BGN Sasar 658.300 Guru dan Tenaga Kependidikan untuk Perkuat Literasi Gizi Program MBG!
HAIJAKARTA.ID- Badan Gizi Nasional (BGN) mulai memperluas edukasi mengenai gizi dan keamanan pangan melalui program literasi yang menyasar para guru serta tenaga kependidikan.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat pemahaman siswa mengenai pentingnya makanan bergizi sekaligus mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pada tahap awal, sebanyak 658.300 guru dan tenaga kependidikan menjadi sasaran program literasi gizi tersebut. Mereka berasal dari tiga wilayah, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan kegiatan tersebut merupakan tahap awal sebelum program diperluas secara nasional.
Dalam jangka berikutnya, BGN menargetkan literasi gizi dapat menjangkau sekitar 3,5 juta guru di seluruh Indonesia.
“Di tahap awal ini kami menyasar 658.300 guru yang tersebar di DKI, Jawa Barat, dan Banten. Untuk kemudian nanti kami perlebar sehingga dalam waktu yang sesingkat-singkatnya kami bisa menjangkau 3,5 juta guru yang tersebar di seluruh Indonesia,” ujar Sudaryono dalam kegiatan kick-off literasi gizi, dikutip Kamis (13/8/2026).
Ratusan Ribu Guru Jadi Sasaran Awal
Program Literasi Gizi dan Keamanan Pangan ini dijalankan BGN bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Pada tahap pertama, sasaran program terbagi menjadi tiga wilayah. Rinciannya, sebanyak 53.831 guru dan tenaga kependidikan berada di DKI Jakarta, kemudian 492.944 orang di Jawa Barat, serta 111.525 orang di Banten.
Jika dijumlahkan, total sasaran awal mencapai 658.300 orang. Melalui program tersebut, guru diharapkan tidak hanya menjadi pendamping siswa ketika menerima dan mengonsumsi makanan dalam program MBG, tetapi juga berperan sebagai penyampai pengetahuan mengenai gizi dan keamanan pangan.
Dengan demikian, pelaksanaan MBG tidak berhenti pada penyediaan makanan bagi peserta didik.
Pemahaman mengenai kandungan makanan, pola makan bergizi seimbang, kebersihan, serta keamanan pangan juga menjadi bagian penting dari program.
BGN Ingin Guru Menjadi Penggerak Edukasi Gizi
Sudaryono menilai keberhasilan program MBG tidak semata-mata ditentukan dari tersedianya makanan bagi para penerima manfaat.
Menurutnya, edukasi mengenai gizi merupakan bagian penting agar anak-anak memahami manfaat makanan yang mereka konsumsi.
Karena itu, guru dinilai memiliki posisi strategis. Mereka berinteraksi langsung dengan peserta didik sehingga pesan mengenai pola makan sehat, gizi seimbang, kebersihan, dan keamanan pangan dapat disampaikan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.
BGN juga menjelaskan bahwa kegiatan kick-off tersebut akan dilanjutkan dengan berbagai kegiatan edukasi, termasuk webinar secara bertahap untuk memperluas jangkauan literasi kepada para guru.
Target Diperluas hingga 3,5 Juta Guru
Setelah tahap awal di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, BGN berencana memperluas program tersebut ke berbagai daerah lainnya. Target akhirnya adalah melibatkan sekitar 3,5 juta guru di seluruh Indonesia.
Perluasan ini diharapkan dapat membuat edukasi gizi semakin dekat dengan siswa. Guru nantinya diharapkan mampu meneruskan informasi yang diperoleh kepada anak didik dengan bahasa yang mudah dipahami dan sesuai dengan kondisi di sekolah masing-masing.
Langkah tersebut juga sejalan dengan panduan BGN mengenai edukasi gizi dan keamanan pangan.
Dalam petunjuk teknis BGN, satuan pendidikan memiliki peran dalam sosialisasi dan edukasi gizi serta perilaku hidup bersih dan sehat.
Guru pembina UKS, misalnya, dapat menyusun kegiatan edukasi gizi dan berkoordinasi dengan pengawas gizi untuk memastikan materi yang disampaikan sesuai pedoman.
MBG Tak Sekadar Membagikan Makanan
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintah. BGN sebelumnya menegaskan bahwa pelaksanaan MBG terus diperbaiki, termasuk dari sisi tata kelola, efektivitas, efisiensi, hingga standardisasi pelaksanaan di berbagai daerah.
Dalam konteks tersebut, literasi gizi menjadi salah satu bagian yang diharapkan dapat memperkuat dampak program.
Anak-anak bukan hanya mendapatkan makanan, tetapi juga memahami alasan makanan tersebut diberikan dan bagaimana menerapkan pola hidup yang lebih sehat.
Edukasi juga menjadi penting karena pelaksanaan program melibatkan banyak pihak, mulai dari BGN, sekolah, guru, tenaga kependidikan, pemerintah daerah hingga pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
BGN sendiri telah memiliki ketentuan yang menempatkan edukasi dan literasi sebagai salah satu cara untuk mencegah pemborosan pangan di kelompok penerima MBG.
Hal ini menunjukkan bahwa aspek edukasi menjadi bagian dari pengelolaan program secara lebih luas.
Guru Diharapkan Jadi Penghubung BGN dan Siswa
Dengan melibatkan ratusan ribu guru pada tahap awal, BGN pada dasarnya sedang membangun jaringan edukasi yang dapat menjangkau peserta didik secara langsung.
Guru dapat menjadi penghubung antara kebijakan program MBG dengan pemahaman siswa di sekolah.
Pesan mengenai gizi seimbang dan keamanan pangan diharapkan tidak hanya disampaikan sekali, tetapi dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Jika perluasan program berjalan sesuai target, sekitar 3,5 juta guru di berbagai daerah nantinya akan mendapatkan pembekalan literasi gizi.
BGN berharap langkah tersebut dapat memperkuat tujuan MBG dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai gizi sekaligus mendukung pembentukan generasi Indonesia yang lebih sehat.
