga telah menerapkan mekanisme distribusi berdasarkan karakteristik dan daya tahan makanan. Untuk makanan segar yang diberikan kepada siswa, distribusi dirancang dengan mempertimbangkan kualitas dan kesegaran bahan pangan.

BGN juga menegaskan pentingnya pengawasan terhadap proses pengolahan, kebersihan dapur, distribusi, hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh penerima manfaat.

Dengan demikian, pelaksanaan MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi siswa, tetapi juga harus memastikan makanan yang diberikan aman untuk dikonsumsi.

Orang Tua Perlu Mengetahui Aturan Konsumsi MBG

Imbauan tersebut juga menjadi informasi penting bagi orang tua. Jika anak menerima makanan MBG di sekolah, orang tua perlu mengetahui bahwa makanan tersebut pada kondisi normal diperuntukkan untuk segera dikonsumsi sesuai mekanisme yang telah ditetapkan.

Namun, aturan konsumsi dapat berbeda dalam kondisi tertentu. Sebagai contoh, BGN sebelumnya pernah menerapkan skema khusus selama Ramadan, ketika makanan tertentu memang dapat dibawa pulang untuk dikonsumsi saat berbuka.

Dalam skema tersebut, menu yang diberikan disesuaikan agar memiliki daya tahan lebih lama.

Artinya, larangan membawa pulang yang disampaikan Sudaryono berkaitan dengan pelaksanaan MBG dalam kondisi normal, bukan seluruh situasi tanpa pengecualian.

Intinya BGN meminta siswa menghabiskan makanan MBG di sekolah dan tidak membawanya pulang dalam pelaksanaan normal.

Guru diminta membantu mengedukasi dan mengawasi siswa, sementara BGN akan memperketat prosedur agar makanan dikonsumsi dalam batas waktu yang aman setelah dimasak.

Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah makanan terlalu lama disimpan sekaligus memperkuat keamanan Program Makan Bergizi Gratis bagi para penerima manfaat.